Dari 8 Harta Karun hingga Niujie

Kompas.com - 12/05/2013, 12:22 WIB
EditorI Made Asdhiana

MENGUNJUNGI Beijing, China, bayangan Great Wall dan Forbidden City langsung jadi dua obyek tujuan wisata utama yang ingin dilihat. Keterkenalan nama keduanya sudah menjadi daya tarik yang sulit untuk dilawan dan diabaikan begitu saja ketika tiba di Beijing. Apalagi bila tiba di Beijing pagi hari dengan penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta, saat menjelang waktu shalat ashar, kedua lokasi ini sudah selesai didatangi untuk memuaskan keingintahuan.

Namun, sebelum menuju obyek wisata itu, ada baiknya mendatangi wilayah Yayun Cun dulu, untuk mencari sarapan. Di sana ada resto Hong Zhuang Yuan, yang menyajikan menu tradisional China. Cobalah ba bao zhou atau sering disebut bubur 8 harta karun. Bubur beras yang disajikan hangat ini amat nikmat buat sarapan. Apalagi jika perut sedang lapar di tengah suhu udara Beijing 3 derajat celsius pada pertengahan April lalu.

Isi ba ba zhou ini terdiri dari delapan biji-bijian yang menjadi makanan pokok masyarakat China, amat menyehatkan. Selain beras, bubur ini dibuat dari biji- bijian, seperti beras ketan, beras merah, jewawut, gandum, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau. Selain itu, sering juga disajikan dengan tambahan kelengkeng kering, kismis, dan irisan buah kering. Selain sehat, yang amat penting bagi sebagian besar penduduk Indonesia, ba bao zhou ini qiingzheen cài, secara harfiah artinya bersih, tetapi yang dimaksud adalah makanan halal.

Secara tradisional, makan ba bao zhou paling nikmat ditemani susu kedelai hangat yang disajikan dalam mangkok, dan yu tiao berukuran cukup besar. Yu tiao ini kita kenal dengan sebutan cakwe. Rasanya, perut akan terisi penuh dan punya tenaga yang cukup untuk menjelajah Tembok Besar China dan Kota Terlarang.

Jelajah

Tembok Besar China sepanjang 629 kilometer, bagian utamanya meliputi Badaling Great Wall, Simatai Great Wall, Mutianyu Great Wall, Jinshanling Great Wall, Huanghuacheng Great Wall, Juyongguan Great Wall, Jiankou Great Wall, dan Chaoyang Great Wall. Dari semua bagian tersebut, Tembok Besar di Badaling menjadi lokasi yang paling terkenal dan terawat paling baik. Dari delapan situs itu, ada tujuh lokasi yang resmi dibuka untuk umum, sedangkan Jiankou Great Wall tidak dianjurkan bagi wisatawan biasa karena alasan keamanan.

Dari tujuh situs yang dibuka untuk umum, Badaling Great Wall paling banyak dikunjungi wisatawan. Lokasinya pun boleh dikatakan masih menempel di Beijing. Di sini, bagian Tembok Besarnya terawat paling baik, dan langsung bisa dicapai dengan berjalan kaki dari lokasi parkir mobil. Namun, bagi yang tertarik dengan udara segar dan pemandangan indah pegunungan, Mutianyu Great Wall jadi pilihan tepat. Di sini, pada pertengahan April, mulai terlihat pucuk bunga sakura yang tidak lama lagi akan mekar penuh.

Dari Beijing, Mutianyu Great Wall yang terletak di Kabupaten Huairou, jaraknya sekitar 45 km yang dapat ditempuh sekitar 30 menit. Untuk mencapai Tembok Besar, pengunjung harus menggunakan kereta gantung, setelah sebelumnya berjalan mendaki sekitar 500 meter dari tempat mobil di parkir. Namun, di sepanjang perjalanan itu, kita bisa melihat suvenir menarik yang ditawarkan, dan beragam buah-buah kering yang ditawarkan pedagang yang berusia lanjut.

Bagi yang suka dengan lokasi perjalanan yang lebih menanjak dan menjelajah topografi yang terjal, tetapi menyajikan pemandangan yang fantastis, kita bisa mengunjungi Simatai dan Jianshanling Great Wall.

Puas di Great Wall, masih cukup waktu kembali ke Beijing untuk makan siang. Kawasan yang dituju adalah Niujie, yang berada di wilayah Xuanwu. Kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal komunitas Muslim terbesar di Beijing. Jadi rasanya tidak akan kesulitan untuk menemukan makanan yang halal.

Dalam pamflet yang tersedia di Masjid Niujie disebutkan bahwa kawasan ini dibangun sejak 996 Masehi, dan diperkirakan menjadi tempat tinggal bagi 10.000 warga Muslim. Tidak heran kalau di kawasan ini juga menyediakan banyak makanan halal, dan pasarnya pun menyediakan berbagai kebutuhan ibadah umat Islam, mulai dari sajadah, mukenah, tasbih, peci, kupluk, sampai minyak wangi.

Salah satu restoran di kawasan ini adalah Xinjiang Muslim Restaurant. Namun kalau mau berkunjung ke restoran halal yang bersejarah di Beijing bisa mengunjungi Restoran Kao Rou Ji, yang terletak di Taman Houhai. Restoran ini sudah menghidangkan makanan halal sejak pemerintahan Dinasti Qing (1644-1912). Menunya yang terkenal di sini adalah hidangan kambing muda panggang dan roti wijen kukus, selain hidangan itik peking. Restoran Kao Rou Ji sudah beroperasi lebih dari 340 tahun.

Seusai makan siang, sayang kalau tidak menyempatkan untuk shalat dzuhur di Masjid Niujie. Ini merupakan masjid tertua di Beijing, dan masjid ini didirikan tahun 996 selama Dinasti Liao, dan direkonstruksi serta diperbesar di bawah Kaisar Kangxi (1661-1722) dari Dinasti Qing.

Dari kawasan Niujie, sekitar 30 menit berkendara, kita bisa mencapai Kota Terlarang. Di area ini, bisa dieksplorasi secara cepat dalam satu jam. Setelah pegal berjalan, rasanya berendam air hangat di hotel menjadi amat menarik, berharap bisa mengurangi penat di badan. (Imam Prihadiyoko)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X