Perjuangan di Balik Kesuksesan Soto Betawi H. Ma’ruf

Kompas.com - 25/01/2016, 10:18 WIB
Rumah Makan Soto Betawi H. Ma'ruf yang dipadati pengunjung pada jam makan siang, Sabtu (13/1/2016) KOMPAS.com/Muhammad Irzal AdiakurniaRumah Makan Soto Betawi H. Ma'ruf yang dipadati pengunjung pada jam makan siang, Sabtu (13/1/2016)
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Sosok di balik terjaganya resep soto betawi sejak zaman penjajahan ialah Haji Ma’ruf bin Said. Bapak yang sudah mewariskan usaha soto betawi yang tersohor tersebut telah mulai meracik rempah-rempah sejak masih Hindia Belanda. Tepatnya mulai tahun 1940.

Pada masa sulit itu tekanan demi tekanan diterima rakyat Indonesia, termasuk Betawi, yang ada di pusat pemerintahan; penjajahan, diskriminasi ras, hingga perbudakan dialaminya. Hal ini membuat keluarga almarhum Haji Ma’ruf bin Said memutar otak untuk bisa bertahan hidup. Maka jalur kuliner yang ia pilih.

Kebolehannya meracik masakan didapatkan dari keturunan orangtuanya yang asli Betawi. Dari nol, Ma'ruf meracik bumbu soto betawi, trial and error terus dihadapinya dengan gigih. Pada masa sulit, sering kali ia harus berpindah tempat karena pikulan soto yang dibawanya diusir oleh petugas keamanan. Haji Ma’ruf berjuang dengan pikulannya hingga tahun 1970 akhir, ia tidak segera memiliki tempat menetap karena suatu alasan.

“Bapak sosok yang sangat gigih berjuang, ia bukan tidak mau menyewa tempat atau punya tempat menetap. Namun, pada masa sulit itu semuanya mahal, dan bapak tidak mau untuk meminjam dana ke bank, atau berurusan dengan bank pada masa itu,” tutur Muchlis Ma’ruf, generasi kedua pewaris soto betawi tersebut, saat ditemui KompasTravel di rumah makannya Sabtu (23/1/2016).

Gedung PLN dekat Stasiun Gambir ialah tempat pertama yang ditempati oleh pikulan H. Ma’ruf kala itu. Berpindah ke Pasar Boplo yang merupakan cikal bakal kawasan elite Menteng, berdekatan dengan Stasiun Gondangdia. Lalu ia pindah lagi ke stasiun kereta api yang sekarang sudah dibongkar beralih fungsi menjadi Kantor Imigrasi.

Pembongkaran tersebut membuatnya harus berpindah lagi, yaitu ke Taman Lengkeng yang sekarang Jalan Cut Nyak Dien, di mana berdiri kantor Kelurahan Gondangdia.

Pada awal tahun 1971 banyak penertiban dilakukan pemerintah. Alhasil, H. Ma’ruf kembali memindahkan bakulan sotonya, kini ke Jalan Cikini Raya, Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dan, terakhir dari tahun 1983 hingga kini, bakulnya bersandar apik di bangunan sederhana di dalam Taman Ismail Marzuki.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Ramai pembeli, di Rumah Makan Soto Betawi H. Ma'ruf yang berada di dalam kompleks Taman Ismain Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Soto Betawi yang menggunakan rempah-rempah alami, dan tanpa penyedap merupakan menu favorit para pelanggan dari berbagai daerah.
Enam kali perpindahan yang dijalaninya akhirnya berbuah manis, kini penerus-penerusnya tidak lagi terpapar sinar matahari dan guyuran hujan. Walaupun bangunannya sederhana dan masih berstatus pijam ke pemerintah daerah, tapi boleh dilihat yang parkir di depan bangunan itu mobil-mobil mewah. Setiap harinya pun mampu menjual hingga 200 porsi soto betawi, bahkan sempat diekspor ke Belanda dan Jerman.

Muchlis mengakui bukan hanya resep yang diwariskan dari bapaknya, melainkan juga para pelanggan kelas atas. Tak heran dari zaman Belanda, Menteng merupakan kawasan elite Ibu Kota, tempatnya para pejabat dan mantan pejabat.

“Alhamdulillah, dari zaman dulu sejak keluarga Cendana, Gus Dur, Megawati, hingga sekarang Jokowi dan JK pernah makan di sini, selain orang-orang penting negara lainnya,” kata Muchlis, sambil menunjukkan foto-foto pejabat yang pernah makan di warung soto miliknya.

