Kompas.com - 18/02/2014, 11:40 WIB
Taufik Udjo, anak Mang Udjo, yang bersama saudara-saudaranya kini mewarisi dan mengelola Saung Angklung Udjo. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOTaufik Udjo, anak Mang Udjo, yang bersama saudara-saudaranya kini mewarisi dan mengelola Saung Angklung Udjo.
EditorI Made Asdhiana
MENYIMAK angklung di saung di antara rerimbunan bambu dan semilir angin persawahan. Itulah cita-cita sederhana pasangan Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati. Tahun 1966, cita-cita itu terwujud dalam sebuah saung berukuran 100 meter persegi di sebuah jalan kecil bernama Jalan Padasuka, Bandung.

Udjo (alm) lebih populer disapa Mang Udjo memang sudah tiada. Namun, kini Saung Angklung Udjo (SAU) berkembang menjadi pusat industri seni pertunjukan angklung yang tidak kurang dikunjungi 2.000 penonton setiap hari. Lokasi yang tadinya 100 meter persegi, dan ditempati 12 orang, kini meluas menjadi 1,3 hektar. Bahkan, menurut Taufik Udjo, anak Mang Udjo yang kini menjadi Direktur Saung Angklung Udjo, mereka sudah membeli sejumlah lahan lagi dari warga sekitar.

”Prinsipnya tidak hanya meluaskan lahan, tetapi juga membuat tempat yang makin layak dengan tetap melibatkan warga sekitar,” kata Taufik, pekan lalu di Bandung.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Lorong dan halaman tengah di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/2/2014).
Siang itu sekitar 200 anak berusia 6-17 tahun menunjukkan kebolehan mereka bermain angklung, menyanyi, dan menari di hadapan sekitar 150 wisatawan. Para seniman muda itu berasal dari anak-anak Kampung Cicaheum, tempat SAU berdiri. ”Karena memang sejak awal Mang Udjo menerapkan pola asuh. Artinya, mengajarkan seni bermain angklung dan kesenian Jawa Barat pada umumnya kepada anak-anak,” kata Taufik.

SAU kemudian lahir menjadi pusat seni pertunjukan seni tradisi terbesar di Jawa Barat. Ia berhasil mengangkat angklung dari puing-puing tradisi, menjadi seni yang mendunia. Kini banyak negara menjadikan angklung sebagai medium pendidikan bagi anak-anak. ”Di Korea, Singapura, dan beberapa negara lain, angklung dimasukkan dalam kurikulum pelajaran kepada anak-anak di sekolah,” ujar Taufik. Bahkan, angklung kemudian ditetapkan menjadi warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO tahun 2010.

Mungkin itu sebuah pencapaian. Namun, menurut Atasi Amin, pemerhati kebudayaan Sunda, SAU telah lahir menjadi situs pertama yang membawa seni tradisi bertransformasi menjadi seni kontemporer. Atasi yang juga mengelola Studio Jeihan di kawasan Padasuka, Bandung, menuturkan, SAU bahkan lahir menjadi pusat industri kreatif terbesar di Jawa Barat.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Anak-anak sekitar perkampungan di Padasuka, yang sering tampil dalam pementasan, bermain-main di halaman belakang Saung Angklung Udjo.
”Angklung tak hanya menjadi instrumen, tetapi suaranya menggema sebagai tanda kreativitas para penemunya yang melampaui zaman,” kata Atasi.

Kawasan kreatif

SAU kini tidak hanya menjadi arena menonton angklung bagi wisatawan. Kawasan ini juga telah menjelma menjadi kawasan kreatif. Saung seukuran 100 meter persegi yang dibuat Mang Udjo sudah berubah menjadi Bale Karesmen, mirip pendopo di Jawa, yang bisa menampung 2.000 penonton sekaligus. Selain itu, di halaman samping kanan terdapat panggung terbuka untuk para penonton dalam jumlah terbatas.

Di halaman belakang terdapat bengkel kerja pembuatan angklung yang dipimpin Rahmat sejak tahun 1976. Bengkel kerja ini tidak kurang melibatkan sampai 400 pembuat angklung setiap hari. Di bengkel ini tidak kurang diproduksi 14.000 angklung setiap bulan. ”Itu sebagian besar untuk memenuhi pesanan dalam negeri karena hampir semua sekolah sekarang memiliki angklung,” kata Kang Rahmat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

Jalan Jalan
Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

Jalan Jalan
Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

Travel Update
Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

Jalan Jalan
Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

Travel Update
Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

Travel Update
Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

Travel Update
Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

Travel Update
Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

Travel Update
Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

Travel Update
Syarat Naik Kereta Api per 18 Mei, Vaksin 2 Kali Tak Perlu Tes PCR

Syarat Naik Kereta Api per 18 Mei, Vaksin 2 Kali Tak Perlu Tes PCR

Travel Update
Markedila Cafe, Tempat Nongkrong dengan Panorama Lembah di NTT

Markedila Cafe, Tempat Nongkrong dengan Panorama Lembah di NTT

Jalan Jalan
Rute dan Tips Wisata ke Danau Ronggojalu Probolinggo

Rute dan Tips Wisata ke Danau Ronggojalu Probolinggo

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.