Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wisata Selo Tak Berkembang

Kompas.com - 17/05/2010, 15:27 WIB

BOYOLALI, KOMPAS - Pengembangan destinasi wisata Solo-Selo-Borobudur yang dirintis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah beberapa tahun lalu, tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kawasan wisata Selo di Kabupaten Boyolali tertinggal jauh dibanding Solo dan Borobudur karena ketiadaan program pengembangan wisata yang memadai.

Minimnya kunjungan wisatawan dikeluhkan warga di kawasan tersebut. "Di dusun saya, dari sekitar 20 rumah singgah (homestay), hanya ada satu yang masih berfungsi. Sisanya tidak lagi aktif karena memang program Solo-Selo-Borobudur (SSB) kami rasa sampai sekarang terkatung-katung," kata Kepala Dusun Blumbangsari, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Slamet, Sabtu (15/5).

Menurut Slamet, selama ini wisatawan yang ke Selo masih sekadar diajak menikmati pemandangan alam pegunungan. Posisi Selo yang berada di antara Gunung Merapi dan Merbabu memang menawarkan lanskap menawan.

Namun, program SSB yang diharapkan mendorong wisatawan dari Kota Solo yang akan berkunjung ke Candi Borobudur, melewati Kecamatan Selo tidak jalan. Padahal, Desa Samirono dan Desa Lencoh sudah dijadikan desa wisata untuk menunjang wisata Selo.

Kondisi ini diakui Kepala Unit Pelaksana Teknis Wisata Alam Pegunungan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali Wijayanti. Hingga kini belum ada program lanjutan untuk pengembangan Solo-Selo-Borobudur.

Wisatawan yang berkunjung ke Selo, sebagian besar pelancong minat khusus, yakni mendaki Gunung Merapi, terutama wisatawan asing yang pada bulan Juli-September bisa mencapai 200 orang per bulan.

"Rata-rata lama tinggalnya juga hanya satu hari, padahal kami berharap setidaknya 2-3 hari. Di sini ada perkebunan sayur dan arena outbound," kata Wijayanti.

Jalan belokan tajam

Salah satu kendala terbesar pengembangan SSB untuk Selo, infrastruktur jalan yang kurang memadai. Lebar jalan yang berkisar 4-5 meter itu sukar dilalui bus berukuran besar, terutama di belokan-belokan tajam. Hal ini juga menyebabkan pihaknya sukar menemukan investor yang mau mengembangkan obyek wisata pendukung di Selo.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng Gatot Bambang Hastowo, terpisah mengatakan, paket wisata SSB yang digagas tahun 2002 sampai saat ini sebenarnya masih berjalan, tetapi hanya ada paket-paket individual yang melintasinya. Akses jalan yang sempit dari arah Selo, membuat wisatawan cenderung memilih jalur Yogyakarta.

Diakuinya, daya tarik wisata di seputar Selo relatif masih kurang, baik kualitas maupun kuantitas kemasannya. "Ke depan ini perlu ditingkatkan. Selain provinsi, kabupaten dan kota juga harus memerhatikan daerah tujuan wisata yang dimiliki. Kami akan membantu pasarkan," ujarnya. (GAL)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com