Kamis, 24 April 2014

/ Travel

Halmahera Utara, Wisata Plus di Tepi Pasifik

Selasa, 13 Maret 2012 | 14:22 WIB

Baca juga

Oleh A Ponco Anggoro

Halmahera Utara tidak hanya masyhur lewat pulau-pulau kecil berpasir putih dan kekayaan biota lautnya. Wilayah Maluku Utara yang berhadapan dengan Samudra Pasifik ini juga sarat dengan jejak-jejak peninggalan Perang Dunia II. Berkunjung ke daerah ini bagaikan mereguk dimensi wisata alam dan sejarah.

Pasir putih terasa lembut saat kaki berpijak di pantai Pulau Kakara. Udara terasa sejuk meski matahari sedang terik-teriknya. Pohon kelapa bersama vegetasi lainnya yang berjejer di pesisir melengkapi panorama Pulau Kakara.

Di sekeliling Kakara, air laut yang jernih memungkinkan keindahan bawah lautnya terlihat jelas. Apalagi, jarak ke dasar laut yang dekat, hanya sekitar tiga meter. Terumbu karang dengan aneka ikan hias berwarna-warni menghiasi dasar laut, ditambah lagi lamun yang bergerak lembut mengikuti arus laut.

Meski lokasinya dekat dengan Tobelo, ibu kota Halmahera Utara, dan bisa ditempuh dengan perahu semang (perahu dengan alat penyeimbang atau cadik) sekitar 15 menit, Kakara menawarkan suasana yang berbeda. Hiruk-pikuk Kota Tobelo sama sekali tidak terasa. Hanya debur ombak yang terdengar.

Selain Kakara, ada lima pulau lain yang jaraknya berdekatan dan memiliki panorama tak kalah dengan Kakara. Pulau-pulau itu adalah Kumo, Tagalaya, Rorangane, Tupu-tupu, dan Tolonuo.

Menurut Yulianus Oranje (58), penjaga di Pulau Kakara, selain wisatawan lokal, turis asing pun kerap berwisata di Kakara dan lima pulau lain di sekitarnya.

Turis asing biasanya menginap di gedung Dive Center, di Kakara. Di gedung milik Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara yang mulai beroperasi sejak tahun 2009 itu, terdapat dua kamar yang khusus disediakan bagi wisatawan yang hendak bermalam.

Sesuai namanya, gedung Dive Center menjadi tempat penyewaan peralatan selam dan alat snorkeling. ”Dive Center dibuat setelah survei bawah laut pada tahun 2008,” kata Kepala Dinas Pariwisata Halmahera Utara, Erasmus Joseph Papilaya.

Survei bawah laut itu menemukan 49 titik selam yang dinilai layak jual. Titik-titik selam dengan kedalaman mulai dari 6 meter sampai 20 meter ini tersebar di sekitar Kakara, Galela, Teluk Kao, dan Pulau Doi, hingga di sekitar Pulau Morotai, sebelah utara Pulau Halmahera.

Selain beragam jenis terumbu karang dan ikan hias, seperti anemone fish, surgeon fish, unicorn fish, dan angel fish, sebagai daya tarik bawah lautnya, sejumlah keunikan lain bisa dijumpai di sejumlah titik selam. Di sekitar Pulau Tupu-tupu, misalnya, terdapat karang meja (table coral) berukuran besar. Kemudian di perairan Teluk Lisawa bisa dijumpai sedikitnya 12 titik uap panas yang keluar dari dasar laut.

Perang Dunia II

Pengalaman bercengkerama dengan alam makin lengkap jika perjalanan diteruskan ke Teluk Kao. Di dasar lautnya bisa dijumpai sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II (1939-1945). Di sini terdapat jejak pasukan Jepang, seperti bangkai pesawat, meriam, dan drum-drum tempat menampung bahan bakar yang kini telah menjadi rumah ikan.

Paling sedikit sepuluh titik sisa-sisa Perang Dunia II di Teluk Kao. Karena itu, ke depan pemerintah setempat berencana menjadikan teluk itu museum bawah laut.

Semasa Perang Dunia II, Teluk Kao menjadi tempat pelarian pasukan Jepang saat Morotai dikuasai pasukan sekutu. Konon, karena banyaknya kapal Jepang di Teluk Kao, ditambah lagi banyaknya pasukan Jepang di sana, kawasan itu pernah disebut sebagai Tokyo kedua.

Sisa-sisa peninggalan pasukan Jepang itu tidak hanya di bawah laut. Di permukaan Teluk Kao masih terlihat bangkai kapal Tosimaru, kapal yang semasa Perang Dunia II digunakan sebagai kapal barang. Selain itu, di Galela dan Kao tersebar meriam dan bungker. Salah satu bungker bahkan memiliki panjang 20 meter dan terdiri dari beberapa ruangan.

Menurut Papilaya, di Halmahera Utara terdapat 59 obyek daya tarik wisata. Obyek wisata itu tidak semata wisata bahari dan sejarah, tetapi juga pemandian air panas, danau, dan air terjun. Beragamnya obyek wisata ini diyakininya bisa terus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Halmahera Utara.

”Sejak tiga tahun terakhir, jumlah wisatawan asing terus meningkat. Jika sebelumnya hanya sepuluh orang per bulan, sekarang bisa 50 orang per bulan,” katanya.

Wisatawan ini datang dari sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Jepang.

Meski jumlah wisatawan terus meningkat, tidak perlu khawatir kehabisan tempat bermalam. Penginapan banyak tersebar di Tobelo. Namun jika menginginkan penginapan yang jauh dari keramaian, berlokasi di tepi pantai, dan merasakan tidur di rumah tradisional Halmahera Utara, Kupa-kupa Beach Cottage di Pantai Kupa-kupa bisa menjadi pilihan.

Penginapan tradisional

Ada empat cottage, dua cottage di antaranya berarsitektur rumah tradisional Halmahera Utara. Rumah itu berupa rumah panggung dengan atap dari pelepah sagu, dinding bambu, dan berlantai kayu papan. Di tempat ini pula, makanan-makanan khas Halmahera Utara bisa dirasakan.

”Hampir setiap bulan, ada turis asing, seperti dari Jerman, Belanda, dan Australia, yang menginap. Biasanya mereka menginap sampai dua hingga tiga minggu,” tutur Ona Rongalaha, pemilik cottage, yang mematok harga menginap di cottage-nya seharga Rp 150.000 sampai Rp 250.000 per malam.

Dibangunnya cottage ini merupakan buah keuletan dan kreativitas Ona. tahun 2002, dia hanya menjual pisang goreng bagi wisatawan yang datang ke Pantai Kupa-kupa. Dari hasil itu, warga Kupa-kupa ini bisa membeli tanah di tepi pantai, kemudian tahun 2006 mulai membangun cottage, hingga akhirnya kini memiliki empat cottage.

Dengan segala potensi yang ada, Halmahera Utara mencoba terus memikat wisatawan.

Sail Morotai

Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yang akan dihadiri 3.000 orang dari segala penjuru Nusantara dan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa bakal digelar April. Selain itu, pada September 2012 diselenggarakan Sail Morotai. Dua peristiwa ini bisa menjadi momentum besar untuk memikat wisatawan.

Rumah adat hibualamo, rumah adat Halmahera Utara, terdiri dari empat pintu masuk menghadap ke empat mata angin, melambangkan keterbukaan masyarakat Halmahera Utara. Berpegang pada filosofi rumah adat ini, maka, siapa saja yang datang ke sini niscaya akan diterima dengan ramah.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: