Kompas.com - 29/09/2013, 12:24 WIB
EditorI Made Asdhiana

Pihak Bandar Udara Narita, Tokyo, misalnya, pada pameran tersebut membuat permainan yang diminati puluhan ribu pengunjung. Untuk mengikuti permainan itu, pengunjung membayar 1.200 yen atau lebih kurang Rp 100.000 (untuk dewasa) atau 600 yen (anak-anak dan pelajar) untuk masuk ke ruang pameran, rela antre hingga 30 menit untuk mengikuti permainan berhadiah itu.

Permainannya sangat sederhana. Pengunjung diberi semacam tiket penerbangan dan paspor. Kemudian, mereka dipersilakan memilih negara yang dituju dengan cara mengecap ”tiket penerbangan” di paviliun yang sesuai dengan destinasi. Selanjutnya, mereka diwajibkan mengikuti proses pemberangkatan, mulai dari bagian imigrasi hingga pemasangan stempel di paspor.

Ringkasnya, dengan mengikuti permainan tersebut, mereka menjadi tahu apa yang harus dilakukan jika suatu saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Di samping itu, mereka juga secara tidak langsung dipaksa berkunjung ke paviliun peserta pameran. Imbalan atas partisipasi itu, pengunjung diberi hadiah berupa tas kecil untuk peralatan mandi.

Paviliun Australia pun mengadakan permainan serupa. Pengunjung diberi lembaran kertas berisi sejumlah pertanyaan, yang untuk menjawabnya perlu melihat peta Australia yang sudah disediakan di salah satu sisi booth negeri ”Kanguru” tersebut.

Dengan cara itu, peserta menjadi tahu persis di mana saja daerah kunjungan wisata di Australia. Selain itu, mereka juga secara tidak sadar dipaksa mengetahui apa saja yang bisa dilihat di Australia. Sungguh permainan yang ”cerdas”.

”Mereka suka dengan permainan. Orang Jepang umumnya senang mengikuti pameran seperti ini, apalagi kalau ada hadiahnya,” kata Hiromi Kubota.

Jadi, tak perlu heran jika permainan semacam itu diikuti banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Pengamatan Kompas, tempat-tempat yang menyelenggarakan permainan seperti itu sangat ”hidup”. Pengunjung dan peserta pameran berinteraksi dengan baik sehingga muncul semacam kedekatan emosional. Sayangnya, hal ini tidak terlalu terlihat di Paviliun Indonesia.

”Kami sebenarnya berencana untuk membuat photo corner, pengunjung bisa berfoto dengan pakaian khas Betawi. Tapi, anggaran kami sangat terbatas sehingga terpaksa membatalkannya,” kata Hari Wibowo, dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, yang memimpin delegasi DKI Jakarta, menanggapi fakta tersebut.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Para pelancong asing diajak menari tortor di pelataran Museum Hutabolon Simannindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (1/9/2013). Ini merupakan salah satu cara untuk mengenalkan budaya dan tradisi khas Batak Toba kepada dunia luar.
Hal senada dikemukakan pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ”Anggaran promosi pariwisata luar negeri terbatas. Bahkan, tahun depan menyusut hampir 50 persen.” Demikian penjelasan yang muncul di pameran tersebut dan dibenarkan Direktur Promosi Pariwisata Luar Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya.

Tampaknya, perlu keberanian untuk membuat terobosan yang efektif. Jika tidak, bukan mustahil orang yang takut ke Indonesia, seperti sang kakek di atas, jadi bertambah. (Fandri Yuniarti)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.