Kompas.com - 27/04/2013, 09:16 WIB
EditorI Made Asdhiana

Malam itu juga I Ketut Beratha (62) dan I Wayan Darya (64) membuat sate bunga setelah bahannya disiapkan Desen. Sate bunga dibuat dari kulit beserta lemak babi, berisi hati dan jantung. Sate ini dibuat khusus sebagai pelengkap kepentingan ritual. Tak sembarang orang yang bisa dan boleh membuatnya. Beratha dan Darya adalah dua tokoh adat yang sebelumnya pernah bertindak sebagai mancagera.

Sate bunga memiliki berbagai bentuk yang disesuaikan dengan sistem Pengider-ngider Nawa Sanga, satu sistem kosmologi Bali di mana dewa bermukim di sembilan penjuru mata angin. Bentuk sate bunga harus sesuai senjata dewata. Misalnya, jenis sate bunga ancak dibuat dari kulit dan lemak babi serta nyali yang kemudian dibentuk seperti cakra. Cakra adalah senjata dari Dewa Wisnu di utara.

”Nanti peletakan sate bunga berbentuk cakra harus di sisi utara dalam rangkaian sate bunga,” kata Beratha. Sate ini memang dibuat sebagai simbolisasi kehadiran sembilan dewata yang menghuni penjuru dunia untuk menjadi saksi upacara pernikahan di rumah Derka. Sesudah upacara dilaksanakan, seluruh daging sate bunga bisa dikonsumsi setelah digoreng kembali.

Secara paralel selain mencincang bumbu, kemudian ditumbuk dalam lesung, warga juga mulai merebus pisang batu muda yang diiris-iris. Menu utama dalam mebat di Bali belahan barat memang terutama membuat lawar biu batu (lawar pisang batu muda).

Kira-kira pukul 20.00 warga yang membantu mebat sudah makan malam bersama. Pekerjaan belum selesai, keesokan harinya warga wajib hadir pada pukul 05.00 untuk mebat kembali. ”Kalau ini kami siapkan khusus untuk menu jamuan makan undangan. Kami masak lawar, komoh, gorengan, sate dan tum babi,” ujar Desen.

Kelestarian adat

Sehari sebelum perayaan Galungan, Selasa (26/3), keluarga I Ketut Sumadi (53) di Banjar Batuyang, Kecamatan Batubulan, Kabupaten Gianyar, juga mengadakan mebat. Kali ini mebat keluarga ini dikhususkan untuk perayaan Galungan. Mebat dipimpin oleh I Ketut Sangka (70) selaku mancagera keluarga.

Mebat yang melibatkan tujuh anggota keluarga ini lebih difokuskan pada penyiapan sarana ritual. ”Kami sedang menyiapkan banten perangkat yang berisi empat jenis lawar, lima macam sate, komoh, dan tum,” kata Ketut Sumadi. Selebihnya, masakan ini juga disiapkan untuk makan bersama selama perayaan Galungan.

Banten perangkat adalah sesaji yang dipersembahkan di Bale Piasan, satu bangunan dalam pura keluarga, sehari sebelum hari raya Galungan. Sangka, antara lain, harus menyiapkan jenis sate kuung, sate gunting, sate lembat, sate kasem, dan sate apit. Semua sate ini berbahan dasar daging babi, terutama di bagian kulit dan lemaknya.

Perangkat selalu juga disertai dengan jenis masakan bernama tum. Tum sebenarnya bermaterikan daging cincang yang dibumbui, kemudian dibungkus daun. Cara memasaknya mirip dengan pepes, tetapi dikukus. Saat menghaturkan perangkat di Bale Piasan harus disertai dengan komoh (kuah berkaldu dan berbumbu) dan nasi putih.

Antropolog dari Universitas Udayana, Prof I Wayan Geriya, melihat mebat sebagai wahana yang penting tidak saja dalam kekerabatan yang horizontal, tetapi lebih-lebih sebagai pengikat secara spiritual antara warga dan sistem kepercayaan yang berlaku. ”Ada dimensi ritual di dalamnya, tidak sekadar memasak bersama, karena itulah seorang mancagera harus mengerti keduanya,” katanya.

Mebat memang lantas bukan sekadar memasak bersama sekelompok lelaki untuk kepentingan penyiapan makanan, tetapi di dalamnya terkandung dimensi transenden yang amat kuat. Forum inilah yang menjadi satu pilar kelestarian adat dan budaya di Pulau Bali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.