Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sensasi Wisata Museum BI di Malam Hari

Kompas.com - 23/02/2013, 03:35 WIB

Tur ini berdurasi sekitar satu jam. Akhir perjalanannya berada pada satu lapangan terbuka yang luas di dekat mushala museum. Di lapangan ini terdapat alat penghancur uang tidak laik edar. Lapangan dibalut oleh bangunan museum berarsitektur Eropa. Dari sini, tampak gedung modern berdiri menjulang seolah menjadi semiotik pertemuan antara peradaban yang lalu dan modern.

Lamat-lamat terdengar komentar setiap pengunjung. Vanessa, pengunjung berkewarganegaraan Jerman, mengatakan, dirinya terpikat akan konsep tur malam hari. Dia dan lima temannya yang semuanya warga negara Jerman menjadi mengerti akan sejarah Indonesia dan sejarah BI.

”Saya suka konsep tur ini dan museumnya. Tata bangunannya seperti kastil. Koleksinya relatif lengkap dan terjaga. Saya jadi mengerti sejarah Indonesia dan BI,” ungkapnya.

KHI, menurut rencana, akan mengadakan ”Tour the Busway” untuk mengunjungi tempat- tempat bersejarah bernuansa pecinan dalam rangka Cap Go Meh, Minggu (24/2) pukul 07.00-13.30. Peserta dijadwalkan bertemu di Halte Bundaran Hotel Indonesia, depan Plaza Indonesia. Peserta juga diminta berpakaian warna merah.

Tur ini terbuka untuk umum, dan gratis. Peserta hanya diminta membayar tiket bus transjakarta.

Menepis persepsi keliru

Asep Kambali, Ketua KHI, mengatakan, maksud diadakannya tur ini, untuk menepis anggapan keliru masyarakat terhadap tempat-tempat sejarah. Tempat sejarah biasanya diidentikkan dengan tempat angker. Akibatnya, cerita sejarah yang menjadi catatan perkembangan bangsa hilang tertelan mistisme tak bertanggung jawab.

Sejarah itu rekaman ingatan. Setiap orang pasti punya cerita sejarah diri. Begitu pula satu bangsa. Tanpa ingatan sejarah, orang itu akan amnesia. Tanpa ingatan sejarah bangsa, niscaya akan terjadi amnesia kolektif.

”Jika sudah demikian, kecintaan akan tanah air akan sirna. Makanya, dengan tur ini saya berusaha untuk mengubah ingatan keliru itu” kata Asep Kambali.

Selain itu, Asep juga punya kepedulian akan minimnya ketertarikan anak muda akan sejarah Indonesia. Asep melihat ini sebagai kausalitas dari pengajaran pelajaran sejarah yang hanya disesaki oleh perintah mengingat tahun dan nama tempat, bukan pemaknaan akan peristiwa sejarahnya.

”Pengajaran sejarah perlu berubah. Harus lebih menyenangkan dan lebih dapat dicerna. Untuk itu, KHI selalu mengadakan tur-tur ke tempat bersejarah. Tujuannya, agar cerita sejarah ini dapat dicintai masyarakat. Saya ingin mengingatkan, sejarah itu bukan soal tahun-tanggal dan nama tempat. Namun, soal pemaknaan peristiwa demi preserving the future of nation (melestarikan masa depan bangsa),” paparnya. (K03)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com