Kompas.com - 18/12/2016, 10:21 WIB
Komunitas Pecinta Alam Tapak Kaki berfoto saat tiba di Air Terjun Mbaho Gamira, di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo'oa, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. KOMPAS.COM/HENDRIK YANTO HALAWAKomunitas Pecinta Alam Tapak Kaki berfoto saat tiba di Air Terjun Mbaho Gamira, di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo'oa, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.
|
EditorI Made Asdhiana

GUNUNGSITOLI, KOMPAS.com – Pendiri Komunitas Pecinta Alam ”Tapak Kaki”, Yohanes Giawa, menebarkan senyum sumringah saat tiba di Air Terjun Mbaho Gamira, seakan terbayar hasil kelelahan selama tiga hari berada di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.

"Ini sebuah mutiara terpendam, tak ada seuntai kata ini lain sangat cocok untuk mengawali kisah keberadaan dan keindahan air terjun Mbaho Gamira," kata Yohanes Giawa, Pendiri Komunitas Pecinta Alam Tapak Kaki, Sabtu (17/12/2016).

Mbaho Gamira sebuah lembah air terjun yang terletak di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli, ini belum dketahui banyak orang, dan bahkan warga setempat sudah 40 tahun tidak menghuni hutan ini.

Mereka yang tinggal di daerah tersebut saja masih ada yang tidak tahu keberadaan pesona wisata satu ini. Untuk mencapai lokasi air terjun memang tidaklah mudah, sebab berada di tengah hutan belantara wilayah Desa Fadoro Hilimbowo. Sulit memang mengakses lokasi ini.

KOMPAS.com/HENDRIK YANTO HALAWA Untuk menuju Air Terjun Mbaho Gamira, Komunitas Pecinta Alam Tapak Kaki, harus membelah hutan di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo'oa, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, Sabtu (17/12/2016).
Menurut Giawa, belum ada pilihan rute untuk mencapai air terjun tersebut.

“Perjalanan bisa dimulai dari belakang salah satu Pos Layanan Kesehatan di Desa Fadoro Hilimbowo, dari arah Kota Gunungsitoli menuju Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa. Akses terdekat lewat belakang itu pos kesehatan, kemudian berjalan kaki hampir 20 menit perjalanan," tuturnya.

Tapi hal ini sepadan dengan apa yang akan disuguhkan oleh keindahan alamnya ketika seluruh anggota Komunitas Pecinta Alam Tapak Kaki tiba di lokasi tersebut.

Yahones Giawa, mengatakan air terjun ini sangat cocok bagi mereka yang senang berwisata sambil trekking.

"Biar tahu saja, jalur ke lokasinya mesti melintasi sungai dan menembus hutan belantara adalah hal yang tidak dapat dihindari. Dan itu sebuah kenikmatan bagi para pecinta alam. Makanya tempat wisata yang satu ini beda dengan yang lain,” katanya.

KOMPAS.com/HENDRIK YANTO HALAWA Selain mendaki air terjun juga harus mendaki bukiu batu yang terjal untuk mencapai Air Terjun Mbaho Gamira di Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.
Keindahan Air Terjun Mbaho Gamira ini, lanjut Giawa, sangat spesifik yakni harus melintasi hutan, turun nak bukit, susur sungai, melewati lorong batu yang di bawah mengalir aliran air yang cukup licin, dan banyak menjumpai pendakian terjal dan sempit, di mana ketinggian hanya lima meter saja.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.