Kompas.com - 11/10/2014, 17:35 WIB
Salah satu pintu gerbang masuk kawasan Pagoda Shwedagon di Yangon, Myanmar, Kamis (9/10/2014). Shwedagon merupakan salah satu obyek andalan untuk menarik wisatawan ke Myanmar. KOMPAS/HERU SRI KUMOROSalah satu pintu gerbang masuk kawasan Pagoda Shwedagon di Yangon, Myanmar, Kamis (9/10/2014). Shwedagon merupakan salah satu obyek andalan untuk menarik wisatawan ke Myanmar.
EditorI Made Asdhiana
JIKA Anda berkunjung ke kota Yangon, Myanmar, pastilah Pagoda Shwedagon menjadi obyek nomor wahid yang harus Anda datangi di kota itu. Penanda ibu kota Myanmar itu memang sangat mencolok dengan warna kuning emas serta tinggi stupa utamanya yang mencapai 99 meter. Pagoda itu juga menjadi tempat peribadatan paling suci untuk penganut Buddha di Myanmar.

Legenda setempat menyebutkan Pagoda Shwedagon berdiri sejak 2.600 tahun lalu yang menjadikannya sebagai pagoda bersejarah tertua di Myanmar dan dunia. Akan tetapi, sejumlah arkeolog berpendapat, pagoda itu dibangun pertama kali oleh etnis Mon, antara abad keenam dan abad ke-10 Masehi. Catatan resmi mengenai pagoda itu baru disebutkan dalam tulisan bertahun 1485.

Stupa yang dibangun etnis Mon itu diyakini roboh dan diabaikan hingga kemudian difungsikan lagi pada abad ke-14 oleh Raja Mon Binnya U dari Bago dan dibangun dengan tinggi 18 meter. Seabad kemudian, Ratu Shin Sawbu (1453-1472) menyerahkan kekayaan berupa emas seberat 40 kilogram. Emas itu dijadikan daun emas untuk menutupi permukaan stupa.

Menantu Ratu, Dhammazedi, juga menyerahkan kekayaannya dalam bentuk emas dan membangun stupa setinggi 40 meter. Stupa sengaja dibangun tinggi agar Ratu Shin Sawbu yang pada hari-hari terakhir beristirahat dalam kondisi sakit di peristirahatannya di Dagon bisa melihat puncak stupa.

Penjelasan tertulis mengenai pagoda itu ditulis di dekat bagian atas pagoda tahun 1485. Isinya mengisahkan sejarah Shwedagon dalam tiga bahasa, yaitu Pali, Mon, dan Burma. Pada masa itulah, tradisi membangun stupa di Myanmar dimulai. Sejak saat itu, Shwedagon mengalami beberapa kali pembangunan dan renovasi karena kerap menjadi korban gempa bumi, yang tercatat delapan kali hanya pada abad ke-17.

Struktur yang ada sekarang adalah hasil pembangunan ulang di masa kekuasaan Raja Hsinbyushin dari dinasti Konbaung, tahun 1769. Raja inilah yang meninggikan stupa Shwedagon hingga 99 meter. Pada 1871, Raja Mindom Min dari Mandalay menambahi bagian puncaknya (disebut hti).

Kompleks pagoda yang didirikan untuk peribadatan itu sempat beralih fungsi menjadi markas pasukan Inggris pada Perang Anglo-Burma I tahun 1824. Pada perang kedua tahun 1825, pasukan Inggris menduduki kompleks pagoda itu selama 77 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Aktivitas politik juga kerap dilakukan di Shwedagon selama masa gerakan kemerdekaan Myanmar pada abad ke-20.

Shwedagon juga bertahan dari berbagai guncangan alam, seperti gempa hebat 1930 yang menghancurkan Pagoda Schwemawdaw di Bagan. Gempa itu hanya sedikit merusak bagian stupa Shwedagon. Setelah gempa bumi ringan tahun 1970, stupa utama disempurnakan lagi.

Kompleks Pagoda Shwedagon sekarang berada di lahan seluas 5 hektar di sebuah bukit dengan ketinggian 58 meter di atas permukaan laut. Begitu besarnya pagoda itu sehingga praktis terlihat dari sisi mana pun Yangon.

Ada empat jalan masuk mengarah ke pusat pagoda itu, mengikuti arah utama mata angin. Namun, yang paling menarik adalah jalan masuk dari sebelah selatan dan timur. Pengunjung akan melewati sejumlah biara dan lapak penjual kebutuhan peribadatan. (Rakaryan Sukarjaputra dari Yangon, Myanmar)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Tips Staycation dengan Lansia Saat Pandemi Covid-19

7 Tips Staycation dengan Lansia Saat Pandemi Covid-19

Travel Tips
Masa Karantina WNI dan WNA di Indonesia Diperpanjang hingga 7 Hari

Masa Karantina WNI dan WNA di Indonesia Diperpanjang hingga 7 Hari

Travel Update
8 Tips Staycation dengan Anak di Hotel, Minta Sterilkan Kamar Dua Kali

8 Tips Staycation dengan Anak di Hotel, Minta Sterilkan Kamar Dua Kali

Travel Tips
Filipina Larang Kedatangan Turis Asing Bervaksin, Cegah Varian Omicron

Filipina Larang Kedatangan Turis Asing Bervaksin, Cegah Varian Omicron

Travel Update
Produk UMKM Indonesia Dipromosikan di Inggris dalam ISME UK Expo in Oxford

Produk UMKM Indonesia Dipromosikan di Inggris dalam ISME UK Expo in Oxford

Travel Update
Wisata Alam Diprediksi Masih Jadi Tren Wisata Tahun 2022

Wisata Alam Diprediksi Masih Jadi Tren Wisata Tahun 2022

Travel Update
3 Tips Wisata ke Bukit Pengilon Yogyakarta, Jangan Lupa Bawa Tenda

3 Tips Wisata ke Bukit Pengilon Yogyakarta, Jangan Lupa Bawa Tenda

Travel Tips
Jepang Larang Kedatangan Turis Asing untuk Cegah Varian Omicron

Jepang Larang Kedatangan Turis Asing untuk Cegah Varian Omicron

Travel Update
Hotel Santika Tawarkan Harga Promo Tahun Baru, Ada Voucer Rp 50.000

Hotel Santika Tawarkan Harga Promo Tahun Baru, Ada Voucer Rp 50.000

Travel Promo
Staycation di Hotel dengan Anak saat Nataru Tak Perlu Bawa Bukti Tes Covid-19

Staycation di Hotel dengan Anak saat Nataru Tak Perlu Bawa Bukti Tes Covid-19

Travel Update
Hotel Santika Antisipasi Peningkatan Pemesanan Kamar Jelang Nataru

Hotel Santika Antisipasi Peningkatan Pemesanan Kamar Jelang Nataru

Travel Update
Hotel Santika Wajibkan Tamu Reservasi Sebelum Renang atau Fitness

Hotel Santika Wajibkan Tamu Reservasi Sebelum Renang atau Fitness

Travel Update
Sederet Prokes di Jaringan Hotel Santika, Reservasi Dulu Sebelum Berenang

Sederet Prokes di Jaringan Hotel Santika, Reservasi Dulu Sebelum Berenang

Travel Update
Wisata Pantai Watunene Gunungkidul yang Indah dan Masih Sepi

Wisata Pantai Watunene Gunungkidul yang Indah dan Masih Sepi

Jalan Jalan
Update Daftar Daerah PPKM Terbaru di Jawa dan Bali

Update Daftar Daerah PPKM Terbaru di Jawa dan Bali

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.