"River Tubing" Itu Asyik, Asal... - Kompas.com

"River Tubing" Itu Asyik, Asal...

Kompas.com - 10/03/2017, 06:30 WIB
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Wisata alam di Kali Senatan yang terletak di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi salah satu pilihan pelesir pelancong. Selain wisata alam, Ngargoyoso juga cocok untuk wisata kuliner di beberapa kedai teh dan agrowisata di sekitar kebun teh.

MAGELANG, KOMPAS.com - Tubing atau meluncur bebas di sungai menggunakan ban bagian dalam kendaraan, saat ini tengah digandrungi sebagian masyarakat Magelang dan sekitarnya. Banyak bermunculan obyek wisata yang dikelola masyarakat menawarkan kegiatan air itu.

Namun tubing bukan kegiatan yang bebas dilakukan tanpa pengawasan pemandu dan pendamping profesional. Semestinya kegiatan tubing juga harus dilengkapi peralatan pengamanan yang sesuai standar.

Hal ini dikatakan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Susanto pasca-tragedi tubing di Sungai Sono, Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (2/3/2017) lalu.

Musibah itu mengakibatkan 3 orang meninggal dunia karena hanyut hingga pantai Selatan, wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Tubing saat ini memang sedang tren, banyak yang suka karena menarik. Tapi sisi keamanan harus diperhatikan, ini penting karena pariwisata itu kuncinya aman," ujar Edi.

(BACA: Menikmati River Tubing Murah Meriah di Sumber Maron Malang)

Edi meminta kepada pengelola maupun masyarakat yang ingin membuka usaha wisata tubing untuk memperhatikan SOP (Standard Operating Procedure) yang telah ditentukan.

Edi meminta mereka untuk memperhatikan kondisi sungai dan cuaca saat hendak melayani wisatawan. "Kami mohon agar pengelola dan warga untuk mengenali cuaca, terutama di hulu sungai, apakah sedang hujan tidak. Lalu pantau debit air dan lain sebagainya," katanya.

Edi menyarankan pengelola untuk menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas relawan atau lembaga yang intensif memberikan informasi tentang cuaca dan keadaan terkini suatu wilayah.

KOMPAS.com/ANDI HARTIK Sejumlah wisatawan di Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (29/1/2017).
Jika tidak, kata Edi, pengelola bisa membentuk tim yang bekerja seperti komunitas-komunitas tersebut.

"Ada banyak komunitas yang selalu menginformasikan keadaan terkini, misalnya cuaca, debit sungai, dan lain-lain. Bekerja samalah dengan mereka atau ikuti kerja mereka," katanya.

Meskipun baru saja terjadi musibah, Edi meminta masyarakat untuk tidak takut atau khawatir berwisata tubing karena tubing adalah alternatif wisata alam yang menyenangkan.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata setempat dalam rangka menyusun prosedur tetap (protap) wisata air tersebut.

"Jangan takut, karena tubing itu asyik. Tapi yang asyik harus dibikin asyik, tetap waspada. Tubing itu single rafting jadi tanpa pendamping sehingga pengamanan harus lengkap, helm, pelampung, dan lain-lain," ujar Edi, mantan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang itu.

Kepala Polres Magelang AKBP Hindarsono mengatakan telah menginstruksikan kepada jajarannya agar ikut mengawasi kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan wisata air.

Masyarakat harus mengajukan izin kepada pihak berwajib sebelum membuka usaha wisata air di daerahnya.

"Kalau ada yang sudah izin tapi tidak mengindahkan ketentuan maka izin bisa dibekukan, karena ini menyangkut keselamatan jiwa seseorang," tegas Hindarsono.

KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI Sejumlah pemuda bermain petualangan air, yaitu permainan tubing (menggunakan ban), di tengah Sungai Sengkarang, yang membentang di Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah, baru-baru ini. Keberadaan sungai menjadi potensi pariwisata dan kekayaan alam Desa Lolong.
Terkait tragedi Sungai Sono, pihaknya mendapat laporan bahwa para korban nekat melakukan tubing tanpa pengawasan pendamping profesional dan dalam kondisi sungai serta cuaca yang tidak mendukung. Padahal mereka sudah diingatkan.

Karena itu, ia berpesan kepada masyarakat dan seluruh pengelola wisata air agar memperhatikan kondisi sebelum beroperasi, mulai dari batas waktu, kondisi sungai, sistem keamanan, cuaca dan lain sebagainya.

"Yang jelas kami akan melakukan evaluasi, sistem keamanannya, cek kapal, perizinan, jangan sampai ada korban lagi," ucap Hindarsono. 


EditorI Made Asdhiana

Terkini Lainnya


Close Ads X