Kebudayaan Basis Pengembangan Pariwisata DIY

Kompas.com - 29/01/2014, 18:03 WIB
Prajurit Bugisan mengawal Gunungan Kakung yang dibawa dari Keraton Yogyakarta menuju ke Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada acara tradisi Grebeg Maulud, Rabu (16/2/2011).  KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOPrajurit Bugisan mengawal Gunungan Kakung yang dibawa dari Keraton Yogyakarta menuju ke Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada acara tradisi Grebeg Maulud, Rabu (16/2/2011).
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Potensi kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta harus menjadi basis pengembangan pariwisata daerah itu. "Jika dilandasi dengan basis budaya lokal maka diyakini pariwisata di daerah ini akan makin diminati wisatawan, dan pariwisata akan berkembang secara dinamis," kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta, Widi Utaminingsih di Yogyakarta, Selasa (28/1/2014).

Menurut dia, pembangunan pariwisata berbasis budaya sudah saatnya dikembangkan sebagai gerakan penyadaran pemangku kepentingan pariwisata sehingga mereka kembali ke basis awal bahwa pembangunan pariwisata tidak boleh melupakan akar budaya masyarakat.

Widi mengatakan pariwisata DIY hidup dan berkembang bersama budaya sehingga wisatawan tertarik mengunjungi daerah itu karena mengagumi produk budaya yang hidup dan dilestarikan masyarakat setempat.

"DIY memiliki banyak ragam budaya yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Kekayaan budaya tersebut bahkan menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan, misalnya tempat bersejarah, adat istiadat, masakan khas, dan kesenian tradisional," kata Widi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Warga berebut isi gunungan yang dilarung dalam tradisi Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman di Pantai Glagah Indah, Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Sabtu (24/11/2012). Tradisi yang digelar setiap tanggal 10 Muharram atau 10 Sura menurut penanggalan Jawa tersebut untuk memohon kepada Tuhan agar Dwi Tunggal Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman serta seluruh masyarakat DI Yogyakarta dikaruniai berkah, keselamatan, serta kesejahteraan.
Menurut Widi, potensi budaya dapat dikemas dalam paket kunjungan wisata, termasuk di antaranya desa budaya, desa wisata, sentra kerajinan, dan pusat kesenian rakyat.

Dengan kembali ke basis budaya dalam pengembangan pariwisata akan memperkokoh Yogyakarta sebagai pusat budaya, apalagi DIY saat ini sudah memiliki Undang-Undang Keistimewaan.

"Selain itu penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya sebagai tontonan wisatawan hendaknya terus diselenggarakan sehingga seni dan budaya yang banyak berkembang di wilayah pedesaan di DIY mampu menjadi daya tarik wisatawan," ujar Widi Utaminingsih.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X