Kompas.com - 09/06/2012, 07:55 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tidak seperti es krim zaman sekarang yang lembut, es krim Tip Top masih asli es krim sejak zaman tahun 1930-an. Java Ice, misalnya, es krim berbentuk potongan roti itu rasanya seperti moka dengan campuran rasa anggur yang membuat lidah terasa manis-getir. Butiran esnya sesekali terasa di lidah. Bahkan terasa menggigit lidah kita.

Khusus es krim, Didrikus menambahkan menu baru, yakni es krim durian. ”Durian sekarang sudah khasnya Medan, zaman dulu orang Eropa belum suka durian,” kata dia.

Adapun kue yang disajikan Tip Top memang berasa asli kue jadul alias zaman dulu. Taartjes meses misalnya, kue tart dua lapis dengan taburan meses di atasnya, menyantapnya langsung ingat pada kue buatan nenek dengan rasa gandum yang kuat. Ada pula kue sus yang gurih dan kue kismis yang keras dan mengenyangkan.

Pemilik

Sebelum bernama Tip Top, paman Didrikus mendirikan toko roti Jang Kie pada tahun 1929 di Jalan Pandu, Medan. Toko ini kemudian pindah tahun 1934 ke Jalan Kesawan, menempati bekas kantor Kongsi Dagang China yang dibangun pada tahun 1920. Namanya pun berubah menjadi Tip Topm yang menurut Didrikus berarti perfect atau sempurna.

Tip Top berada di deretan kantor-kantor dagang asing yang digerakkan oleh ekonomi perkebunan di Sumatera Timur, khususnya perkebunan tembakau. Restoran ini menjadi tujuan para pekerja kantor perkebunan dan pemerintah untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.

Pada hari Sabtu-Minggu, dulu Tip Top menjadi salah satu tujuan komunitas Eropa di Medan bersama keluarganya menghabiskan waktu pada akhir pekan. ”Dulu, tak ada orang pribumi berani masuk ke Tip Top kalau akhir pekan,” tutur Didrikus. Rupanya, citra itu, tambah Didrikus, melekat sampai sekarang. ”Seolah Tip Top itu hanya untuk orang kaya, ha-ha-ha.”

Agar kesan bersejarah itu makin kuat, di dinding restoran dipajang berbagai foto masa lalu. Ada foto barisan tentara Sekutu di depan restoran, ada pula foto komunitas Eropa di restoran yang dipenuhi dengan bunga-bunga segar. Foto restoran zaman dulu dengan mobil-mobil yang kini terlihat kuno juga dipasang.

Untuk menjalankan Tip Top, Didrikus dibantu 40 karyawan. Banyak dari mereka adalah generasi ke-3 seperti dirinya. ”Banyak juga orang yang dulu pacaran di sini sehingga mereka merayakan ulang tahun perkawinannya di sini,” kata Didrikus.

Tip Top bukan sekadar tempat makan. Ia menjadi bagian sejarah Kota Medan yang dibangun modern oleh para amtenar perkebunan pada pertengahan abad 19. Ia seperti tungku yang menghangatkan sejarah kota terbesar di Pulau Sumatera itu. (M Hilmi Faiq)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.