Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Titik Nol (84): Ajmer Sharif

Kompas.com - 27/11/2008, 06:25 WIB
Editor
[Tayang:  Senin - Jumat]

Sebelas kilometer dari Pushkar yang menjadi kota sucinya umat Hindu, Ajmer Sharif adalah salah satu kota paling suci bagi umat Muslim India. Di sini, guru Sufi Chishsti bersemayam dan raja-raja Afghan menghancurkan patung-patung berhala Jain.

India, walaupun namanya Hindustan dan mayoritas penduduknya beragama Hindu, bukanlah negara Hindu. Di sini, beragam agama dan kepercayaan kuno terlahirkan, jauh sebelum datangnya Kristen dan Islam. Jain, agama asli India sudah ada sejak beratus tahun sebelum Masehi, masih hidup hingga hari ini, dengan sisa-sisa kebesaran masa lalunya.

Kuil Merah Nasiyan di kota Ajmer membuat saya ternganga.

          “Seumur hidupmu, engkau tak akan pernah melihat tempat seindah ini,” kata bapak tua penjual karcis.

Ia benar. Saya tak pernah begitu terpesona melihat sebuah kuil seperti saat ini.

Ruang utama Nasiyan disebut Swarna Mandir, Kuil Emas, karena segala sesuatu yang berkilau di sini adalah ... emas. Sebuah negeri dongeng, penafsiran dunia dalam mitologi Jain, kota kuno Ayodhya dan Prayoga, terukir dari seribu kilogram emas murni setinggi bangunan dua lantai. Negeri antah berantah ini dijuluki Swarna Nagari – Negeri Emas.

Ada istana berkubah besar dengan raja dan hulubalangnya. Ada pandita Jain sekte Digambar yang tak berpakaian sama sekali. Ada para penari wanita dengan rok besar mengembang, memberikan persembahan pada sang ningrat. Ada kota besar dan ramai oleh hiruk pikuk segala jenis manusia. Ada tentara yang berbaris. Juga perahu terbang dengan nahkodanya, mengelilingi angkasa di sekeliling menara zigurat raksasa.

Emas, emas, dan hanya emas. Dunia Jain ini terpahat begitu megah, detail, estetis, menggiring ke alam fantasi dan membangkitkan semua daya imajinasi. Selain pahatan emas, ada pula lukisan, ukiran kayu, menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dalam mitologi Jain.

Saya tak tahu banyak tentang Jain kecuali Mahavira, seorang tirthankar atau nabi sekte Digambar yang selalu bertelanjang bulat. Biksu Digambar beranggapan bahwa pakaian juga barang duniawi, dan moksa akan tercapai salah satunya kalau kita sudah melepaskan segala macam keterikatan. Kuil Nasiyan ini dibangun untuk menghormati tirthankar pertama agama Jain, sang guru pendiri,  Risabha.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+