Bono, Hantu yang Tidak Lagi Ditakuti

Kompas.com - 21/01/2014, 12:08 WIB
Sejumlah peselancar lokal bersaing untuk dapat berdiri paling lama saat berkompetisi di lomba selancar gelombang bono, Sungai Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Selasa (19/11/2013). Lomba yang diikuti 30 peserta tersebut merupakan rangkaian dari Festival Bekudo Bono 2013. Acara diselenggarakan 17-23 November dengan beragam kegiatan, mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar. TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDASejumlah peselancar lokal bersaing untuk dapat berdiri paling lama saat berkompetisi di lomba selancar gelombang bono, Sungai Kampar, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Selasa (19/11/2013). Lomba yang diikuti 30 peserta tersebut merupakan rangkaian dari Festival Bekudo Bono 2013. Acara diselenggarakan 17-23 November dengan beragam kegiatan, mulai dari lomba memancing, berselancar hingga pergelaran budaya lokal dan bazar.
EditorI Made Asdhiana
BONO. Kata itu tidak terlalu bermakna buat kebanyakan orang. Namun, bagi peselancar, gelombang pasang di muara Sungai Kampar, yang disebut bono oleh warga sekitar, adalah sesuatu yang wajib dijajal. Kedahsyatan ombak sungai yang bisa mencapai lebih dari tiga meter itu amat menantang dan memiliki karakteristik berbeda dengan ombak laut.

”Luar biasa. Hanya itu yang bisa saya katakan tentang bono,” ujar Marlon Gerber, peselancar juara nasional 2011, seusai menjajal ombak bono dalam rangkaian Festival Bekudo Bono di Teluk Meranti, Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, beberapa saat lalu.

Peselancar senior Indonesia, Arya Subiakto, dalam tiga tahun terakhir tak pernah absen menjajal bono yang dahulu ditakuti warga lokal. Arya bersama sesama peselancar nasional akhirnya membuat pertandingan selancar sungai yang disebut baru pertama kali di dunia.

”Kami mencoba membuat metode penilaian pada selancar sungai ini dengan formula berdasarkan manuver selama tiga menit dan berpasangan. Semoga metode ini bisa diterima sebagai patokan penilaian peselancar sungai dunia,” kata Arya. Untuk kali pertama, panitia belum mengundang peselancar asing.

Fenomena alam

Bono adalah fenomena alam. Di Isle Surf and SUP, situs selancar dunia, bono Sungai Kampar dikategorikan gelombang sungai terbaik dari lima lokasi di dunia. Nomor dua berada di Sungai Qiantang yang membelah Provinsi Haining, China, yang diberi sebutan Naga Perak. Lalu di Sungai Araguari, Apama, Brasil; Gloucertershire di Inggris; dan Cook Inlet di Alaska, Amerika Serikat (AS).

Bono terjadi akibat pasang laut masuk ke sungai atau muara yang sempit berbentuk corong. Energi pasang laut menciptakan ombak tinggi di sungai dan dapat berjalan sepanjang 40 kilometer (km). Tinggi gelombang bono tergantung musim, terutama saat menjelang purnama.

DOK INDONESIA.TRAVEL Steve King, seorang peselancar sungai (tidal bore surfer) dari Inggris mencoba menorehkan sejarah baru dalam catatan surfing di atas gelombang sungai dengan waktu terlama dan jarak terpanjang di Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.
Bono semula adalah peristiwa alam yang sangat ditakuti warga sekitar Teluk Meranti. Ombak besar itu bisa menenggelamkan kapal nelayan dan menyapu apa saja yang ada di bibir sungai. Mitosnya, bono adalah pertemuan tujuh hantu.

Menurut Abu Somah (83), sesepuh warga Teluk Meranti, bono kerap mengambil korban jiwa. Tahun 1985 dikabarkan 45 orang tenggelam di sungai itu tersapu bono. Sejak saat itu, bono kian dihindari. Tak ada yang berani mendekatinya.

Lima tahun terakhir, bono dikenal dunia luar. Beberapa peselancar asing mulai hadir, seiring masuknya lembaga pemerhati lingkungan dunia, Greenpeace, di Semenanjung Kampar. Peselancar kelas dunia, seperti Steve King, beberapa kali datang dan menjajal ketahanan berselancar yang konon memecahkan rekor berselancar paling lama di dunia tahun 2012.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X