Jangan Cuma Barista, Profesi Ini Juga Cocok buat Milenial - Kompas.com

Jangan Cuma Barista, Profesi Ini Juga Cocok buat Milenial

Muhammad Irzal Adiakurnia
Kompas.com - 06/12/2017, 13:40 WIB
Universitas Darma Persada (Unsada) lewat Amazing Japonism: Pengalaman Upacara Minum Teh memperkenalkan tradisi minum teh bagi masyarakat Jepang atau biasa disebut Sado/Chado/Chanoyu. Acara melibatkan Junior Chamber International (JCI) Japan ini digelar di Kampus Unsada, Minggu (21/8/2016). Dok Unsada Universitas Darma Persada (Unsada) lewat Amazing Japonism: Pengalaman Upacara Minum Teh memperkenalkan tradisi minum teh bagi masyarakat Jepang atau biasa disebut Sado/Chado/Chanoyu. Acara melibatkan Junior Chamber International (JCI) Japan ini digelar di Kampus Unsada, Minggu (21/8/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com – Terampil membuat kopi dengan berbagai biji kopi dan caranya membuat barista kini jadi tren kaum milenial. Padahal ada profesi lainnya, yang tak kalah seru untuk mengeksplor hasil alam Indonesia, menjadi sebuah hidangan terbaik.

Mungkin baru sedikit milenial yang tertarik menekuni hobi atau profesi sebagai ahli teh, atau tea sommelier. Padahal keseruannya tak jauh berbeda dengan barista dalam hal meracik kopi.

Terlebih Indonesia juga banyak menghasilkan teh-teh yang cukup berkualitas. Hasil teh dari berbagai tempat di Indonesia juga tak kalah beragam, seperti kopi, dan masih banyak yang perlu dieksplorasi dan diteliti.

Geographic identity dari teh di Indonesia itu sekarang baru mulai tahap pendataan dan pendaftaran. Belum banyak yang tahu karakter teh dari masing-masing daerah,” ujar Bambang Larensolo, seorang tea sommelier yang ditemui KompasTravel dalam pameran SIAL Interfood, Kamis (23/11/2017).

(Baca juga : Kenapa Teh Indonesia Kalah Terkenal di Dunia daripada Kopinya?)

Menurut Bambang yang kini menjadi pengajar para pegiat teh, tea sommelier merupakan perpaduan dari barista dan wine sommelier. Karena tea sommelier selain belajar untuk memproses teh hingga menyajikannya, juga belajar banyak ragam budaya teh dari berbagai tempat.

“Teh di dunia itu sangat beragam budayanya, ada japanese tea, korean tea, european tea, tiap budaya di beberapa daerah punya sejarahnya juga, itu yang nanti mempengarui proses pembuatan dan penyajian teh seorang tea sommelier,” kata Bambang.

(Baca juga : Ribut Cendol Diklaim Malaysia, tetapi Minumnya Teh Thailand)

Ia menceritakan keseruan-keseruan menjadi seorang tea sommelier. Seperti layaknya barista, tea sommelier pun belajar dari kebun teh, bagaimana cara melihat teh yang berkualitas, bagaimana memanen teh yang benar.

Lalu mengetahui di mana saja daerah yang memiliki teh berkualitas, mengelompokkan teh berdasarkan cita rasa khasnya. Setelah itu, masuk ke industri teh dengan menguasai berbagai macam alat teknologi pembuatan teh.

“Sampai tea service and preparation. Nanti mereka (tea sommelier) belajar food pairing tea, hingga menyajikan teh dalam berbagai kebudayaan, teh ala jepang, teh ala china, dan lainnya,” tutur Bambang.

Tea food pairing, merupakan salah satu ilmu penyajian teh yang digabung dengan makanan lain. Agar teh terasa spesial, harus diinovasikan dan dikreasikan dengan berbagai hidangan, tapi tak semua bisa digabungkan dengan teh.

Kini, tea sommelier di Indonesia masih sangat minim sekali. Sedangkan hasil teh Indonesia dari berbagai daerah cukup potensial.

Sehingga teh Indonesia masih memerlukan banyak tea sommelier untuk maju ke tingkat dunia, seperti halnya kopi.

PenulisMuhammad Irzal Adiakurnia
EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM