Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesan Kebangsaan dari Pontianak hingga Bogor

Kompas.com - 07/02/2012, 04:56 WIB

Oleh A Handoko, Sri Rejeki, dan Anthony Lee

Cap Go Meh adalah perayaan hari ke-15 pada bulan pertama tahun Imlek bagi masyarakat Tionghoa. Di Pontianak dan di semua tempat perayaan di negeri ini, Cap Go Meh dirayakan dengan satu pesan: kebangsaan. 

Cap Go Meh yang rutin diperingati dengan pawai dan upacara lain sejak tahun 2000 (pascareformasi Indonesia) dilaksanakan secara inklusif, yaitu melibatkan berbagai suku dan agama lain di luar warga Tionghoa. Di Pontianak (Kalimantan Barat), Bogor (Jawa Barat), Semarang dan Solo (Jawa Tengah), serta Yogyakarta, saudara sebangsa ikut merayakannya. Di Yogyakarta, misalnya, setidaknya dalam lima tahun terakhir, sinergi dan kajian akademis antaretnis tentang masalah budaya ini telah melahirkan pengertian baru yang menyuburkan persaudaraan.

Semua kelompok etnis di Kota Pontianak, Senin (6/2), terlibat Pawai Budaya Nusantara, yaitu rangkaian perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di Yayasan Bhakti Suci, Jalan Gajah Mada.

Masyarakat Dayak yang terlibat dalam acara itu melalui Majelis Adat Dayak secara swadaya membiayai persiapan dan keperluan selama tampil membawakan tarian tradisional dan musik mereka. ”Ini bentuk rasa persaudaraan yang kami berikan karena teman etnis Tionghoa juga selalu terlibat dalam acara yang kami gelar,” ujar Ketua Perhimpunan Perempuan Dayak Kalimantan Barat Katarina Lies.

”Mereka ingin menegaskan bahwa sikap saling bersaudara itu penting dikembangkan. Di Kalbar ini jangan ada lagi pengotak-ngotakan etnis karena akan sangat rawan konflik,” ujar Kolonel Toto Rinanto, Komandan Komando Resor Militer 121 Alambanawanai.

Pawai Budaya Nusantara merupakan acara puncak perayaan Cap Go Meh di Pontianak. Pawai diisi dengan atraksi beberapa replika naga dan pertunjukan kesenian tradisional dari kelompok etnis yang ada di Pontianak, di antaranya Dayak, Melayu, Batak, Madura, Jawa, Nusa Tenggara, dan Manado.

Wakil Ketua Panitia Cap Go Meh Pontianak Buyung Bunadi mengatakan, perayaan sengaja tidak hanya menampilkan replika naga yang mewakili kekhasan warga Tionghoa.

”Kami ingin mempererat tali persaudaraan dengan masyarakat etnis lain karena memang di Pontianak dan di Kalbar pada umumnya, masyarakat sangat heterogen,” ujar Buyung.

Buyung berharap dengan kokohnya tali persaudaraan di antara setiap etnis serta kerukunan dan keamanan Pontianak bisa terus terjaga. Maklum Kota Pontianak dan beberapa daerah lain di Kalbar, seperti Singkawang, Bengkayang, dan Sambas, pernah dikoyak oleh kerusuhan sosial berlatar belakang perbedaan etnis beberapa tahun lalu.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com