Kompas.com - 03/06/2013, 12:57 WIB
|
EditorTri Wahono

KOMPAS.com - Kalau Anda kebetulan mampir di Kota Manado sekarang ini di mana-mana ada tulisan kampanye antimabuk, dengan ajakan berbunyi: "Mari Jo ... Brenti Bagate."

Banyak sekali tulisan itu dan hampir ada di setiap sudut kota, pada reklame, pada poster ukuran besar maupun kecil, sehingga timbul kesan bahwa mabuk sedang benar-benar mewabah di antara masyarakat Kota Manado.

Kampanye itu didukung Pemda Manado dan badan-badan pemerintah lainnya. Tetapi entah apa yang sedang dilakukan aparat untuk mendukung warganya berhenti mabuk-mabukan itu.

Kalau kita punya waktu sedikit untuk berjalan kaki dari ujung barat sampai ujung timur Teluk Manado yang segaris dengan Boulevard Jalan Piere Tendean, maka kesan yang muncul adalah justru Pemda abai terhadap potensi yang justru bisa membantu warga menghentikan dan melupakan aksi mabuk itu.

Teluk Manado itu begitu indah, baik di pagi hari maupun petang hari. Di sana kita bisa menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Teluk Manado yang ombaknya juga tidak terlalu besar benar-benar merupakan berkah dari Tuhan untuk dipandangi atau untuk dimanfaatkan bagi kepentingan ekonomi warga.

Kalau kita berdiri di pantai Teluk Manado, kita bisa menyaksikan di kejauhan Gunung Manado Tua yang menyembul bagai segitiga raksasa dari laut. Di sebelah kanannya tampak Pulau Bunaken dan Siladen - dua lokasi yang sudah menjadi ikon wisata di Sulawesi Utara.

Tetapi berkah itu rupanya tidak disyukuri. Buktinya, hampir seluruh bibir pantai ditutupi warung kopi dan warung berbagai jenis makanan. Kasihan warga Manado yang hendak menikmati berkah Tuhan, pemandangan laut di pagi dan petang hari tadi, malah disuguhi bangunan-bangunan yang berantakan, tidak tertata rapi, terutama yang berada di belakang Bahu Mall.

Di belakang Bahu Mall itu sebenarnya juga ada Patung Ikan Laut Raja yang berpotensi menjadi ikon Teluk Manado, seperti halnya patung singa yang lama kelamaan menjadi ikon Singapura. Tapi patung ikan purba yang khas ada di Sulut itu tampak tidak diurus untuk dijadikan ikon dan tempat wisatawan domestik berfoto-foto untuk membuat kenangan indah tentang Teluk Manado.

Ke sebelah barat patung ikan itu, kita bisa berjalan di bibir pantai karena kebetulan ada floor datar di atas bebatuan besar pendukung reklamasi pantai itu. Jumat pagi, saya berpapasan dengan seorang ibu hamil yang berjalan-jalan memanfaatkan floor memanjang tersebut. Saya juga berpapasan dengan serombongan anak-anak muda berwajah Ambon sedang berlatih taekwondo.

"Selamat pagi. Kami sedang latihan taekwondo, Pak! Ini tempatnya lumayan enak," ujar salah seorang pemuda itu ketika saya mencoba menyapa mereka. Artinya ada kebutuhan warga Manado untuk menjaga kebugaran dengan memanfaatkan lokasi pantai. Namun floor itu tampak tidak dirancang atau dimaksudkan sebagai jogging track sebab ketika dilintasi sungai, floor itu buntu dan patah tidak dibuatkan jembatan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.