Mencuri Kesejukan Sedona

Kompas.com - 26/09/2014, 19:05 WIB
Taman nasional Red Rock di Sedona, Arizona, Amerika Serikat. ShutterstockTaman nasional Red Rock di Sedona, Arizona, Amerika Serikat.
EditorNi Luh Made Pertiwi F
SEDONA tak hanya terkenal dengan bebatuan merah yang memukau, tapi juga kombinasi hutan yang hijau dan kota kecil yang unik dan artistik.

Musim panas di Arizona (Amerika Serikat) —tepatnya di ibu kota Phoenix— bukan saat yang menyenangkan. Sejak pertengahan bulan April hingga sepanjang bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus, suhu tertinggi bisa mencapai 48 derajat celsius. Konon kabarnya di hari-hari yang paling panas, telur yang dipecahkan di atas aspal di siang hari bisa matang terkena sinar matahari. Saat musim panas, penduduk sekitar kota Phoenix biasanya menyempatkan diri meninggalkan sejenak suasana panas di kota mereka, menuju ke wilayah yang lebih sejuk. Salah satu tempat tujuan yang paling terkenal untuk liburan singkat mencari kesejukan adalah Sedona.

Kota Kecil yang Unik

Sedona terletak di bagian utara Arizona, tepatnya sekitar 200 kilometer dari ibukota Phoenix, berdekatan dengan kota-kota bertemperatur dingin lainnya seperti Flagstaff, Jerome, Prescott, dan Camp Verde. Jangan bayangkan Sedona seperti kota metropolitan lengkap dengan fasilitas mal dan jalan layang. Kota ini hanya berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa. Namun jangan kaget, meskipun kota mungil dengan sedikit penduduk, soal popularitas kota ini terkenal eksklusif. Pesohor terkenal dunia banyak yang menyempatkan diri untuk mampir ke kota ini, di antaranya Nicolas Cage, Johnny Depp, Bob Dylan, Mike Tyson, Martha Stewart, hingga Oprah. Beberapa bahkan membeli properti rumah peristirahatan di sini. Tak heran, meskipun kota kecil, harga properti dan lahan sangatlah mahal di Sedona, bahkan jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga properti dan lahan di ibukota Phoenix.

Sedona memang kota kecil yang menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan saat berkunjung ke sana. Yang paling umum adalah menjelajah taman nasional Red Rock. Taman nasional ini tak besar, hanya sekitar 286 acre, namun pemandangannya sangat menakjubkan. Padang rumput hijau dibingkai oleh vegetasi asli dan bukit-bukit batu merah berkombinasi dengan warna oranye menyala. Sungai kecil berliku yang melalui taman nasional menjadi rumah bagi beragam tanaman dan satwa liar.

Komunitas Seni dan Perajin di Tlaquepaque

Inilah salah satu tempat favorit saya di Sedona untuk cuci mata, di luar urusan menjelajah alam. Sudut kecil tempat yang merupakan komunitas seni dan perajin ini menyajikan pengalaman tak terlupakan dalam konteks berbelanja. Dibangun dengan inspirasi kampung tradasional Meksiko, Tlaquepaque, yang berarti ‘terbaik dari semuanya’ telah menjadi landmark Sedona sejak tahun 1970-an.

Komunitas ini menempati area yang dipenuhi bangunan unik dengan dinding ditumbuhi tanaman menjalar, jalan setapak bebatuan, dan gerbang utama yang megah dan  artistik. Karena keunikannya, Tlaquepaque menjadi tujuan pendatang yang ingin berbelanja buah tangan, atau hanya sekadar duduk sambil menikmati musik tradisional. Kalau sedang beruntung, pengunjung bisa melihat seniman lokal sedang mengerjakan proyek seninya. Tlaquepaque juga sering menjadi tempat festival seni, termasuk tari-tarian dan musik.
    

Chicmagz.com/Uly Siregar-Equita Maulidya Chapel of the Holy Cross di Sedona, Arizona, Amerika Serikat.
Mencari Tuhan di Chapel of the Holy Cross

Menurut cerita, arsitektur unik dan lokasi spesial kapel ini merupakan karya Marguerite Bruswig Staude yang terinspirasi saat melakukan perjalanan ke New York di tahun 1932 dan mendapati bahwa bangunan Empire State yang baru dibangun saat itu bila dilihat dari sudut tertentu, akan menghasilkan ilusi berbentuk salib. Berdasarkan inspirasi itu, Staude berkeliling Eropa dan Amerika untuk mencari lokasi ideal untuk pembangunan gereja tersebut, dan saat berkunjung ke Sedona, ia tersentuh dengan keindahan alam Sedona dan memutuskan untuk membangun kapel di sini. Kapel yang selesai dibangun pada tahun 1952 dan merupakan contoh sempurna dari seni arsitektur modern yang menekankan pada keindahan jendela dan salib di belakang altar.

Terletak di antara dua ‘menara’ batu merah, the Chapel of the Holy Cross menyajikan pemandangan spektakuler, terutama menjelang matahari terbenam. Meskipun merupakan bagian dari lembaga agama Katolik, setiap orang yang ingin berkunjung dan masuk ke kapel diterima dengan tangan terbuka. Pengunjung dari berbagai keyakinan boleh berdoa seperti yang saya lakukan, atau bermediatasi, bahkan hanya sekadar merenung, sambil duduk diam menikmati alam.

Kombinasi keindahan alam, kekuatan karya seni dan kerajinan tangan, serta atmosfer spiritual merupakan perpaduan luar biasa, yang merupakan salah satu kekuatan Sedona, dibandingkan tempat sejenis yang juga menyajikan keindahan alam seperti Grand Canyon, misalnya. Tak heran ada ucapan terkenal tentang Sedona, “Tuhan menciptakan Grand Canyon tapi Dia tinggal di Sedona.”

(Uly Siregar/Equita Maulidya)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X