Meski Sudah Dikenal Turis, Raja Ampat Tetap Berpromosi

Kompas.com - 13/06/2017, 10:03 WIB
Destinasi wisata Pianemo di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016). Untuk melihat panorama bahari ini, wisatawan harus menaiki 320 anak tangga, sebelum akhirnya rasa capek terbayar begitu melihat keindahan Pianemo dari atas bukit. KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANADestinasi wisata Pianemo di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016). Untuk melihat panorama bahari ini, wisatawan harus menaiki 320 anak tangga, sebelum akhirnya rasa capek terbayar begitu melihat keindahan Pianemo dari atas bukit.
EditorI Made Asdhiana

MANOKWARI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat berusaha meningkatkan infrastruktur pendukung pengembangan pariwisata di daerah tersebut.

Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati di Manokwari, Minggu (11/6/2017), mengatakan selain bandar udara, infrastruktur yang saat ini terus di perbaiki, yakni jalan menuju tempat wisata. Ia ingin para wisatawan nyaman saat berkunjung ke Raja Ampat.

"Pariwisata kalau tidak diimbangi dengan fasilitas pendukung yang nyaman, termasuk faktor keamanan bisa-bisa orang kapok begitu datang ke Raja Ampat. Kami tidak mau seperti itu," kata Umlati.

(BACA: Ini Cara Agar Wisata ke Raja Ampat Tidak Mahal)

Jalan darat dan pengembangan Bandara Waisai menjadi prioritas pemerintah Raja Ampat saat ini. Ia ingin, pemerintah daerah lebih mandiri dalam mengelola pariwisata di daerah tersebut.

KOMPAS.com/FIDEL ALI Pengunjung Festival Kuliner dan HUT ke-14 Raja Ampat saat mencoba membuat batik khas Raja Ampat.
Ia meyakini, pariwisata menjadi ssektor unggulan dalam membangun daerah. Perhatian pemerintah pusat cukup besar untuk Raja Ampat dan ia tak mau hal itu sia-sia.

Terkait pengembangan bandara, pemerintah pusat serta Provinsi Papua Barat terus mendukung dalam bentuk program. Kendala yang terjadi saat ini masalah status kawasan.

(BACA: Ini Makanan Khas Raja Ampat yang Membuat Laki-laki Lebih Perkasa)

Pengembangan bandara tersebut, menurut Umlati, terbentuk dengan status kawasan yang sebagian besar wilayah di daerah ini merupakan kawasan hutan konservasi.

"Ini masalah regulasi, bahwa 98 persen daerah Raja Ampat merupakan kawasan konservasi. Perlu campur tangan pusat untuk mengubah sebagian status kawasan tersebut, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bandara," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber ANTARA
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X