Kompas.com - 22/12/2015, 09:00 WIB
Seorang pekerja tengah membersihkan salah satu candi di kompleks Candi Gedongsongo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah saat terjadi erupsi Merapi tahun 2014. KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIRSeorang pekerja tengah membersihkan salah satu candi di kompleks Candi Gedongsongo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah saat terjadi erupsi Merapi tahun 2014.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

UNGARAN, KOMPAS.com - Obyek wisata Candi Gedongsongo masih menjadi andalan pariwisata di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hingga Oktober 2015, obyek wisata yang berlokasi di Desa Candi, Kecamatan Bandungan ini menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar dibandingkan obyek wisata lainnya, yakni Rp 938.760.000.

"Data masuk hingga Oktober, Gedongsongo telah dikunjungi 1.003 wisatawan mancanegara (wisman) dan 202.305 wisatawan nusantara (wisnus)," ungkap Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Semarang Partono, Senin (21/19/2015).

Partono mengungkapkan pada tahun 2015 ini ada sejumlah penambahan fasilitas di Candi Gedongsongo, di antaranya flower temple atau susunan bunga membentuk bangunan candi. Selain itu juga dibangun toilet untuk wisatawan mancanegara, sesuai imbauan Gubernur Jawa Tengah (Jateng).

"Kami berharap dengan penambahan fasilitas itu bisa menarik minat wisatawan hingga berimbas pada meningkatnya kunjungan wisatawan. Khususnya dalam menghadapi momen libur Natal dan Tahun Baru," katanya.

Selain obyek wisata Gedongsongo, Pemkab Semarang juga mengelola Museum Palagan Ambarawa, Bukit Cinta Rawa Pening, dan Pemandian Muncul. Tiga obyek wisata tersebut sepanjang Januari hingga Oktober 2015 baru dikunjungi wisatawan nusantara, masing-masing sebanyak 23.779 dan 83.527 orang.

"Hingga awal Desember ini, kami pantau sudah masuk sekitar 95 persen. Kami optimis target PAD dari wisata tahun ini sebesar sekitar Rp 3,7 miliar bisa tercapai. Sekitar lima persen akan tertutup di masa libur Natal dan Tahun Baru," jelasnya.

Secara keseluruhan, wilayah Kabupaten Semarang ada 22 obyek wisata yang dikelola pemerintah dan swasta. Terbagi menjadi wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan.

Data Disporapar menyebutkan di kurun waktu yang sama, Langen Tirto Banyubiru mendominasi angka kunjungan wisata dengan 536.440 wisnus. Sementara dari sisi pendapatan, Kampoeng Kopi Banaran Bawen menjadi yang terbesar dengan Rp 2.889.749.995.

"Langen Tirto milik swasta dan Kampoeng Kopi Banaran milik PTPN IX. Jadi bukan kami yang mengelola," kata Partono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.