Kompas.com - 28/12/2015, 12:03 WIB
Seorang penari  dari Sekaa Satya Kanthy, Desa Tegal, Kabupaten Bangli, Bali,  mengajak penonton menari pada pementasan kesenian joged bumbung, di panggung Pesta Kesenian Bali  XXXVI,  Taman Budaya, Denpasar, Senin (7/7/2014). KOMPAS/AYU SULISTYOWATISeorang penari dari Sekaa Satya Kanthy, Desa Tegal, Kabupaten Bangli, Bali, mengajak penonton menari pada pementasan kesenian joged bumbung, di panggung Pesta Kesenian Bali XXXVI, Taman Budaya, Denpasar, Senin (7/7/2014).
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com – Seperti telur dan ayam, mana yang lebih dulu ada? Mana yang lebih penting? Budaya yang melahirkan pariwisata atau pariwisata yang mengembangkan budaya?

Pariwisata akan jalan di tempat tanpa adanya industri yang menopangnya. Pariwisata tak ubahnya sepotong kue di etalase. Rasa segurih dan selezat apapun tak akan dibeli orang bila penampilannya biasa saja.

Bayangkan kue yang rasanya sebenarnya biasa saja, hanya terbuat dari adonan tepung terigu dan mentega tetapi dibungkus rapi menarik dengan pita dan ornamen bingkisan warna warni. Dijual di kafe bergengsi. Alhasil, kuenya akan menjadi laris manis walau harganya 2 kali lipat dari harga kue biasa.

Seperti itulah dunia pariwisata. Sebuah industri yang dibungkus dengan budaya, keindahan alam, jasa servis, sampai masalah gengsi. Namun industri ini tidak akan ada tanpa adanya bungkusannya.

KOMPAS/DEDI MUHTADI Kesenian tradisional Sunda digelar pada ritual ngikis di situs dan obyek wisata Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan pada masa tradisi munggahan menjelang bulan Ramadhan.
“Yang membuat pariwisata Indonesia lambat adalah kita memamerkan budaya milik orang lain," ujar Slamet Rahardjo Djarot, seorang budayawan kepada KompasTravel.

Bagi Slamet Rahardjo, melihat dunia pariwisata adalah sebuah refleksi terhadap budaya di Indonesia.

"Kalau pakaian hanya sebagai simbol seperti peragawati menjual baju-baju maka itu hanya pajangan. Sampai mati pun itu pajangan. Itu tempat jualan. Memakai busana harus sesuai jiwanya. Pariwisata Indonesia memang merupakan sesuatu yang refleksi. Berapa kuat mempertahankan kepribadian itu?" katanya.

Slamet mengaku prihatin atas derasnya pengaruh budaya luar di Indonesia. Ia membandingkan dengan beberapa negara lain seperti Jepang, Myanmar, atau Thailand. Mereka tetap bisa mempertahankan budaya lokalnya yang justru menjadi daya tarik pariwisata kelas dunia.

ARSIP KOMPAS TV Kesenian musik Tifa Suku Komoro di Timika, Papua.
“Bagaimana mereka melihat ruang waktu dan peristiwa yang berbeda dengan orang Jakarta. Kalau nanti misalnya pariwisata menjual Solo yang tidak ada di Jakarta ya pasti laku tapi kalau saya melihat yang di Jakarta juga ada ya mau ngapain ke sana," ungkap sutradara kawakan ini.

Ke depan, Slamet Rahardjo berharap, pemerintah dan kalangan industri pariwisata mulai kembali menyadari pentingnya pelestarian budaya dan alam sebagai modal utama pariwisata.
“Industri akan mengikut tetapi tidak berarti memiliki," tegasnya.

"Pariwisata itu anak kebudayaan, bukan pariwisata mengasilkan kebudayaan. Pariwisata itu adalah anak kebudayaan," tambahnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Taif, Kota Mawar di Arab Saudi yang Mekar Saat Ramadhan Tahun Ini

Taif, Kota Mawar di Arab Saudi yang Mekar Saat Ramadhan Tahun Ini

Travel Update
Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Liburan di Ngawi, Wisatawan Bisa Ikut Wisata Jeep Lewat Jalur Ekstrem

Jalan Jalan
Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Seperti Apa Pesiapan Ngawi Sambut Wisatawan Lokal Saat Libur Lebaran?

Travel Update
Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Tempat Wisata di Luar Lembaga Konservasi Dilarang Sajikan Atraksi Lumba-lumba

Travel Update
5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

5 Hotel di Bogor untuk Staycation Bersama Keluarga Saat Mudik Dilarang

Jalan Jalan
5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

5 Kota Ramah Muslim di Eropa, Pas Dikunjungi Usai Pandemi

Jalan Jalan
Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Pemugaran Benteng Pendem Ngawi Selesai 2023, Ini Rencana ke Depannya

Travel Update
Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Larangan Mudik Dikhawatirkan Sebabkan Pariwisata Anjlok Lagi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Kebun Raya Indrokilo Berlakukan Aturan Reservasi Tiket Lewat Aplikasi

Travel Update
Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Kebun Raya Indrokilo Boyolali Buka Lagi, tetapi Tutup Saat Akhir Pekan

Travel Update
Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Biasa Dibanderol Rp 9 Juta, Harga Paket Wisata Turki Kini Mulai Rp 5 Juta

Travel Promo
Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Istana Raja Thailand Ditutup Sementara Akibat Kasus Covid-19

Travel Update
Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Tahiti Hingga Moorea di Polinesia Perancis Buka Lagi 1 Mei 2021

Travel Update
6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

6 Wisata di Bogor Tengah, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran

Itinerary
Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Catat, Ide Staycation di Kota Bandung Saat Libur Lebaran 2021

Itinerary
komentar di artikel lainnya
Close Ads X