Kompas.com - 16/02/2014, 15:21 WIB
EditorI Made Asdhiana
MASA lalu Sumenep yang kaya persinggungan kultur berjejak di bangunan-bangunan bersejarah. Berlapis-lapis warna budaya di ujung timur Pulau Madura itu terekam di dinding keraton, masjid, hingga kompleks makam bangsawan.

Piring-piring berisi nasi mengepul dengan potongan bebek goreng dan sambal mulai diedarkan di atas meja salah satu restoran bebek yang terdapat di dekat Jembatan Suramadu. Itu santapan pertama di Pulau Madura dalam perjalanan bersama para blogger yang menjadi juara ajang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, Desember lalu.

Saya lirik empat blogger juara itu. Ada Amril Taufik Gobel (Bekasi), Danan Wahyu Sumirat (Jambi), Dwi Aryani (Malang), dan Syaifullah (Makassar). Di antara mereka hadir pula sejarawan JJ Rizal. Para blogger belum menyentuh sajian itu. Mereka malah sibuk memotret paha dan dada bebek yang terlihat empuk. Saya yakin (selama ada jaringan internet), dalam hitungan menit, bebek-bebek itu bakal tampil di media sosial mereka. Sesuai tujuannya, mereka memang diajak berkeliling untuk menyebarkan cerita tentang warisan budaya Indonesia. Kali ini tentang Sumenep, Madura.

Daging bebek goreng yang lembut, gurih, dan kaya rasa itu seperti memberi isyarat betapa Madura memiliki beragam warna. Ada kearifan, keterbukaan, sekaligus kekayaan rasa budaya yang tak lepas dari sejarah panjang kekuasaan di pulau itu.

Kekayaan

Kekayaan budaya itu benar-benar mewujud ketika kami tiba di Keraton Sumenep keesokan harinya. Di kompleks bangunan itulah pengaruh Jawa, Madura, Eropa, dan Tionghoa melebur dalam gaya arsitektur dan ornamen. Keraton itu dibangun pada era penguasa Sumenep Natakusuma I alias Panembahan Somala sepulang dari peperangan Blambangan tahun 1767. Keraton itu selesai dibangun tahun 1780.

KOMPAS/INDIRA PERMANASARI Masjid jamik di Sumenep. Masjid ini diarsitekiLau Piango, seorang Tionghoa.
Tadjul Arifien, pengamat budaya Madura sekaligus penulis buku Sumenep dalam Lintasan Sejarah, yang menemani menelusuri keraton, mengatakan, keraton itu dirancang oleh arsitek Tionghoa, Lau Piango. Piango adalah salah satu dari enam orang Tionghoa yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Diperkirakan dia seorang pelarian dari Semarang pada saat terjadi huru-hara Tionghoa.

Tentang huru-hara Tionghoa, sejarawan JJ Rizal lalu bercerita, kehadiran orang Tionghoa di Madura tak lepas dari Peristiwa 1740, yakni pembantaian terhadap orang Tionghoa di Batavia yang merembet menjadi perlawanan besar orang Tionghoa, terutama di Semarang. Banyak orang Tionghoa yang lari, termasuk ke Sumenep.

”Tidak hanya diterima oleh Natakusuma I, orang-orang Tionghoa juga diminta membantu mimpi besar Natakusuma I, yakni membangun bangunan-bangunan besar. Motif banji yang berakar dari ornamen swastika dan motif burung hong pada ukiran di keraton, misalnya, bagian dari jejak Tionghoa,” ujar JJ Rizal.

Pengaruh Tionghoa itu juga terlihat di masjid jamik yang juga diarsiteki Lau Piango. Namun, kesan islami tetap hadir. ”Orang Tionghoa kemudian menjadi masyarakat peranakan Madura yang mengalami asimilasi sehingga sulit dikenali lagi,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lokasi Royal Ambarrukmo Yogyakarta yang Jadi Tempat Pernikahan Kaesang

Lokasi Royal Ambarrukmo Yogyakarta yang Jadi Tempat Pernikahan Kaesang

Travel Update
15 Tempat Wisata Tahun Baru di Kota Bandung, Bisa City Tour

15 Tempat Wisata Tahun Baru di Kota Bandung, Bisa City Tour

Jalan Jalan
Nikahan Kaesang, Wisata Istana Mangkunegaran Tutup 7-11 Desember 2022

Nikahan Kaesang, Wisata Istana Mangkunegaran Tutup 7-11 Desember 2022

Travel Update
Ini 5 Tips Traveling ke Luar Negeri Antiribet

Ini 5 Tips Traveling ke Luar Negeri Antiribet

BrandzView
Panduan Transportasi ke Museum Katedral Jakarta, Berhenti di Stasiun Juanda

Panduan Transportasi ke Museum Katedral Jakarta, Berhenti di Stasiun Juanda

Travel Tips
Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

Travel Update
Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

Travel Update
20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

Travel Update
13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

Travel Tips
Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

Travel Update
30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

Jalan Jalan
Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

Travel Update
Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

Travel Update
5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

Jalan Jalan
3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.