Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengunjungi Candi di Tengah Ladang Tebu

Kompas.com - 22/06/2015, 13:22 WIB
Kontributor Travel, Adhika Pertiwi

Penulis

MENGUNJUNGI candi adalah salah satu alternatif liburan yang mengedukasi. Jika Anda sudah sering berkunjung ke Candi Prambanan dan Candi Boko di Yogyakarta, saatnya berkunjung ke komplek candi yang ada di tengah pedesaan.

Salah satu pilihan yang bisa jadi tujuan liburan Anda adalah Candi Banyunibo yang berlokasi di selatan kompleks Candi Ratu Boko, tepatnya di Dusun Cepit, Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Lokasi candi ini ada di tengah pedesaan yang dikelilingi oleh area persawahan dan perkebunan tebu.

“Penamaan candi Banyunibo ini memiliki arti ‘air yang jatuh menetes’ dalam bahasa Jawa. Dulunya bangunan candi ditemukan dalam keadaan runtuh pada bulan November 1940, yang kemudian disusun kembali hingga selesai pada tahun 1978 dan diresmikan pada tahun 1978,” ujar Gino, salah satu petugas yang menjaga candi.

Gino memaparkan, meskipun candi ini tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko dan Candi Prambanan yang merupakan peninggalan Hindu, tetapi Candi Banyunibo memiliki atap berbentuk stupa yang menandakan bahwa ini adalah bangunan berlatar belakang agama Buddha.

Di area ini, terdapat satu bangunan candi induk yang dikelilingi oleh enam buah candi pelengkap yang disebut Candi Perwara. Hanya saja, keenam Candi Perwara yang diperkirakan berbentuk stupa dengan diameter 5 meter ini tidak bisa disusun ke bentuk semula.

Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 2.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 1.000 untuk pengunjung anak-anak, Candi ini bisa dibilang memiliki bentuk yang indah dengan taman yang tertata rapi di sekitarnya.

Saat masuk ke area candi, Anda harus melewati sebuah jembatan kayu kecil, kemudian pengunjung akan disambut bangunan candi induk berbentuk tambun yang menghadap ke barat.

Kemegahan peninggalan masa lalu ini diperindah dengan penataan taman yang rapi, dengan beberapa reruntuhan candi perwara yang disusun di bagian timur dan selatan candi induk. Bongkahan batuan lepas dari candi juga disusun membentuk segi empat untuk memagari kompleks candi yang dikelilingi ladang tebu.

Saat naik ke bangunan melewati anak tangga, Anda akan disambut sebuah lorong pendek yang menghubungkan area luar dengan ruangan utama candi. Di dinding lorong ini terdapat beberapa relief, sayangnya banyak batuan asli yang tidak ditemukan sehingga bentuk relief ini tidak lengkap.

KOMPAS.COM/ADHIKA PERTIWI Di sekitaran bangunan induk Candi Banyunibo, di Sleman, DI Yogyakarta, terdapat enam runtuhan candi pelengkap yang disebut Candi Perwara dan disusun rapi di bagian timur dan selatan candi.
Salah satu yang menarik dari lorong ini adalah adanya relief Dewi Hariti, yaitu tokoh wanita dalam agama Buddha yang dianggap sebagai Dewi Kesuburan. Ada juga relief Vaisravana, yaitu suami dari Dewi Hariti yang juga terpahat di dinding candi.

Di dalam candi, terdapat ruangan berbentuk persegi panjang dengan beberapa jendela di setiap dindingnya. Dalam beberapa periode tertentu, candi ini sering mendapatkan kunjungan dari pemuka agama Buddha yang melakukan ritual keagamaan di candi ini.

“Bangunan utama candi ini tingginya sekitar 2,5 meter, dan salah satu keunikan dari bangunan induk adalah adanya saluran air hujan di masing-masing sudut candi yang biasa disebut Jaladwara,” ujar Gino.

Gino menambahkan, di area Kecamatan Prambanan ini banyak ditemukan batuan candi dengan berbagai macam bentuk seperti bentuk lembu, stupa, dan batuan lepas lainnya.

Setelah berkunjung ke Candi Banyunibo ini, Anda bisa melanjutkan ke beberapa candi lain di sekitarnya, antara lain Candi Ijo dan Candi Barong yang terletak di atas perbukitan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com