Hingga saat ini usaha soto betawi tersebut sudah dipegang generasi kedua, dan akan diwariskan ke generasi ketiga, yaitu anak dari Muchlis Ma’ruf. Resep yang selalu alami dan dijaga langsung oleh pemilik merupakan salah satu kunci eksistensinya hingga saat ini. Selain itu, semangat juang dari H. Ma’ruf sang pelopor pun selau menjadi panutan keluarga sehingga mewariskan semangat perjuangannya tersebut.

Di generasi kedua ini, Muchlis menambahkan menu baru, yaitu laksa betawi yang diraciknya langsung. “Kami menambahkan menu baru dari warisan bapak, yaitu laksa betawi. Ini karena banyak permintaan dari konsumen. Alhamdulillah tidak kalah laris dengan sotonya. Bumbunya pun kami racik sendiri dan tetap alami, tidak menggunakan penyedap,” tambah Muchlis.

Jika Anda penasaran dengan kelezatan soto ini, silakan mampir di Soto Betawi H. Ma’ruf, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya Nomor 73, yang buka mulai pukul 08.00 hingga 20.30 WIB.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bikin Terharu, Siswa Singapura Berterima Kasih Lewat Tarian pada Penerbangan Terakhir Singapore Airlines dari Selandia Baru

Bikin Terharu, Siswa Singapura Berterima Kasih Lewat Tarian pada Penerbangan Terakhir Singapore Airlines dari Selandia Baru

Whats Hot
Gandeng Accor Hotels, Kemenparekraf Siapkan Akomodasi untuk 1.100 Tenaga Medis Covid-19

Gandeng Accor Hotels, Kemenparekraf Siapkan Akomodasi untuk 1.100 Tenaga Medis Covid-19

Whats Hot
Lawless Burgerbar Berbagi Burger untuk Tenaga Medis Covid-19 di Jakarta

Lawless Burgerbar Berbagi Burger untuk Tenaga Medis Covid-19 di Jakarta

Makan Makan
Kemenparekraf Kerja Sama dengan Jaringan Hotel dan Transportasi untuk Fasilitasi Tenaga Medis Covid-19

Kemenparekraf Kerja Sama dengan Jaringan Hotel dan Transportasi untuk Fasilitasi Tenaga Medis Covid-19

Whats Hot
Restoran Little Hongkong di Bali Berbagi Makanan untuk Tenaga Medis Covid-19

Restoran Little Hongkong di Bali Berbagi Makanan untuk Tenaga Medis Covid-19

Makan Makan
Update Wabah Virus Corona, Gantian China Larang Kedatangan Turis Asing

Update Wabah Virus Corona, Gantian China Larang Kedatangan Turis Asing

Whats Hot
AirAsia Indonesia Hentikan Sementara Seluruh Penerbangan Mulai 1 April 2020

AirAsia Indonesia Hentikan Sementara Seluruh Penerbangan Mulai 1 April 2020

Whats Hot
Homestay di Purwokerto Sediakan Tempat Istirahat untuk Tenaga Medis Covid-19

Homestay di Purwokerto Sediakan Tempat Istirahat untuk Tenaga Medis Covid-19

Jalan Jalan
Ini 4 Hotel Jakarta Tourisindo yang Jadi Tempat Tinggal Tenaga Medis Covid-19

Ini 4 Hotel Jakarta Tourisindo yang Jadi Tempat Tinggal Tenaga Medis Covid-19

Jalan Jalan
2 Hotel di Jakarta Sudah Terisi Tenaga Medis Covid-19

2 Hotel di Jakarta Sudah Terisi Tenaga Medis Covid-19

Whats Hot
[Populer Travel] Kru Emirates Salam Perpisahan | Cara Mengolah Telur

[Populer Travel] Kru Emirates Salam Perpisahan | Cara Mengolah Telur

Whats Hot
Apa Itu Dalgona? Permen Tradisional ala Korea

Apa Itu Dalgona? Permen Tradisional ala Korea

Makan Makan
Borough Market di London Adakan Kelas Memasak Gratis, Tertarik?

Borough Market di London Adakan Kelas Memasak Gratis, Tertarik?

Makan Makan
Penutupan 20 Tempat Wisata Milik Pemprov Jakarta Diperpanjang

Penutupan 20 Tempat Wisata Milik Pemprov Jakarta Diperpanjang

Whats Hot
Wings Air Tangguhkan Penerbangan ke Meulaboh Aceh

Wings Air Tangguhkan Penerbangan ke Meulaboh Aceh

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X