Kompas.com - 13/01/2014, 14:56 WIB
EditorI Made Asdhiana
BAGI Torang Sitorus (36), selembar kain ulos tak sekadar selembar kain tradisional kebanggaan suku Batak. Makna ulos yang membekas di benaknya adalah sebagai "pangait ni holong" yang berarti jembatan penaut kasih sayang.

Ulos merupakan kain tenunan khas Batak dengan motif dan ukuran tertentu dengan benang-benang berjuntai di kedua ujungnya. Kain tradisional yang ditenun oleh kaum perempuan ini semula dikenakan untuk pelindung tubuh. Dalam berbagai ritual adat, kain ulos berperan penting. Mangulosi, misalnya, merupakan salah satu ritual adat pemberian ulos dan bisa juga diberikan kepada orang lain di luar suku Batak sebagai lambang penghormatan dan kasih sayang.

Terlahir di keluarga Batak yang cukup kuat memegang adat, Torang telah terbiasa dengan ulos sejak kanak-kanak. Ibunya, Senty Sirait, seorang penggiat Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang kerap mengumpulkan ulos dari sejumlah daerah di Sumatera Utara.

”Setiap kali Ibu pulang dari kegiatan PKK di mana saja, pulangnya pasti membawa ulos. Baru kemudian sejak SMA saya juga ikut mengumpulkan kain ulos dan belajar ulos,” kata Torang di sela-sela pameran Ulos Pangait ni Holong di Museum Tekstil, Jakarta.

Kini jumlah koleksi ulos milik Torang, termasuk yang dikumpulkan ibunya, sudah mendekati 1.000 lembar. Sebagian besar masih disimpan secara sederhana di rumahnya di Medan, Sumatera Utara. Sejak 27 Desember 2013 hingga 30 Januari 2014, sebagian dari koleksinya, yakni 120 lembar ulos, dipamerkan di Museum Tekstil, Tanah Abang, Jakarta.

”Saya berencana membuat semacam museum mini di Medan untuk koleksi ulos keluarga sehingga bisa dinikmati siapa saja,” kata Torang.

Lima tahun terakhir Torang juga tak sekadar mengumpulkan ulos, tetapi juga berupaya membangun bisnis yang mengusung kain ulos. Dengan begitu, menurut dia, ulos sebagai salah satu peninggalan budaya Batak yang berharga dapat terus hidup.

Di bawah label Sumatra Loom, Torang mengembangkan ulos dengan mengontrol kualitasnya sebaik mungkin. Saat ini, Torang bekerja sama sekaligus membina 50 partonun (petenun) ulos di Tarutung, Tapanuli Utara. Pada setiap helai ulos terdapat nama petenun yang menenun. Dengan begitu, Torang mengajak setiap petenun menenun ulos benar-benar dengan hati, seperti sejatinya ulos ditenun di masa silam.

”Saya ingin setiap anak muda di berbagai daerah mau terjun menggeluti kain tradisional khas daerahnya masing-masing. Lalu membangun bisnis dari kekayaan tradisi kita sendiri supaya kelestariannya terjaga. Kalau bisa mengoleksi tas Hermes, kenapa tidak mengoleksi kain tradisional?” ujar Torang.

KOMPAS/SARIE FEBRIANE Koleksi ulos Torang Sitorus yang dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta, hingga 30 Januari 2014.
Torang menggagas konsep pengembangan ulos untuk berbagai produk kerajinan dan mode, seperti tas, taplak meja, dan dompet. Sejauh ini banyak dari produk yang digarapnya dipasarkan di Bali. Torang sendiri sempat tinggal dua tahun di Bali untuk belajar membangun bisnis dan memperluas jejaring.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.