Kamis, 24 Juli 2014

/ Travel

Menikmati Indahnya "Sunrise" di Puncak Sinai

Sabtu, 17 Desember 2011 | 15:33 WIB

KOMPAS.com - Gunung Sinai dikenal juga dengan Gunung Musa atau Jabal Musa dalam bahasa Arab. Gunung ini dipercaya sebagai tempat di mana Nabi Musa menerima sepuluh perintah Tuhan.

Perjalanan dari Kairo ke Gunung Sinai ditempuh dengan jarak kira-kira 316 km. Perjalanan yang santai dan tidak terburu-buru ini memungkinkan kami untuk mampir ke kota Alexandria dan mengunjungi bekas bunker Israel ketika perang dengan beberapa negara arab (http://en.wikipedia.org/wiki/Six-Day_War). Juga sempat menengok kapal-kapal besar bermuatan ratusan kontainer menelusuri Terusan Suez (Suez Canal - http://en.m.wikipedia.org/wiki/Suez_Canal).

Kota-kota seperti Kairo dan Alexandria terlihat hiruk-pikuk dengan berbagai kendaraan bermotor, hampir sama dengan Jakarta, namun dengan lebih sedikit jumlah motor dan kemacetan tentunya.

Perjalanan panjang diselingi dengan sekali makan siang dan berbagai macam snack. Kebetulan di Kairo ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Indonesia. Sebelum berangkat, Kami sudah berbekal nasi padang. Nikmat sekali rasanya nasi bungkus saat itu. Ya gitu deh, walau kami berlima sama-sama hidup di rantau; dua orang kuliah di universitas Al Azhar, yang lain bekerja di Kopenhagen, Manama, dan Kairo; namun lidah tetap tidak mau pindah ke lain rasa.

Kami sampai di kaki Gunung Sinai kira-kira pada siang menjelang sore hari. Kami memang memilih penginapan yang sederhana, bukan hotel berbintang. Ini dikarenakan kami hanya berencana menginap semalam di Sinai, dan juga mengingat budget yang terbatas.

Perjalanan mendaki Gunung Sinai dimulai sekitar pukul 02.30 dini hari. Walau lelah kami tetap sangat excited untuk memulai pendakian dengan rute yang dipercaya sebagai Moses' path ini.

Kami memutuskan untuk berjalan kaki dan sampai di puncak sebelum matahari terbit. Benar-benar perlu stamina yang bagus untuk bisa mencapai puncak Sinai. Selain jalur pendakian yang panjang dan berbatu, aroma kotoran onta tersebar dimana-mana. Maaf, joke's aside, maksud saya, kalau kurang olah raga pasti cepat lelah dan bisa-bisa terlambat sampai puncak.

Terlihat banyak kumpulan orang yang juga mencoba untuk mendaki. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang naik onta. Perlu diingat, onta tidak bisa mendaki lebih jauh pada ketinggian tertentu, jadi anda harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dengan berbekal sinar bulan dan beberapa buah senter kami sampai di puncak kira-kira jam 4 pagi. Pada saat musim panas, matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama dibanding ketika musim dingin.

Di puncak terdapat gereja ortodoks yang pada saat itu dipenuhi jemaat untuk berdoa. Juga terdapat mushalla tua yang masih terawat dengan baik. Di sisi lain puncak, terlihat turis Jepang yang duduk-duduk menunggu matahari terbit. Anda pasti tahu kalau orang Jepang menyembah matahari, mungkin karena itu mereka mendaki Gunung Sinai. Beberapa orang melaksanakan shalat subuh. Senang rasanya melihat kehidupan beragama yang akur dan saling menghormati.

Saat yang dinantikan tiba. Sunrise. Matahari memamerkan cahayanya di sela-sela lapisan gunung. Biru, ungu, jingga, oranye.. wah cantik sekali. Indahnya ciptaan Tuhan.

Lelahnya perjalanan panjang cepat terlupakan. It's all worth it. Kami sempat mengagumi diri sendiri melihat jalur berbatu yang telah kami lalui. Sampai ujung kaki gunung tempat dimana penginapan kami berada pun tidak terlihat sama sekali.

Kami berencana mampir ke St. Catherine monestary (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Saint_Catherine's_Monastery,_Mount_Sinai) dalam perjalanan kembali ke penginapan. Tapi sayang tidak tersampaikan. Monestary tertutup untuk pengunjung pada hari itu.

Kami juga sempat melihat seonggok batu yang diperkirakan sebagai tempat ketika Bani Israil menyembah sapi emas. Di tempat lain terdapat juga makam Nabi Harun.

Benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi kami. Keindahan alam dan cerita-cerita jaman nabi, membuat kami berdecak kagum.  Mungkin suatu saat kami akan kembali. Who knows...

Mudah-mudahan cerita saya bisa menarik Anda untuk juga pergi mendaki Gunung Sinai. (Almeria Allen)


Editor : I Made Asdhiana