Kompas.com - 18/12/2013, 17:48 WIB
Ramon Bersama Annete Horschmann di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara Dok. KOMPAS TVRamon Bersama Annete Horschmann di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Rabu (18/12/2013), 100 Hari Keliling Indonesia (100 HKI) akan menampilkan episode kompilasi. Ramon Y Tungka sebagai pemandu acara, mengajak penonton untuk bertemu para tokoh di daerah yang menginspirasi selama perjalanan.

"Di episode kompilasi kali ini, Ramon mengajak penonton bertemu para putra daerah, dan seorang putri dari negeri jauh yang berjuang untuk kelestarian dan kemajuan daerahnya. Beberapa pernah muncul dalam episode 100 HKI namun ada juga yang baru pertama kali muncul, diharapkan semoga dapat menginspirasi para penonton," ujar salah satu tim 100 HKI, Tanti Malasari.

Seperti saat berada di Rumah Betang, Sungai Utik, Kalimantan Barat. Ramon bertemu dengan Raimundus Remang, Kepala Desa Sungai Utik yang juga penjaga rumah Betang.

"Keberadaan rumah betang menjadi benteng pertahanan budaya serta tradisi yang harus dijaga. Sejak tahun 1990-an, masyarakat Utik dikenal sebagai desa yang susah dibujuk oleh cukong kayu dan perusahaan kelapa sawit dari Malaysia untuk menjual hutan adatnya," ujar Tanti.

Selain Kepala Desa, Ramon juga bertemu tokoh adat Dayak Iban, Bandi Alnak Ragai atau dikenal dengan sebutan Pak Janggut. "Pak Janggut giat melindungi hutan adat sungai Utik. Namanya dikenal luas di dunia konservasi tanah air bahkan dunia, sebagai tokoh adat tradisi yang tak berhenti memperjuangkan hutan adatnya," papar Tanti.

Dok. KOMPAS TV Tokoh Adat Dayak Iban, Bandi Alnak Ragai atau dikenal dengan Pak Janggut
Beralih dari Sungai Utik, di Pulau Samosir, Danau Toba Sumatera Utara, Ramon juga bertemu dengan Annete Horschmann. Annette adalah perempuan Jerman yang jatuh cinta pada Danau Toba.

"Kecintaannya pada Toba, membuatnya menetap di Samosir selama hidupnya. Kini ia memberi pengertian kepada masyarakat untuk membuat pupuk kompos dari timbunan eceng gondok dengan cara yang sederhana dan mencontohkan membuang sampah pada tempatnya karena sampah dapat mengurangi kualitas air Toba yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat," papar Tanti.

Tokoh lain yang ditemui Ramon, lanjut Tanti adalah seorang musikus reggae dari Aceh. Aceh dengan nuansa Islam dan budaya kuat menganggap reggae adalah budaya asing dari luar. Namun Ramadhan Moeslem Arrasuly atau Made membuat reggae kian populer di Aceh. "Pelan tapi pasti musik reggae dengan dendang lagu Aceh dan Melayu dinantikan kehadirannya," ujarnya.

Dok. KOMPAS TV Musikus Reggae asal Nangroe Aceh Darussalam, Ramadhan Moeslem Arrasuly atau Made
Tim 100 HKI melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dimulai dari Jakarta menuju Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Maluku. Setelah itu, tim bergerak ke Nusa Tenggara, Pulau Bali, dan Jawa untuk kemudian kembali ke Jakarta.

Bukan hanya sekadar panorama dan keindahan bumi Indonesia yang akan dikisahkan oleh tim melainkan juga sisi budaya, masalah sosial, masalah lingkungan, dan problematika transportasi yang dihadapi Ramon selama perjalanan. Episode ini ditayangkan di Kompas TV pada Rabu (18/12/2013) jam 20.00.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.