Rabu, 3 September 2014

/ News & Features

DBD Masih Jadi Masalah ASEAN

Senin, 13 Juni 2011 | 13:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih Senin (13/6/2011) ini  resmi membuka ASEAN Dengue Conference yang diikuti 150 peserta terdiri dari pejabat tinggi kesehatan dari perwakilan 10 negara anggota ASEAN, pakar kesehatan internasional, akademisi, praktisi lapangan baik dari rumah sakit maupun puskesmas.

Menurut Endang, Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi yang saat ini masih dihadapi oleh ke sepuluh negara anggota ASEAN.

"Kita menghadapi masalah yang sama dan ini merupakan masalah yang cukup lama. Di Indonesia, pertama kali ditemukan sejak tahun 1968. Kelihatannya, ini memang suatu masalah yang dihadapi bersama. Pada waktu pertemuan senior official minister 2 Juli 2010, sudah ditetapkan ada yang namanya hari Dengue ASEAN," ujarnya.

ASEAN Dengue Day sendiri baru pertama kali diadakan pada tahun ini dan akan diperingati setiap tanggal 15 Juni. Indonesia mendapat kehormatan menjadi negara pertama yang menyelenggarakannya karena tahun ini kebetulan menjadi ketua ASEAN.

Menkes memaparkan, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari ASEAN Dengue tahun ini. Pertama adalah komitmen, di mana masing-masing negara dan secara regional komit untuk berupaya mengendalikan dengue. Kalau bisa sampai pada tahap eliminasi. Kedua, komitmen membentuk jaringan, artinya bukan hanya antara pemerintah dengan pemerintah, peneliti dengan peneliti, melainkan seluruh pihak turut berperan aktif.

"Secara komunitas, kita ingin ada networking khusus untuk mengendalikan dengue ini," terangnya.

Ketiga, bertukar pengalaman. Serta yang terakhir adalah, melakukan upaya bersama misalnya dalam bentuk penelitian seperti yang sekarang ini dilakukan oleh 5 (lima) negara ASEAN, yang secara bersama-sama melaksanakan chemical trial untuk vaksin dengue.

"Saya harap adanya ASEAN Dengue Day kita bisa lebih meningkatkan lagi pencegahan penyakit ini. Walaupun banyak orang yang sakit dengue, yang meninggal itu sudah kurang dari satu persen," tegasnya.

Menkes mengatakan, DBD bukanlah suatu penyakit yang mudah diatasi. Pasalnya, penyakit ini disebabkan virus yang dibawa oleh vektor (nyamuk). Dan sangat sulit untuk mengontrol perkembangbiakan nyamuk tersebut.

Di Indonesia sendiri, sudah ada program nasional untuk pengendalian dengue. Di antaranya adalah dengan menerapkan 3M plus. Selain itu  ada pula pemberdayaan masyarakat yang melibatkan lintas sektor, termasuk pihak swasta.

"Karena ini betul-betul tidak bisa diatasi oleh satu pihak saja. Kita lihat misalnya, Singapura negara yang sudah begitu maju dan bersih masih tetap menghadapi permasalahan ini," ungkap Endang.

Untuk pengembangan vaksin, Menkes mengatakan, sejauh ini Indonesia sudah mengupayakan berbagai penelitian walaupun masih dalam tahap awal. "Nah ini sudah ada yang sampai uji klinis fase tiga. Tetapi yang lain terus berjalan, karena vaksinnya itu tidak satu jenis. Dan kita berharap kita bisa produksi sendiri," tutupnya.


Editor : Asep Candra