Sabtu, 25 Oktober 2014

/

SAIL KOMODO 2013

Mempertegas Kekuatan Wisata NTT

Jumat, 30 November 2012 | 06:52 WIB

Sail Komodo berlangsung 28 Juli-9 September 2013. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan pemerintah pusat telah melakukan berbagai persiapan pembenahan sejumlah infrastruktur pendukung. Sail Komodo melalui dua jalur, yakni utara dan selatan Nusa Tenggara Timur.

Sail Komodo 2013 juga merupakan tahun kunjungan Flores, Sumba, Lembata, Timor, Rote, dan Alor (Flobamora). Tahun 2013 ditargetkan menjadi titik kebangkitan industri pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT). Total kunjungan satu juta wisatawan pada 2013 bakal tercapai.

Kepala Seksi Promosi dan Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT Bonafentura Rumat di Kupang, Minggu (23/9), mengatakan, pembenahan infrastruktur pendukung di setiap destinasi dan sumber daya manusia melibatkan semua pihak, baik pemerintah daerah maupun swasta.

”Pemerintah dan masyarakat NTT bertekat membangun industri pariwisata sebagai kekuatan ekonomi-kreatif baru di daerah ini, sama seperti Nusa Tenggara Barat dan Bali yang sudah maju di bidang ini. Kekuatan nilai jual komodo menjadi lokomotif industri wisata di daerah ini,” kata Rumat.

Persiapan Sail Komodo 2013 antara lain pembenahan dermaga di setiap titik singgah, air bersih, listrik, guide, penginapan, serta informasi yang tepat dan akurat. Selain itu, juga pusat-pusat cendera mata khas daerah, atraksi budaya masyarakat, dan persiapan masyarakat menyambut peserta Sail Komodo.

Ada dua jalur Sail Komodo NTT, yakni utara, mulai dari Kupang, Alor, Lembata, Flores Timur, Maumere, Ende, Riung, hingga Labuan Bajo, serta selatan, mulai dari Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Waingapu, Sumba Barat Daya, Borong, hingga Labuan Bajo.

Provinsi ini memiliki obyek wisata komplet. Jika NTB dan Bali menjual keindahan pantai yang kemudian dikemas dengan sejumlah budaya dan kreativitas masyarakat lokal, NTT justru lebih lengkap dengan komodo yang tidak ditemukan di dua provinsi itu.

Keterlambatan NTT membangun industri pariwisata disebabkan oleh kelemahan pengambil kebijakan sebelumnya. Mereka tidak melihat NTT secara utuh dan menyeluruh, tetapi selalu terkotak-kotak.

Kini, titik kekuatan industri pariwisata NTT adalah komodo di Labuan Bajo. Letaknya yang berdekatan dengan Lombok, NTB, berpotensi sebagai jembatan emas-poros wisata Bali, NTB, dan NTT atau sebaliknya. Melalui komodo, daya tarik dan kekuatan ekonomi obyek wisata lain di NTT lebih dipertegas.

”Kami memanfaatkan momen Sail Komodo untuk mendongkrak kunjungan ke obyek wisata lain di 21 kabupaten/kota di NTT. Semua pihak dilibatkan dalam kesempatan ini,” kata Bona.

Tidak berpengaruh

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT I Dewa Made Adnya mengatakan, kegiatan Sail Komodo tidak berpengaruh langsung terhadap ekonomi suatu daerah. Peserta Sail Komodo lebih banyak dijamu pihak tuan rumah, yakni pemerintah dan masyarakat. Biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar ketimbang pemasukan dari para turis yang datang.

”Kapal pesiar jauh lebih menguntungkan ketimbang program Sail Komodo. Februari 2013 sebuah kapal pesiar dari Perancis bernama The Franc`s akan tiba di Kupang membawa sekitar 300-400 orang. Mereka melakukan tur wisata ke NTT, yakni Larantuka, Ende, Waingapu, Sumba Barat Daya, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo,” kata Adnya.

Kegiatan Sail Komodo lebih berdampak politik ketimbang pariwisata itu sendiri. Sail Komodo bisa berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat jika disajikan secara benar-benar serta menyenangkan peserta, termasuk menjamu peserta, persiapan infrastruktur, dan paket wisata yang disajikan.

”Sebuah Sail Komodo berpengaruh bila semua kenangan indah itu disosialisasikan, diteruskan, dan diceritakan oleh peserta Sail Komodo ke negara lain atau sesama wisatawan. Jika tidak, hal itu sama sekali tidak berguna,” ujar Adnya.

Ia mengatakan, sejak Sail Komodo diselenggarakan di Indonesia (2006), para turis asing selalu singgah di NTT, yakni Teluk Kupang, sebagai titik awal masuk Indonesia. Ratusan turis asing dari puluhan negara singgah di sejumlah kabupaten di NTT, tetapi mereka tetap tidur di kapal dan dijamu pemerintah daerah setempat serta menyaksikan atraksi budaya lokal secara gratis.

”Kalau Sail Komodo sekadar menambah jumlah kunjungan wisatawan asing, silakan. Namun, meningkatkan ekonomi masyarakat secara langsung, sulit. Kita bicara dari pengalaman selama beberapa tahun Sail Komodo di sejumlah kabupaten di NTT,” kata Adnya.

Ia pun menyesalkan, pihak pemerintah daerah dan penyelenggara Sail Komodo 2013 sampai hari ini tidak pernah membicarakan persiapan acara tersebut bersama Asita. Padahal, peran Asita NTT cukup signifikan dalam meningkatkan kehadiran turis asing ke wilayah itu.

Asita menyelenggarakan direct promotion pariwisata NTT di Bali yang diikuti sejumlah perusahaan perjalanan pariwisata dari NTT dan perusahaan perjalanan pariwisata dari Bali. Empat perusahaan perjalanan pariwisata NTT yang selalu aktif adalah Oceania, Floresa Wisata, Trans Nusa, dan Komodo Adventure.

”Dalam pertemuan itu terungkap bahwa perusahaan perjalanan pariwisata di Bali ingin membangun kerja sama dengan perusahaan perjalanan pariwisata NTT asal pihak NTT benar-benar memperlakukan tamu mereka seperti yang diperlakukan di Bali. Jika tamu yang dikirim ke NTT itu diperlakukan kurang memuaskan, hal tersebut juga berdampak buruk terhadap perusahaan pariwisata di Bali,” kata Adnya. (KORNELIS KEWA AMA)


Editor :