Kompas.com - 28/01/2014, 10:01 WIB
EditorI Made Asdhiana
SEMILIR angin berembus sejuk menerpa pepohonan besar yang tumbuh di sekeliling mata air Cibulan di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Sejumlah wisatawan asyik berenang di kolam, bercengkerama dengan ikan-ikan langka bersisik besar yang bentuknya panjang mirip perpaduan ikan mas dan ikan arwana. Sebuah harmoni yang terpadu.

Itulah sekilas suasana keseharian kolam ikan dan Sumur Tujuh Cibulan, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jabar. Warga setempat menamai hewan keramat yang hidup di air bening itu sebagai ”ikan dewa” atau ikan kancra bodas dalam bahasa setempat.

Ikan-ikan dewa yang suka bergerombol itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu di kolam Cibulan. Perkembangbiakannya lambat, tetapi tingkat kematiannya rendah. ”Setiap tahun ikan itu ada yang mati, satu atau dua,” ujar Iman Sariman (31), juru kunci atau kuncen Sumur Tujuh Cibulan.

Dari penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Limonologi LIPI, ikan yang beratnya 1 kilogram hingga 15 kilogram dan panjangnya bisa sampai 75 sentimeter itu merupakan ikan asli Kuningan. Menurut penuturan Slamet Riyadi, karyawan senior Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, dan beberapa penduduk, rombongan ikan purba (Labeobarbus doumensis) itu hanya hidup di kolam Cibulan, Cigugur, Pasawahan, Linggarjati, dan Darmaloka.

Kelima kolam itu terletak di kaki Gunung Ciremai, mulai dari lereng utara (Pasawahan) yang melengkung seperti bulan sabit hingga lereng tenggara (Cigugur) dan lereng selatan (Darmaloka). Di ujung lengkungan itu terletak kolam keramat Cibulan. ”Jangankan di tempat yang jauh, di kolam di bawah kelima kolam itu, dengan air yang berasal dari kolam ini, ikan-ikan itu tidak bisa hidup,” ujar Slamet Riyadi. LIPI menamakan hewan air itu ikan tambra.

Berdasarkan karakteristiknya, ikan dewa itu baru hidup di sumber air yang jernih, bersih, dan mengalir secara terus-menerus. Mata air jenis ini hanya bisa timbul jika lingkungan hutannya lestari dan pepohonan lebat.

Sejarah karuhun

Bagi warga di Cibulan, keberadaan ikan dewa terkait dengan kisah Ki Gede Padara, yang oleh warga disebut Ki Gedeng Padara, seorang petapa sakti, leluhur (karuhun) desa.

Alkisah Cigugur yang terletak 3 kilometer di atas Kota Kuningan pada sekitar tahun 1430 bernama Dusun Padara. Kala itu, warga setempat memerlukan sumber air. Ki Gede lalu bersemadi seraya menancapkan sebilah keris di sebuah kaki bukit yang masih hijau di Gunung Ciremai.

Saat itu, ada suara bergemuruh seperti tanah berguguran, yang kemudian dinamakan Cigugur. Dari bawah akar pohon kemudian keluar air, yang selanjutnya ditampung dalam sebuah kolam dan terus ke hilir dusun. Ki Gede lalu menangkap ikan kancra bodas dari tiga sungai, yakni Sungai Cilutung di Majalengka, Sungai Cisanggarung di Kuningan, dan Sungai Cijolang di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah sekarang. Ikan tersebut kemudian dimasukkan ke kolam Cigugur.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia dengan Sensasi Berjalan di Awan

8 Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia dengan Sensasi Berjalan di Awan

Jalan Jalan
Mesut Oezil di Indonesia, Ingin Salat Jumat di Masjid Istiqlal

Mesut Oezil di Indonesia, Ingin Salat Jumat di Masjid Istiqlal

Travel Update
Tradisi Roko Molas Poco di Manggarai NTT, Budaya Hormati Perempuan sebagai Ibu Bumi

Tradisi Roko Molas Poco di Manggarai NTT, Budaya Hormati Perempuan sebagai Ibu Bumi

Travel Update
Sering Lihat Pramugari Letakkan Tangan Dibelakang, Ini Penjelasannya

Sering Lihat Pramugari Letakkan Tangan Dibelakang, Ini Penjelasannya

Travel Update
7 Tips Keliling Jakarta Naik Bus Wisata Gratis, Naik di Halte Pertama

7 Tips Keliling Jakarta Naik Bus Wisata Gratis, Naik di Halte Pertama

Travel Tips
Panduan Wisata Pantai Pulau Merah Banyuwangi, Ada Tips Lihat Sunset

Panduan Wisata Pantai Pulau Merah Banyuwangi, Ada Tips Lihat Sunset

Travel Tips
Mesut Oezil Pilih Rendang Sebagai Makanan Terenak Indonesia

Mesut Oezil Pilih Rendang Sebagai Makanan Terenak Indonesia

Travel Update
Mesut Oezil Ingin Kunjungi Bali dan Masjid Istiqlal

Mesut Oezil Ingin Kunjungi Bali dan Masjid Istiqlal

Travel Update
Menparekraf Sasar Micro Influencer Atlet untuk Promosi Sport Tourism

Menparekraf Sasar Micro Influencer Atlet untuk Promosi Sport Tourism

Travel Update
Kemenparekraf Gandeng Mesut Oezil, Bidik Pasar Timur Tengah dan Eropa

Kemenparekraf Gandeng Mesut Oezil, Bidik Pasar Timur Tengah dan Eropa

Travel Update
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Pantai Pulau Merah Banyuwangi

Travel Tips
Covid-19 Melandai, Masyarakat Aceh Ramai Bikin Paspor untuk Wisata

Covid-19 Melandai, Masyarakat Aceh Ramai Bikin Paspor untuk Wisata

Travel Update
Pantai Pulau Merah Banyuwangi, Terkenal dengan Sunset Berwarna Merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi, Terkenal dengan Sunset Berwarna Merah

Jalan Jalan
Turis Indonesia Paling Banyak Kunjungi Singapura pada April 2022

Turis Indonesia Paling Banyak Kunjungi Singapura pada April 2022

Travel Update
Menjelajahi Alam di Rahong Utara NTT, Menikmati Air Terjun Cunca Lega

Menjelajahi Alam di Rahong Utara NTT, Menikmati Air Terjun Cunca Lega

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.