Surfing Bersama Bono di Teluk Meranti

Kompas.com - 17/02/2013, 10:13 WIB
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com - Bermula dari mitos lalu berkembang menjadi rumor di kalangan peselancar kini legenda gelombang (sungai) Bono akan menjadi sorotan mata dunia seakan mengundang untuk hadir ke sana langsung. Padahal, ombak dahsyat di Teluk Meranti itu nyatanya memiliki nama lain yang cukup membuat bulu kuduk peselancar merinding, yaitu 'Tujuh Hantu' (Seven Ghost).

Gulungan air sungai berlapis tersebut sebenarnya lebih dari tujuh, tingginya mencapai 6 meter, berkecepatan 40 km per jam, dan menghantarkan hempasan bertubi-tubi diiringi suara menderu keras bahkan mampu melumat pepohonan serta mengikis tanah terjal di sekitarnya.

Nama 'bono' dalam bahasa masyarakat setempat berarti 'benar'. Kata ini memiliki kisahnya sendiri ketika Raja Pelalawan meminta utusan masyarakat setempat menghadap ke Istana Sayap tetapi sang utusan terhalang oleh gelombang untuk menyeberang sungai. Karena ketidakhadiran utusan tersebut, kemudian sang raja memerintahkan pengecekan langsung apakah betul ada gelombang dahsyat di sungai. Akhirnya diperoleh informasi bahwa hal tersebut benar adanya. Kata 'benar' ini dalam bahasa setempat disebut 'bono' dan sejak saat itu kata 'bono' melekat pada gelombang sungai di Teluk Meranti.

Steve King (46), seorang peselancar sungai (tidal bore surfer) dari Inggris telah menjajal selancar di sungai sejak usia 7 tahun. Tahun 2006 dia berhasil memecahkan Guinness World of Records berselancar di atas gelombang sungai dengan waktu terlama dan jarak terpanjang di atas gelombang Sungai Severn Bore, Inggris. Saat itu Steve menorehkan catatan berjarak 12,23 km (7,6 mil) ditambah 2,66 km (1,65 mil) dengan waktu tempuh 1 jam 6 menit.

Sejak 10-13 Februari 2013, Steve King sudah ada di Teluk Meranti mencoba memecahkan rekor atas namanya sendiri enam tahun lalu di Inggris. Untuk memecahkan rekor berselancar tersebut Steve King memilih Bono.

Ia ditemani rekannya Steve Holmes, Nathan Maurice (Inggris), Fabrice Colas dan Dominique Avrilleau (Perancis), juga Christopher Caravino (Hawaii). Rekan-rekannya selain menemani berselancar juga mempersiapkan peralatan, pemandu lokal, akomodasi, dan transportasi di Teluk Meranti.

Selama satu hari sebelum berselancar mereka melakukan koordinasi dan strategi termasuk pengenalan alam serta menjabarkan berbagai kemungkinan dan tantangan. Steve sendiri tidak melakukan latihan khusus, ia hanya berupaya mengenal bagaimana rute gelombang dan kemungkinan arah angin.

Pria yang telah berselancar sejak usia 7 tahun itu mengutarakan bahwa hal terpenting hanya dua, yaitu menemukan dan mendekat pada gelombang lalu yang kedua adalah mencoba bertahan selama mungkin dengannya.

Steve King dan 5 kawannya memulai berselancar dari Pulau Muda sampai Teluk Binjai di Sungai Kampar dengan waktu tempuh berkisar antara 1,5 sampai 2 jam. Adapun jarak rute tersebut diperkirakan mencapai 40 kilometer.

Selama aktivitas berselancar terpasang kamera kedap air di ujung depan papan selancar dan lengan, serta pada di helm (untuk kayak) sebagai bukti laporkan ke Guinness World of Records. Demi memastikan waktu dan jarak tempuh akurat maka dikenakan jam khusus untuk merekam waktu, jarak, hingga lokasinya yang nanti datanya dapat dikonversikan ke komputer.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X