"Sasi Nggama" Menjaga Kaimana

Kompas.com - 30/10/2013, 15:17 WIB
Aksamina Kamakaula, warga Kampung Kamaka, Distrik Kaimana, Kaimana, Papua Barat, memetik tembakau untuk dibuat rokok, Minggu (15/2/2009). Di kampung ini sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan berladang.  KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOAksamina Kamakaula, warga Kampung Kamaka, Distrik Kaimana, Kaimana, Papua Barat, memetik tembakau untuk dibuat rokok, Minggu (15/2/2009). Di kampung ini sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan berladang.
EditorI Made Asdhiana
Keindahan Kaimana bukan melulu pemandangan matahari senjanya seperti digambarkan penyanyi Bob Tutupoli dalam lagu ”Senja di Kaimana” yang populer tahun 1970-an. Eksotisme Kaimana yang tidak banyak diketahui adalah alam bawah lautnya yang asri dan dipenuhi spesies terumbu karang ataupun ikan yang unik.

Perairan laut Kabupaten Kaimana, Papua Barat, seluas 597.747 hektar adalah kawasan yang dilindungi. Di situ terdapat Teluk Triton yang disebut-sebut sebagai surga bawah laut karena keindahan bentang alam pulau-pulau karst dan keragaman spesies penghuninya.

Di kawasan itu terdapat 959 jenis ikan karang, 471 jenis karang, dan 28 spesies udang mantis. Karena kekayaan spesies, berdasarkan riset Conservation International (CI) Indonesia, kawasan konservasi ini merupakan penyumbang biomassa terbesar di Asia Tenggara, yaitu 228 ton per kilometer persegi.

”Potensi alam bawah lautnya sungguh luar biasa. Lebih indah dari Raja Ampat. Yang unik, spesies endemisnya sangat banyak, tetapi banyak yang belum teridentifikasi. Banyak peneliti menemukan spesies-spesies baru di sini,” ujar Thamrin Lamuasa, Manajer Senior CI Indonesia Kaimana.

Dalam lima tahun terakhir, misalnya, ditemukan 16 spesies baru ikan karang. Mayoritas penemuan dilakukan penyelam atau peneliti asing. Tim CI bersama Universitas Papua terkejut ketika pertama kali melakukan survei pada 2006.

Mereka menemukan 14 spesies ikan karang dan dua spesies hiu berjalan (Epaulette dan Hemiscyllium henryii) yang belum pernah ditemukan. Di Tanjung Papisoi di Kaimana dijumpai 330 spesies ikan sekaligus pada satu lokasi. Ini memecahkan rekor dunia yang dibukukan peneliti Gerald Allen saat mengeksplorasi Raja Ampat, Papua.

Menurut Thamrin, selain konservasi terpadu, kelestarian alam bawah laut Kaimana juga tidak terlepas dari kesadaran masyarakat menjaga laut. Di Kaimana, tradisi sasi nggama dilakukan turun-temurun oleh warga Papua pesisir. Ini adalah larangan mengeksploitasi hewan laut seperti teripang, lola (sejenis kerang laut), dan batulaga.

Kearifan lokal sasi

Kearifan lokal yang merupakan akulturasi budaya warga Papua dengan masyarakat Maluku (Ternate) pendatang ini sekaligus menjaga masyarakat dari ancaman kelaparan.

Dalam tradisi sasi nggama, warga dilarang mengambil lola, teripang, dan batulaga selama 11 bulan dalam setahun. Hanya pada masa tertentu, umumnya musim angin barat antara Maret dan Mei, warga boleh memanen hewan-hewan laut bernilai komersial tinggi itu. Buka sasi (larangan) dilakukan selama dua minggu penuh. Yang boleh diambil hanya hewan berukuran besar atau ukuran tertentu untuk memberi kesempatan pada hewan itu berkembang biak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X