Gedung Tua di Kota Lama Semarang Mulai Dimanfaatkan

Kompas.com - 26/02/2017, 13:21 WIB
Salah satu sudut kawasan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/7/2016). Beberapa tahun terakhir, kawasan ini kian semarak. Semakin banyak bermunculan kafe-kafe, restoran, tempat hiburan, dan galeri seni di distrik bersejarah yang dibangun sekitar abad ke-17 tersebut. Para pemiliknya merestorasi sejumlah bangunan yang sebelumnya terbengkalai dengan biaya miliaran rupiah. Namun, masih ada juga titik-titik kumuh dan rawan kriminal yang mengganggu pariwisata. KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSOSalah satu sudut kawasan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/7/2016). Beberapa tahun terakhir, kawasan ini kian semarak. Semakin banyak bermunculan kafe-kafe, restoran, tempat hiburan, dan galeri seni di distrik bersejarah yang dibangun sekitar abad ke-17 tersebut. Para pemiliknya merestorasi sejumlah bangunan yang sebelumnya terbengkalai dengan biaya miliaran rupiah. Namun, masih ada juga titik-titik kumuh dan rawan kriminal yang mengganggu pariwisata.
|
EditorI Made Asdhiana

SEMARANG, KOMPAS.com - Upaya menghidupkan kembali roh Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah perlahan mulai terealisasi.

Salah satu perusahaan milik negara ikut membantu revitalisasi, dengan menjadikan salah satu gedung tua di kawasan itu sebagai tempat perkantoran baru.

Gedung tua yang dimaksud berada di Jalan Mpu Tantular, yang digunakan sebagai kantor PT Phapros Tbk, anak usaha PT Rajawali Nasional Indonesia (RNI) Group.

Gedung tua itu menjadi salah satu gedung bersejarah yang telah difungsikan kembali, dengan tanpa mengubah unsur sejarahnya.

Pemerintah Kota Semarang pun menyambut baik dukungan ini. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersyukur ada dukungan dari Phapros yang menggunakan gedung tua sebagai kantornya.

(BACA: Ngopi Sambil Menikmati Suasana Kota Lama Semarang)

Penggunaan gedung itu secara tidak langsung membuat aktivitas di kawasan tersebut bergeliat. Ia mengapresiasi, karena gedung-gedung tua yang terkesan menyeramkan itu mulai berubah. Cat-cat gedung diganti dengan yang baru. Wajah gedung tak lagi menyeramkan.

“Revitalisasi kawasan Kota Lama tidak saja perlu cat untuk me-make up dan mempercantik. Tetapi, saya harap agar rohnya tetap ada. Jadi tidak hanya diperbaiki, dicat, tetapi juga ada aktivitas yang terus dijalankan,” kata Hendrar, Sabtu (25/2/2017).

Revitalisasi gedung tua hingga saat ini masih sangat diperlukan untuk menunjang Kota Lama sebagai kota warisan budaya. Pemerintah pun akan memberi insentif bagi para pihak yang ingin menghidupkan lagi gedung tuanya.

Terkait pengaktifan lagi gedung tua, Pemkot Semarang tidak lagi memungut Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Insentif diharapkan mampu mendorong pemilik untuk menghidupkan lagi gedung-gedung tuanya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X