Titik Nol (35): Mata Buddha

Kompas.com - 19/09/2008, 07:44 WIB
Editor

Sudah lama saya ingin ke Bhutan, negeri misterius di ujung lekukan Himalaya. Tetapi aturan visa yang susah dan mahal menyebabkan hanya turis berkantung tebal yang umumnya bisa masuk.
 
Nuansa ibadah yang lebih kental terasa di sekeliling stupa raksasa Boudhanath, salah satu mandala Budha terbesar di dunia. Bentuknya mirip stupa Swayambhunath, tetapi ukurannya jauh lebih besar.

Seorang bikuni tua dalam jubah merah marun memutar silinder roda doa raksasa.. Setiap satu putaran, lonceng berdenting. Di sekuju roda doa ini berukir mantra-mantra. Mereka percaya dengan memutar roda doa satu kali, seluruh mantra yang terukir di permukaan roda akan langsung terkirim ke langit.

Lautan manusia mengalir berkeliling. Mulut melantunkan mantra, tangan memutar tasbih atau roda doa, dan kaki terus melangkah. Suasana Tibet sangat kental di sini.

Sejak berabad silam, tempat ini sudah menjadi pusat komunitas para pedagang Buddha Tibet di Kathmandu. Tahun 1950’an, daerah ini sekitar stupa Boudhanath menjadi tempat penampungan pengungsi Tibet yang melarikan diri dari Tentara Pembebasan Rakyat.

Di Tibet sana, orang tak boleh bicara sama sekali tentang ide kemerdekaan. Dalai Lama dan Panchen Lama pilihannya adalah hal yang tabu dibicarakan. Yang harus dipuji adalah modernisasi, pembangunan di mana-mana, dan kemakmuran yang dibawa oleh pembaharuan dan revolusi.

Tetapi begitu sampai di Nepal, orang Tibet langsung lantang bicara. Foto Dalai Lama terpampang di mana-mana. Di sekeliling Boudhanath, saya melihat banyak selebaran bergambar Gedhun Choekyi Nyima, Panchen Lama pilihan Dalai Lama Tenzin Gyantso, yang sejak berada dalam ‘pemeliharaan pemerintah China’ sampai sekarang tak diketahui di mana rimbanya. “His Holyness Panchen Lama XI – Tahanan [Politik] Termuda di Dunia”.. Kaos bertuliskan slogan “Free Tibet” juga sangat populer, terutama di kalangan turis asing yang terfantasi akan perjuangan kaum tertindas, menyuarakan jeritan orang Tibet di pengungsian ini.

Nuansa perjuangan pembebasan Tibet, yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, begitu kental di sini. Seorang pengungsi, berumur tiga puluhan, menceritakan perjuangannya melarikan diri dari melintasi gunung tinggi, menghindari terjangan peluru tentara perbatasan China yang tak segan membunuh, berjalan berhari-hari di puncak salju tanpa makan dan minum, hanya untuk merengguk kebebasan di luar negeri.

Kisah seperti ini cukup lazim di sini. Tetapi setelah mengalami kejadian dengan ‘Guru Rinpoche’ kemarin di New Road Kathmandu, saya sadar bahwa tidak semua cerita serupa bisa dipercaya seratus persen.

Pasang mata Budha menatap tajam di puncak mandala Boudhanath. Mata Budha yang menatap penuh misteri. Tuhan maha melihat, Tuhan maha mengetahui. Manusia terus merayap, mengalir mengitari stupa dengan segala macam doa dan harapan. Hidup di pengasingan ini mungkin bukan yang terbaik buat mereka, tetapi mereka terus mengharap yang terbaik.

(Bersambung)

_______________
Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus  Wibowo di Kompas Forum. Buruan registrasi!

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X