Pariwisata NTT Menjadi Tujuan Wisata Dunia

Kompas.com - 09/09/2013, 12:13 WIB
Satwa endemik Komodo (Varanus Komodoensis) di Pulau Rinca, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). Pulau Rinca merupakan salah satu habitat reptil purba Komodo. Berdasarkan data pada 2010 di pulau ini sendiri terdapat 1336 ekor Komodo, sedangkan 1288 ekor di Pulau Komodo, 86 di Pulau Nusa Kode, dan 83 di Pulau Gili Motang. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESSatwa endemik Komodo (Varanus Komodoensis) di Pulau Rinca, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). Pulau Rinca merupakan salah satu habitat reptil purba Komodo. Berdasarkan data pada 2010 di pulau ini sendiri terdapat 1336 ekor Komodo, sedangkan 1288 ekor di Pulau Komodo, 86 di Pulau Nusa Kode, dan 83 di Pulau Gili Motang.
|
EditorI Made Asdhiana
LABUAN BAJO,KOMPAS.com - Kota Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pintu masuk pariwisata ke Taman Nasional Komodo dan berbagai keindahan alam di berbagai pulau dan daerah pegunungan.

Keindahan bawah laut dan di permukaan Labuan Bajo menarik wisatawan untuk berkunjung dan menanamkan modal usaha mereka di bidang pariwisata. Keindahan pulau di Manggarai Barat dapat 'memanjakan' mata dari para wisatawan mancanegara dan domestik bahkan para pekerja pers.

Menurut Amos Lillo, Sales dan Marketing Director  Flobamora Events bahwa Provinsi NTT merupakan 'Explores the hidden beauty' sehingga pasca Sail Komodo, lembaga ini melakukan kegiatan Komodo Travel Mart dengan mempertemukan pada buyer (pembeli) dengan tour operator dari Lombok (NTB), Makassar (Sulawesi Selatan), Surabaya (Jawa Timur), Bandung (Jawa Barat), Jakarta dan Bali, dengan pelaku pariwisata dan travel agent di NTT.

Menurut Lillo, keuntungan dari Sail Komodo bagi NTT adalah perbaikan infrastruktur di seluruh NTT, dampak sosial, dampak kesehatan yang sangat diperhatikan pemerintah pusat.

"Kami menindaklanjuti gebyar Sail Komodo 2013 dengan melaksanakan kegiatan Komodo Travel Mart di mana Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat mendukung kegiatan Komodo Travel Mart," jelasnya kepada Kompas.com, di Hotel Jayakarta Labuan Bajo, Senin (9/9/2013).

Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia, Feisol Hashim mengatakan, Sail Komodo 2013 hanya sebuah event. Yang harus dipikirkan bersama adalah apa yang dilakukan setelah Sail Komodo 2013 karena ribuan orang pulang ke tempat dan negara masing-masing dan meninggalkan sampah di Kota Labuan Bajo dan di perairan Labuan Bajo.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Dermaga di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
“Industri di dunia yang sampai ke akar-akar masyarakat adalah industri pariwisata, sehingga pemerintah, lembaga legislatif, masyarakat dan pihak swasta di Manggarai Barat dan Indonesia bekerja sama dalam mengembangkan pariwisata yang dapat mensejahterakan masyarakat,” katanya.

Menurut Hashim, pariwisata di Pulau Flores, NTT harus ditentukan dengan baik yakni apakah wisata adventure, wisata religi, ekowisata sehingga pengembangannya sangat jelas. “Pariwisata berkembang secara alamiah dan kerja sama dari pihak luar dengan warga masyarakat setempat mampu mengembangkan pariwisata dengan baik,” jelasnya.

Hashim menjelaskan, penyelenggaraan Sail Komodo di Provinsi NTT yang puncaknya dilaksanakan di Kabupaten Manggarai Barat sungguh sangat positif di mana binatang ajaib Komodo dari Labuan Bajo semakin terkenal di seluruh dunia. Dampak lainnya adalah pembangunan jalan raya di Kota Labuan Bajo semakin dipercepat, air bersih di Kota Labuan Bajo mulai perhatikan dengan baik, kebersihan di Kota Labuan Bajo ditata dengan baik.

“Saya minta pengembangan pariwisata di Manggarai Barat harus ramah lingkungan dan ramah kepada masyarakat. Jikalau itu tidak dilaksanakan, maka pariwisata tidak memberikan nilai positif lagi,” jelasnya.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Warga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, bermain musik tradisional yang biasa dimainkan dalam rangka upacara adat pembangunan rumah baru, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik.
Selama ini, lanjut Hashim, diperkirakan 60 persen terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo banyak yang rusak akibat pengeboman ikan serta bertumpuk sampah di perairan Taman Nasional Komodo.

“Mari kita sama-sama menyelamatkan terumbu karang di Taman Nasional Komodo dengan menjaga perairan dengan baik dan juga para nelayan menangkap ikan dengan ramah lingkungan laut. Jikalau tidak cepat diselamatkan maka kedepan terumbu karang di Taman Nasional Komodo perlahan-lahan habis,” tambah Hashim.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X