Mamam Yuk! Bertualang Kuliner di Kampung Halaman Jokowi - Kompas.com

Mamam Yuk! Bertualang Kuliner di Kampung Halaman Jokowi

Kompas.com - 06/02/2018, 22:00 WIB
Nasi Liwet Bu Sri di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah. KOMPAS.com/ Lulu Cinantya Mahendra Nasi Liwet Bu Sri di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Solo, Jawa Tengah selain terkenal dengan budaya Jawa juga terkenal dengan kuliner yang mantap. Oleh karena itu, selama dua hari penuh, Kompas Travel mengadakan liputan di kampung halaman Presiden RI, Joko Widodo.

Hasil liputan adalah video dalam program Mamam Yuk! Pada epidosede pertama Kompas Travel mengulas kuliner Solo yang terdiri dari Timlo Sastro, Bestik Pak Pur, dan Susu Shi Jack.

Pada episode ke dua, Kompas Travel bergeser ke Pasar Gede Harjonagoro. Pasar ini menjadi menjadi salah satu destinasi wajib dikunjungi bagi para petualang kuliner di Solo. Kuliner apa saja yang dimuat di 'Mamam Yuk! Kuliner Kampung Jokowi' episode dua?

Baca juga : Mamam Yuk! Ini 3 Kuliner Wajib Coba di Kampung Halaman Jokowi

1. Nasi Liwet Bu Sri

Inilah salah satu nasi liwet legendaris di Solo dengan rasa yang mantap. Anak Bu Sri yang kini meneruskan usaha almarhumah ibunya sendiri tidak tahu sejak kapan usaha ini dimulai, yang ia tahu hanyalah resep nasi liwet legendaris sang ibu.

(Baca juga : Dari Manakah Tradisi Makan Nasi Liwet Ramai-ramai?)

Daun pisang menurut anak Bu Sri menjadi penjaga cita rasa nasi. Jangan lupahkan areh, suwiran ayam kampung rebus, sayur labu, dan telur pindang yang membuat hidangan ini sangat seimbang dari segi rasa.

Harga sepincuk nasi liwet Bu Sri dihargai Rp 9.000. Patokan asi Liwet Bu Sri berjualan adalah di bagian luar Pasar Gede yang menjual buah. Ia berjualan di pojok dengan meja sederhana dan kursi plastik.

Tahok Pak Citro di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah. KOMPAS.com/ Lulu Cinantya Mahendra Tahok Pak Citro di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.

2. Tahok

Tak jauh dari Nasi Liwet Bu Sri, ada Pak Citro yang menjual tahok. Tahok adalah camilan khas China yang mengenyangkan. Terbuat dari sari kacang kedelai dan disantap dengan air jahe gula.

(Baca juga : 6 Hidangan Legendaris Solo di Pasar Gede)

Di banyak daerah, tahok diesbut pula kembang tahu. Pak Citro berjualan tahok dari tahun 1968, buka dari pukul 06.00 WIB dan biasa habis pukul 12.00 WIB. Satu mangkung tahok yang isinya dihargai Rp 6.000.

Suasana sekitar warung es Dawet Telasih Bu Dermi  di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Jawa Tengah, Jumat (22/7/2016). Semangkukk es dawet telasih ditawarkan dengan harga Rp 8.000.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Suasana sekitar warung es Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Jawa Tengah, Jumat (22/7/2016). Semangkukk es dawet telasih ditawarkan dengan harga Rp 8.000.

3. Dawet Telasih Bu Dermi

Ada banyak kios dawet telasih di Pasar Gede, tetapi yang paling ramai adalah Dawet Telasih Bu Dermi. Mbak Uti adalah nama cucu Bu Dermi yang kini meneruskan usaha keluarga tersebut. Ia mengaku tak tahu pasti kapan neneknya berjualan, tetapi banyak orang yang mengatakan sejak Pasar Gede berdiri, sekitar tahun 1930.

(Baca juga : Yuk, Coba Es Dawet Legendaris Langganan Jokowi di Pasar Gede Solo)

Cobalah kesegaran es dawet telasih komplit yang terdiri dari ketan item, cendol, bubur sum sum, gula putih, dan tape ketan. Dihargai Rp 9.000 per mangkuk. Untuk menyantap es dawet ini perlu antre, tetapi kecepatan Mbak Uti meracik es dawet telasih tak perlu diragukan. Bahkan Presiden RI, Joko Widodo juga gemar menyantap es dawet telasih ini.

Sate kere buatan Mbak Tugiyem di Solo, Jawa Tengah. Sate ini merupakan kegemaran Presiden RI, Joko Widodo.KOMPAS.com/ Lulu Cinantya Mahendra Sate kere buatan Mbak Tugiyem di Solo, Jawa Tengah. Sate ini merupakan kegemaran Presiden RI, Joko Widodo.

4. Sate Kere Mbak Tug

Sate Kere Mbak Tug tidak berada di kawasan Pasar Gede, melainkan di Jalan Arifin No 63. Tepatnya di parkiran Depot Es Nini Thowong.

Sate Kere diperkirakan muncul pertama kali pada zaman kolonial Belanda di Pasar Klewer. Kere sendiri dalam Bahasa Jawa berarti miskin. Masyarakat yang tak mampu membeli daging untuks ate kala penjajahan, akhirnya memilih bahan alternatid yang lebih murah, tempe gembus dan jeroan.

(Baca juga : Sate Kere, Lambang Kreativitas di Zaman Penjajahan)

Mbak Tugiyem dan suami adalah tukang sate kere langganan keluarga Jokowi. Rasa satenya memang lezat dengan bumbu kacang yang agak pedas dan medok rasanya. Satu tusuk sate tempe dihargai Rp 1.500, 10 tusuk sate jeroan dihargai Rp 22.000, dan lontong dihargai Rp 3.000. Siap siap mengantre jika membeli sate kere Mbak Tugiyem yang terkenal di kalangan warga Solo. 


EditorWahyu Adityo Prodjo
Komentar

Close Ads X