Beng Gam dan Kejayaan Molenvliet

Kompas.com - 22/04/2009, 15:48 WIB
Editor

KOMPAS.com — Melaju di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk dari arah Harmoni terus ke utara, seperti napak tilas sejarah perkembangan Jakarta. Di sepanjang Molenvliet berceceran kisah sejarah di kala Jakarta masih bernama Batavia. Keberadaan Batavia atau Jakarta kini tak lepas dari peran penting warga Tionghoa.

Adalah Phoa Beng Gam atau Phoa Bing Gam, kapitan kedua setelah Souw Beng Kong. Batavia pada paruh abad ke-17 adalah rawa-rawa, sarang malaria hingga penduduk banyak menderita penyakit. Untuk mengeringkan rawa itu setiap sore, bersama sekretarisnya, ia dan petani Tionghoa berkeliling pergi membuat peta. Dari peta itu kemudian pada 1648 ia membangun kanal dari harmoni hingga Gajah Mada dan berbelok ke Jalan Labu, sebelah Lindeteves, di mana ada pabrik mesiu.

Dalam buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia disebutkan, kanal buatan itu membelah Jalan Molenvliet Oost (Jalan Gajah Mada) dan Molenvliet West (Jalan Hayam Wuruk). Jadilah kanal itu diberi nama Kanal Molenvliet sebagai penangkal banjir.

Pemerintah Belanda, VOC, kala itu baru turun tangan membantu penggalian kanal dari Harmoni ke Pejompongan membelah Jalan Noordwijk (Jalan Juanda) dan Jalan Rijkswijk (Jalan Veteran) pada 1661 dan pada saat itulah nama Molenvliet mulai digunakan. Kanal itu dihubungkan dengan Sungai Ciliwung di Pintu Air, Desa Cemara, dekat Masjid Istiqlal. Kanal ini mengalir melewati Pasar Baru Selatan, Gunung Sahari menuju Ancol.     

Sumber pertama buku ini, majalah Pantja Warna tahun 1951, menunjukkan, selain sebagai pencegah banjir, kanal juga itu berfungsi sebagai alat transportasi angkutan kayu dan bata, gula, dan lainnya dari pedalaman ke Pasar Ikan. Atas jasanya, Beng Gam pun mendapat tanah luas di Tenabang atau Tanah Abang.

Molenvliet (Jalan Penggilingan) juga menyisakan banyak bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri. Gedung yang kini bernama Gedung Arsip adalah rumah milik Reiner de Klerk, menjadi gubernur jenderal pada 1777-1780, yang dibangun pada 1760. Rumah ini, menurut Adolf Heuken, menjadi satu-satunya rumah yang masih tersisa dari begitu banyak buitenverblijven atau rumah luar kota—sekitar abad ke-18, kawasan ini merupakan kawasan elite sebelum berganti ke Weltevreden—yang pernah dibangun di sepanjang Molenvliet.

Sementara itu, Scott Merrillees memaparkan tempat-tempat peristirahatan (hotel) dan tempat-tempat penting yang tumbuh di sepanjang Molenvliet. Selain Gang Ketapang, di mana terdapat pabrik gas pertama di Batavia, Harmonie, dan Hotel des Indes, Merrillees juga mencatat keberadaan Hotel Ernst di ujung Molenvliet Oost (Jalan Hayam Wuruk) dan Noordwijk (Jalan Juanda). Sebelum menjadi hotel, bangunan itu adalah milik PA van de Parra, yang kemudian menjadi gubernur jenderal (1761-1775). Di tahun 1890 berubah nama tempat itu menjadi Hotel Wisse hingga bangunan ini dihancurkan pada 1920.
 
Toko pakaian pria "Bazar" di Jalan Gajah Mada, Marine Hotel di ujung Molenvliet West (kini di samping Gedung Bank Tabungan Negara), dan pusat belanja Eigen Hulp juga mewarnai Molenvliet. Sayangnya, semua kini sudah tak berbekas.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wings Air Buka Rute Kupang-Lewoleba-Kupang, Mulai dari Rp 400 Ribu

Wings Air Buka Rute Kupang-Lewoleba-Kupang, Mulai dari Rp 400 Ribu

Travel Update
Seluruh Obyek Wisata di Klaten Resmi Tutup Tiap Akhir Pekan

Seluruh Obyek Wisata di Klaten Resmi Tutup Tiap Akhir Pekan

Travel Update
Sandiaga, Salatiga, dan Sambal Tumpang Koyor

Sandiaga, Salatiga, dan Sambal Tumpang Koyor

Travel Update
Museum MACAN Jakarta Tetap Buka, Simak Panduan Berkunjungnya

Museum MACAN Jakarta Tetap Buka, Simak Panduan Berkunjungnya

Jalan Jalan
Simak, Ini Daftar 9 Hotel Karantina WNA dan WNI di Jakarta Selatan

Simak, Ini Daftar 9 Hotel Karantina WNA dan WNI di Jakarta Selatan

Travel Update
Cegah Covid-19, Pemerintah Hapus Cuti Bersama Natal 2021 dan Ubah Hari Libur Nasional

Cegah Covid-19, Pemerintah Hapus Cuti Bersama Natal 2021 dan Ubah Hari Libur Nasional

Travel Update
Wisata Rowo Jombor Klaten akan Direvitalisasi Mulai 16 Juli 2021

Wisata Rowo Jombor Klaten akan Direvitalisasi Mulai 16 Juli 2021

Travel Update
Indahnya Pemandangan Danau Toba dari Ketinggian di Geosite Sipinsur

Indahnya Pemandangan Danau Toba dari Ketinggian di Geosite Sipinsur

Jalan Jalan
Rute Menuju Obelix Hills, Wisata Instagramable Terbaru di Yogyakarta

Rute Menuju Obelix Hills, Wisata Instagramable Terbaru di Yogyakarta

Travel Tips
Thailand Targetkan Pembukaan Penuh Pertengahan Oktober 2021

Thailand Targetkan Pembukaan Penuh Pertengahan Oktober 2021

Travel Update
Cara Pesan Tiket Online Museum Angkut, Wisata Andalan di Kota Batu

Cara Pesan Tiket Online Museum Angkut, Wisata Andalan di Kota Batu

Travel Tips
Mulai Pulih dari Covid-19, Taman Hiburan Disney Akan Gelar Lagi Pertunjukan Kembang Api

Mulai Pulih dari Covid-19, Taman Hiburan Disney Akan Gelar Lagi Pertunjukan Kembang Api

Travel Update
Jam Buka dan Harga Tiket Museum Angkut di Kota Batu Terbaru 2021

Jam Buka dan Harga Tiket Museum Angkut di Kota Batu Terbaru 2021

Jalan Jalan
Obyek Wisata yang Dikelola Pemkab Bantul Tutup Akhir Pekan

Obyek Wisata yang Dikelola Pemkab Bantul Tutup Akhir Pekan

Travel Update
Pendakian Semeru Selalu Penuh, Kunjungan Wisata Bromo Masih Separuh

Pendakian Semeru Selalu Penuh, Kunjungan Wisata Bromo Masih Separuh

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X