Kompas.com - 02/07/2015, 12:28 WIB
Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAPatung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
EditorI Made Asdhiana

Semula, sejak 2004, penggunaan bangunan cagar budaya tersebut menggunakan sistem pinjam pakai. Namun, adanya Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Aset BUMN, pemanfaatan aset PT BA dan PT KAI tersebut harus menggunakan sistem sewa pakai.

General Manager PT BA Unit Penambangan Ombilin Eko Budi Saputro mengatakan, aturan tersebut mulai berlaku tahun ini. Namun terlepas dari aturan tersebut, Eko mempertanyakan komitmen pemkot dalam menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Sebab, tidak sedikit perubahan terjadi pada aset PT BA ketika dikelola pemkot.

”Pada 2006-2010 kita masih bisa menemukan rumah-rumah karyawan yang berupa rumah bambu panggung beratap seng tebal. Namun, pemkot justru memberikan bantuan yang membuat warga berlomba-lomba mengganti atapnya. Perubahan itu membuat nilai sejarah hilang,” katanya.

Hal itu juga terjadi pada perkampungan karyawan di sekitar kawasan gedung Info Box dan Lubang Mbah Suro. Dapur umum yang dulu ada di kawasan itu berubah menjadi hunian. Pemkot juga merobohkan Gedung Pertemuan Karyawan diganti gedung baru yang kini berfungsi sebagai Info Box.

Pariwisata

Ketua Paguyuban Adikarsa Raharja atau Paguyuban etnis Jawa di Sawahlunto, Purwoko, menilai, arah pengembangan Kota Sawahlunto semakin jauh dari visi awal kota. Visi awal diarahkan agar Sawahlunto tidak sekadar menjadi destinasi wisata, tetapi juga tempat belajar. Tidak hanya belajar soal tambang, tetapi juga kekayaan budaya mengingat masyarakat Sawahlunto terbentuk oleh beragam etnis seperti Minang, Jawa, Batak, Tionghoa, dan Bugis.

”Sejalan dengan itu, dilakukan pula reproduksi cerita tentang tambang, mengaktifkan kembali jalur dan lori, dan lubang-lubang yang punya deposit bisa untuk pembelajaran,” kata anggota Tim Tujuh, perumus visi Kota Sawahlunto itu. Namun dalam perjalan waktu, area penunjang justru yang lebih banyak dikejar.

Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang, Joni Wongso, mengatakan, Pemkot Sawahlunto telah memiliki sejumlah aturan terkait pengelolaan kota tuanya. Misalnya Perda No 2/2010 tentang Penataan Kawasan Kota Lama. Ini cukup menjadi dasar bagi pemkot mengelola baik aset yang ada. Apalagi ada juga UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya yang mengatur tentang pengelolaan aset cagar budaya.

Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumbar, Riau, Kepulauan Riau, Azwar Sutihat, mengatakan, Sawahlunto berstatus Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional sejak 2014. Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan, Pemkot terus berusaha mengembangkan pariwisata kota tua. (ISMAIL ZAKARIA dan YOVITA ARIKA)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X