Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sri Lanka yang Merangkak Naik sebagai Destinasi Wisata Asia

Kompas.com - 01/08/2016, 15:04 WIB
Kontributor Travel, Fira Abdurachman

Penulis

SRI Lanka adalah negeri kecil eksotis di kawasan Asia. Kekayaan alam sebagai modal utama pariwisatanya berjejer di pesisir selatan. Peninggalan sejarahnya berserakan di setiap kota.

Negara yang berbatasan dengan India ini seolah sudah lelah dengan konflik yang kepanjangan. Hampir 30 tahunan mereka harus bersitegang. Kini Sri Lanka mulai menyadari pentingnya mengembangkan dunia pariwisata di mata dunia.

Langkahnya dimulai dengan memberikan kemudahan permohonan visa. Termasuk bagi warga negara Indonesia cukup membayar 35 dollar AS untuk Visa On Arrival. Visa bisa diajukan melalui online maupun saat tiba di bandara di Sri Lanka.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Pantai di Sri Lanka merupakan daya tarik untuk mendatangkan wisatawan.
“Baru 2 tahun belakangan ini kami mulai belajar dunia turis. Bagaimana memenuhi selera turis internasional. Biasanya hanya kota Kandy saja yang ramai. Sekarang mereka mulai menyebar di banyak kota”, ujar Nias, salah seorang manajer hostel di kota Kandy, Sri Lanka.

Kepada KompasTravel, Nias menyadari masih banyak yang harus diperbaiki untuk membuat para turis senang. “Kandy memang kota paling favorit karena kami selalu ramai didatangi turis setiap tahun. Kalau kota lain, penduduknya masih mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari turis," ucap Nias.

Berdasarkan pengalaman KompasTravel, informasi tentang Sri Lanka masih sangat minim. Baik dari luar maupun dalam negerinya sendiri. Informasi terkait dunia pariwisata dan kebutuhan wisatawan kebanyakan justru dari mulut ke mulut. Ditambah referensi dari internet. Itu juga tidak banyak.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Turis di Kota Arunadhapura, Sri Lanka.
Informasi detil yang kosong sering menggangu para turis. Seperti petunjuk transportasi antar kota yang minim, tiket masuk atraksi yang tidak jelas, peta dan informasi kota, terpenting juga adalah kerja sama antar para pelaku dunia usaha pariwisata.

Selain itu para wisatawan belum dimanjakan oleh pernak-pernik lokal yang menarik seperti belanja suvenir. Wisatawan biasanya nekat ke pasar tradisional dan harus mencari tahu sendiri tempat dan harga barang khas lokal yang ingin dibeli. Aksi panggung seperti tarian tradisional atau kelas memasak juga masih sulit ditemukan.

Eksotisme Sri Lanka masih bisa dibilang perawan. Pantainya masih sepi dari kerumunan para penjual suvenir dan jejeran hotel megah. Para wisatawan masih mudah berinteraksi dengan warga lokal, walau keramahannya masih harus bersaing dengan negara Asia lainnya.

Bangunan-bangunan bersejarahnya juga masih kosong. Hingga para turis kadang lupa bahwa mereka adalah turis. Semua menjadi menantang dan lebih enak untuk dijalani sendiri.

Harga juga jangan ditanya. Masih sangat murah dibanding Indonesia atau kota-kota besarnya. Sekali makan di restoran atau kafe, rata-rata sekali makan hanya menghabiskan 300-500 rupee atau senilai Rp 30.000 - Rp 50.000. Kedai biasa bisa lebih murah.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Stupa, tempat ibadah masyarakat sebagai daya tarik pariwisata di Sri Lanka.
Transportasi  juga sama. Perjalanan bus antar kota selama sekitar 5 jam, bus reguler harga tiketnya sekitar 250 rupee atau senilai Rp 25.000. Bus dalam kota biasanya 10 - 20 rupee atau seharga Rp 1.000 – Rp 2.000.

Bagi para pecinta petualangan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjelah Sri Lanka. Sebelum, konsumerisme ala turisme menyerbu dan mengubah Sri Lanka dari keasrian dan keaslian negara Ceylon. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com