Memanjakan Perut di Pelataran Pasar - Kompas.com

Memanjakan Perut di Pelataran Pasar

Kompas.com - 26/10/2009, 12:22 WIB

Sebagian orang akan mengernyitkan dahi bila mendapat ajakan makan di pasar. Bayangan lingkungan pasar yang kumuh dan bau membuat orang khawatir dengan kebersihan makanan yang dijajakan di pasar.

Namun, sesekali tidak ada salahnya bila Anda melepaskan diri dari bayangan buruk kondisi pasar di Tanah Air lalu meluncur ke Pasar Modern BSD City di Serpong, Tangerang, Banten. Di pasar yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu Tol Serpong-Ciputat itu perut Anda akan dimanjakan dengan berbagai jenis makanan yang dijajakan para pedagang kaki lima.

Sejak pukul 15.00 hingga tengah malam, pelataran parkir di Pasar Modern itu dipenuhi tenda-tenda biru milik pedagang kaki lima.

Menurut pengelola pasar, ada sekitar 60 tenda kaki lima yang saat ini berjualan. Sebenarnya ada 80 ”jatah” kapling yang tersedia untuk pedagang, tetapi kapling tadi dikurangi pengelola karena pengunjung yang ingin makan di situ kekurangan lahan parkir.

Bagi mereka yang hobi berburu makanan, Pasar Modern termasuk ke dalam daftar lokasi yang patut dikunjungi. Beberapa situs komunitas penggemar kuliner menyarankan untuk pergi ke Pasar Modern bila ingin makan di kaki lima. Selain makanan yang dijual dianggap enak dan beragam, kebersihan lokasi juga menjadi pertimbangan pengunjung.

Malam itu, Rabu (7/10), di sana dijajakan makanan standar kaki lima, seperti pecel lele, bebek, bakso, makanan laut hingga masakan jepang, seperti shabu-shabu dan yakiniku. Masakan nonhalal atau masakan daging ular untuk obat pun ada.

Pilihan makanan semakin lengkap dengan kehadiran bermacam makanan penyegar, seperti puding, kue, es krim, atau rujak. Makanan ini dijual di ruko-ruko yang berhadapan dengan lapak pedagang makanan.

Cari informasi

Mengingat begitu banyak makanan yang ditawarkan, sebaiknya Anda mencari informasi lebih dulu agar bisa menikmati makanan yang cocok di lidah. Pilihan jatuh pada beberapa tenda yang disarankan beberapa teman yang sudah bolak-balik makan di situ.

Tenda Genji yang berada di dekat pintu timur pasar menjadi pilihan pertama. Genji menawarkan masakan khas Jepang, yakiniku dan shabu-shabu.

Pengunjung bisa memasak bahan yakiniku dengan tungku arang. Meja makan oleh Frans Omar, pemilik Genji, diberi lubang untuk meletakkan tungku.

Di atas meja juga ada kompor gas sederhana satu tungku. Di atas kompor inilah menu shabu-shabu yang terdiri dari bermacam sayuran, seperti sawi putih, wortel, jamur shitake, dan bermacam bakso direbus dengan kaldu ayam, sapi, atau kuah tomyam.

Meski kelas kaki lima, Genji menyediakan daging kelas satu. Selain daging sapi lokal, Genji juga menawarkan daging sapi dari Selandia Baru, Australia, dan Amerika. Paket menu shabu-shabu dan yakiniku ditawarkan antara Rp 30.000 dan Rp 65.000 per porsi.

Seorang rekan menyarankan mencoba makan di Bakmi Jogja Jape Methe. Jape Methe dalam bahasa gaul anak muda Yogyakarta artinya cah e dewe (teman sendiri).

Masakan bakmi jawa yang dimasak dengan tungku arang ini adalah cabang kedua setelah warung pertama di Kalibata, Jakarta Selatan. Menurut Joko (23), juru masak yang berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, Bakmi Jape Methe ini punya 12 cabang di Jakarta. ”Jape Methe masih akan membuka beberapa cabang lagi,” kata Joko.

Bakmi yang diolah dengan bumbu dasar bawang putih, bawang merah, dan kemiri ini mengobati kangen masakan bakmi asli Yogya. Bau harum tercium dari bumbu yang ditumis dengan sedikit minyak di atas pembakaran arang.

Ketika bakmi sudah dicampur dengan bumbu yang ditumis tadi, api dari pembakaran arang menambah kuat aroma gurih pada bakmi. Uang Rp 14.000 untuk satu porsi bakmi dan Rp 17.000 untuk bakmi spesial (dicampur ati-ampela) rasanya sudah membuat perut kenyang.

Halaman belakang

Di salah satu sudut halaman belakang, ada satu tenda memasang spanduk bertuliskan Bebek SBY. ”SBY itu singkatan Surabaya lho, bukan nama presiden kita,” tutur Neneng Sri Rahayu (37) yang malam itu bersama suaminya menunggui lapak mereka.

Menu andalan tenda itu selain bebek adalah sate tulang. Untuk sepuluh tusuk sate, Neneng mematok harga Rp 22.000.

Menurut Neneng, sate tulang diolah dari bagian punggung ayam yang masih menyisakan banyak daging. Tulang punggung itu dipotong besar berukuran sekitar 2 cm x 2 cm. Potongan tulang itu lalu ditusuk dengan tusuk sate dan diberi bumbu antara lain bawang merah, bawang putih, dan cabai. Sebelum dibakar, punggung ayam direbus dulu dengan bumbu untuk menghindari daging masih mentah di bagian dalam.

Rasa gurih, manis, dan asam dari bumbu sate menemani percakapan malam itu. Sambil asyik bercakap, tangan sesekali menarik keluar tulang ayam dari mulut. (Lusiana Indriasari)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorHeru Margianto

    Close Ads X