Membelah Makau dari Gereja Tua St Paul

Kompas.com - 27/01/2014, 11:15 WIB
Suasana Pelataran Gereja Tua St Paul di Makau. KOMPAS/ADI PRINANTYOSuasana Pelataran Gereja Tua St Paul di Makau.
EditorI Made Asdhiana
PAGI masih muda, tetapi ribuan orang sudah memadati tangga di gereja tua St Paul di Makau. Wisata historis di sisa bangunan St Paul menjadi salah satu pesona Makau, yang bertekad menjadi ibu kota wisata Asia.

Bagi Sara Chan, warga Makau, gereja tua St Paul benar-benar menjadi landmark kebanggaan penduduk setempat. Ia yang kelahiran Makau pun selalu mengajak teman-teman atau saudaranya yang singgah ke Makau untuk mengunjungi St Paul. ”Tentu saja sambil berfoto atau melihat-lihat kawasan di sekelilingnya, yang memang mengasyikkan,” kata Chan.

Penduduk Makau sendiri sehari-hari jarang berkunjung ke St Paul. Namun, berbagai sudut di gereja tua St Paul selalu menjadi obyek menarik bagi para calon pengantin di Makau untuk pose foto menjelang pernikahan. ”Selain untuk foto pre-wedding, St Paul juga kerap menjadi arena foto-foto atau video penting, semisal foto wisuda. Jadi, kalau belum berfoto di St Paul ibaratnya belum ke Makau,” kata Chan.

Gereja tua St Paul menampilkan sosok dinding utama yang tinggi besar dan kokoh. Hampir tiap saat, sejak pagi hingga petang, para wisatawan sibuk berfoto dengan latar belakang dinding utama ini. Tangga dan dinding utama itu masih asli sejak pertama kali dibangun pada periode 1582 hingga 1602.

Ketika itu, katedral ini menjadi salah satu gereja Katolik terbesar di Asia. Namun, seiring dengan meredupnya nilai politis Makau, yang lalu ”hanya” dijadikan sebagai pelabuhan utama bagi distrik Pearl River Delta, kawasan penting Hongkong, kejayaan gereja ini pun meredup. Apalagi, semenjak rusak karena kebakaran yang terjadi di tengah badai topan pada 1835.

Romantika masa lalu di pelataran Gereja St Paul, di dalamnya juga ada museum, ibarat sambung-menyambung dengan tangga yang menghubungkan kawasan gereja dengan Alvenida de Almeida Ribeiro. Ini nama jalan raya penting di pusat Semenanjung Makau. Warga setempat menyebut kawasan ini dengan San Ma Lo.

KOMPAS/ADI PRINANTYO Pembukaan acara Winter at Cotai Strip di kawasan Pulau Taipa, Makau, akhir November lalu. Acara di kawasan wisata hiburan The Venetian Macao itu berwujud gedung bernuansa musim dingin Eropa.
Kerumunan massa ibarat tinggal berpindah. Setelah leluasa melihat berbagai ornamen dan artefak di museum, mereka menuruni tangga kemudian melintasi deretan toko di kanan-kiri jalan. Beraneka ragam barang dijajakan, mulai dari makanan, pakaian, hingga suvenir Makau.

Gereja tua St Paul berikut kawasan pertokoan di Avenida de Almeida Ribeiro berada di wilayah Semenanjung Makau, yang tak lain kawasan tertua di Makau, China. Secara geografis, daerah ini tersambung dengan wilayah Provinsi Guangdong, China, dengan daratan sempit seluas hanya 200 meter persegi.

Di sisi selatan kota tua Makau ini tersambung dengan Pulau Taipa melalui tiga jembatan, yakni Jembatan Persahabatan (Friendship Bridge), Jembatan Makau-Taipa (Macau-Taipa Bridge), dan Jembatan Sai Van (Sai Van Bridge).

Tema besar

Seperti halnya kedua daratan besar yang terhubung oleh jembatan, Makau juga menghubungkan kedua wilayah itu dalam satu ”tema besar” pariwisata. Wisata historis di kota lama Makau selama ini menjadi elemen penting bagi trade mark Makau, yakni wisata hiburan yang bertebaran di Pulau Taipa, salah satunya di kompleks The Venetian Macao.

Selain kasino Makau yang sudah ternama, wisata hiburan di Makau kini juga dilengkapi dengan Ice World, yang tak lain pameran patung es karya pemahat es asal Harbin, China. Bertema ”Ice World with the DreamWorks Gang”, mayoritas patung di sana adalah wujud tokoh-tokoh kartun top, seperti Shrek dan Fiona dari film Shrek, Po dan Tigress dari Kung Fu Panda, serta Alex si macan dari film Madagascar.

Ice World dipadu sejumlah acara pendukung, di antaranya konser Alicia Keys, juga pertandingan tinju Manny Pacquiao (Filipina) melawan Brandon Rios (Amerika Serikat). Tak ketinggalan, kehadiran mantan pesepak bola profesional David Beckham yang dalam konferensi pers mengumumkan kerja sama bisnisnya dengan The Venetian Macao.

KOMPAS/ADI PRINANTYO Pengunjung menyaksikan patung es di Ice Sculpture Exhibition di kompleks wisata hiburan The Venetian Macao di Makau, China, akhir November lalu. Beragam patung es karya pemahat es asal Harbin, China, berujud tokoh-tokoh kartun ternama.
Menurut Sara Chan, dahulu, ketika lisensi bisnis kasino hanya dimiliki satu pihak tertentu, Makau hanya menjadi tujuan wisata sehari. Artinya, turis hanya singgah tanpa bermalam.

”Tetapi sekarang, dengan liberalisasi industri hiburan termasuk kasino, turis tinggal lebih lama di Makau karena mereka bisa berbelanja dan menikmati berbagai event di sini,” tambah Sara Chan.

Alhasil, setelah mengunjungi gereja tua St Paul yang sarat nuansa sejarah, turis di Makau bisa berbelanja sambil sesekali nongkrong di San Ma Lo, ruang publik yang sempurna dengan aneka oleh-oleh dan jajanan. Jangan lupa, cek beragam agenda pementasan musik atau event olahraga yang sesekali digelar di Makau. (ADI PRINANTYO)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X