Kamis, 18 September 2014

/ Internasional

Ribuan Perempuan Mesir Protes Kebrutalan Aparat Militer

Rabu, 21 Desember 2011 | 04:25 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Ribuan demonstran yang terdiri dari para perempuan di Mesir turun ke jalan, Selasa (20/12/2011), memprotes aparat militer yang melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan. Kebrutalan aparat militer tersebut terekam jelas dalam video yang beredar di internet.

Dalam video tersebut, pasukan keamanan antihuru-hara Mesir terlihat mengejar seorang perempuan dan memukulinya berkali-kali dengan batang logam sehingga terjatuh ke tanah. Tidak cukup hanya itu, aparat menyeret pakaiannya sehingga perempuan tersebut menjadi setengah telanjang. Setelah jatuh, perempuan itu ditendang berulang kali hingga tergeletak tak berdaya di tanah, bajunya terbuka, dan bra-nya jelas terlihat.

"Mereka mengatakan bahwa mereka melindungi kami, tetapi mereka melucuti pakaian sehingga kami telanjang," demikian salah satu nada protes yang disuarakan massa. Salah satu aktivis, Um Hossam (54), yang mengenakan pakaian panjang hitam khas Timur Tengah, mengatakan bahwa perempuan tersebut bak anak perempuan sendiri sehingga menyerangnya adalah seperti melukai anak sendiri.

Jumlah demonstran yang terdiri dari kaum hawa ini tergolong jarang hingga diperkirakan sebanyak 10.000 orang. Para perempuan berasala dari berbagai kelas sosial dan agama berkumpul di Lapangan Tahrir yang bergerak ke jalan-jalan utama Kairo. Banyak yang membawa foto perempuan setengah telanjang yang sedang diseret aparat.

Desakan ini semakin menekan dewan militer Mesir yang selama lima hari terakhir didesak untuk bubar oleh para pengunjuk rasa sehingga menyebabkan kerusuhan. Dewan militer Mesir sendiri sudah meminta maaf atas tindakan aparatnya yang menyerang perempuan dengan brutal. Mereka meminta maaf kepada perempuan Mesir dan berjanji menindak oknum yang melakukannya. Namun, permintaan maaf tersebut sepertinya sudah tidak berguna.

Potret tindakan aparat militer Mesir yang tidak terpuji itu turut mendapat sorotan PBB dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Menurut Hillary, tindakan tersebut mencemarkan revolusi yang berlangsung di Mesir, mempermalukan negara dan korps, serta tidak layak untuk orang-orang yang terhormat.


Editor : Tri Wahono
Sumber: