Kompas.com - 23/06/2013, 09:07 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
JALAN Jaksa, terletak di Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Sebuah jalan kecil sepanjang 400 kilometer ini diberi nama Jaksa karena dahulu pada masa kolonial tempat ini menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa sekolah hukum Rechts Hogeoschool yang terletak di dekat Museum Nasional.

Kini, bukan lagi mahasiswa hukum yang terlihat berkumpul di jalan ini, melainkan para turis mancanegara berpakaian santai, atau yang lebih dikenal dengan nama backpacker yang berbaur dengan masyarakat lokal.

Saat ini Jalan Jaksa dirancang sebagai pilihan utama para backpacker mancanegara atau dalam negeri yang berkunjung ke Jakarta. Jalan selebar sekitar enam meter ini menawarkan para turis untuk mendapatkan akomodasi murah, dan tentunya hiburan malam.

Banyak turis dari berbagai negara memilih untuk tinggal di Jalan Jaksa karena mereka dapat berbaur dengan budaya lokal dan merasakan atmosfer khas Jakarta dengan nyaman, tapi terjangkau. Mereka menginap di hotel bertarif relatif murah yang berada di pusat kota Jakarta.

Di Jalan Jaksa juga terdapat warung makan, kafe, sampai bar yang mudah kita temui di kiri kanan jalan. Jalan Jaksa menawarkan hiburan malam seperti live music yang berada di kafe-kafe yang akan menghangatkan suasana hingga larut malam. Tak jarang suara hingar bingar musik yang dimeriahkan oleh lampu-lampu berwarna-warni akan terasa sampai pagi menjemput.

Biaya sewa kamar di sini tergolong murah. Untuk kamar berfasilitas kipas angin dan kamar mandi yang berada di luar, para turis yang hendak bermalam cukup membayar Rp 75.000 sampai Rp 100.000 untuk biaya sewa kamar tersebut. Sedangkan untuk kamar berstandar hotel berbintang, dengan fasilitas AC, televisi, dan kamar mandi yang terletak di dalam, dapat kita sewa dengan biaya sekitar Rp 250.000 untuk per malamnya.

Untuk makanan yang berada di Jalan Jaksa sangat beragam, mulai makanan western sampai makanan khas Indonesia. Ada sebuah tempat makan yang menjual makanan khas Melayu, namanya KL Village yang selalu dipenuhi turis-turis mancanegara. Mereka lebih memilih makan di tempat ini karena ingin merasakan makanan asal Indonesia.

KL Village menawarkan berbagai makanan ala Melayu, seperti roti canai, nasi goreng, martabak, dan teh tarik. Untuk roti canai bertabur keju ditawarkan dengan harga Rp 18.000 dan untuk teh tarik dapat kita nikmati dengan harga Rp 9.000. Selain itu juga terdapat gado-gado, nasi lemak, sampai wedang jahe.

"Mereka (turis mancanegara) lebih sering memesan teh tarik dan roti canai. Kalau pagi untuk sarapan biasanya banyak yang memesan nasi lemak," ujar Aisyah, pemilik KL Village.

Nasi lemak yang dimaksud ialah nasi yang dibungkus daun pisang yang sudah dicuci dan berlauk telor ceplok, ayam goreng, ikan teri, dan sambal goreng. Nasi lemak ini dapat Anda nikmati dengan harga Rp 15.000.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.