Ribuan Wisatawan Mengikuti Festival "Bekudo Bono"

Kompas.com - 19/11/2013, 09:27 WIB
Steve King, seorang peselancar sungai (tidal bore surfer) dari Inggris mencoba menorehkan sejarah baru dalam catatan surfing di atas gelombang sungai dengan waktu terlama dan jarak terpanjang di Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.  DOK INDONESIA.TRAVELSteve King, seorang peselancar sungai (tidal bore surfer) dari Inggris mencoba menorehkan sejarah baru dalam catatan surfing di atas gelombang sungai dengan waktu terlama dan jarak terpanjang di Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.
EditorI Made Asdhiana
PEKANBARU, KOMPAS.com - Sedikitnya 5.000 wisatawan mengikuti Festival Bekudo Bono, sebuah pergelaran wisata dibalut olahraga ekstrem, yakni berselancar di ombak sungai di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau.

"Tercatat sekitar 5.000 wisatawan yang datang untuk mengikuti festival ini, mayoritas wisatawan lokal," kata Koordinator Lapangan, Hisam Setiawan di Pekanbaru, Senin (18/11/2013).

Pemerintah Kabupaten Pelalawan menggelar festival tersebut mulai tanggal 16 hingga 22 November 2013. Kegiatan wisata dan olahraga ekstrem itu berisi beragam kegiatan mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar.

"Bono merupakan ombak yang tercipta di daerah muara Sungai Kampar karena pertemuan arus dari sungai dan laut. Tinggi gelombang bisa mencapai 10 meter lebih pada bulan ini karena pengaruh bulan purnama," katanya.

Selama tiga tahun terakhir, gelombang Bono Sungai Kampar mulai terkenal karena kerap dikunjungi peselancar nasional dan internasional. Fenomena alam itu terbilang langka karena "tidal wave" di sungai itu berdurasi lama hingga sekitar satu jam.

Dalam festival itu, panitia menggelar lomba selancar untuk kalangan profesional dan amatir. Sebanyak enam peselancar lokal dari Bali yang dipastikan berpartisipasi antara lain Marlon Gerber, Varun Tanjung, Endrik Epen, Dedi Satriadin, Iman Setiawan, Zulkarnaen Tayeb, dan Mick Curley.

"Untuk kalangan amatir, pesertanya sangat banyak sampai 30 orang yang merupakan warga setempat," katanya.

Lomba yang cukup unik pada festival kali ini adalah berselancar menggunakan sampan kayu. Hisam mengatakan, lomba ini mengadopsi kebiasaan warga sekitar yang sejak dulu menggunakan sampan untuk mengarungi ombak Bono yang kerap disebut "Bekudo Bono".

"Ada 30 perserta yang ikut Bekudo Bono dan peserta dipilih sangat selektif untuk yang sudah memahami kondisi sungai dan karakteristik Bono karena ini tidak sembarang orang bisa melakukannya," ujar Hisam.

Dia mengatakan Festival Bekudo Bono yang dipusatkan di Kelurahan Teluk Meranti, membawa keuntungan bagi masyarakat tempatan dengan banyaknya wisatawan yang datang. Desa kecil tersebut kini ramai pengunjung dan rumah-rumah warga berubah menjadi "homestay" karena penginapan yang ada tidak bisa menampung ribuan wisatawan.

"Festival ini juga menjadi uji coba untuk penyelenggaraan tahun selanjutnya, dalam segi pelayanan dan keamanannya juga," ujar Hisam.

Salah satu juri selancar Bono, Arya Subiyakto mengatakan Bono memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata dan olahraga esktrem tingkat internasional.

"Ini pertama kali digelar lomba selancar di ombak sungai di Indonesia, dan ini merupakan potensi dan kebanggaan yang perlu dikembangkan lagi," tambah Arya.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X