Ini Kelemahan Indonesia Membuat Agenda Wisata Kelas Internasional

Kompas.com - 27/09/2017, 11:08 WIB
Pawai Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-39 digelar di Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Sabtu (10/6/2017). Pelepasan pawai dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menggantikan Presiden Joko Widodo yang berhalangan hadir. PKB berlangsung selama sebulan penuh di Taman Budaya Bali atau Art Center dari 10 Juni hingga 8 Juli 2017. ARSIP KEMENPARPawai Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-39 digelar di Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, Sabtu (10/6/2017). Pelepasan pawai dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menggantikan Presiden Joko Widodo yang berhalangan hadir. PKB berlangsung selama sebulan penuh di Taman Budaya Bali atau Art Center dari 10 Juni hingga 8 Juli 2017.
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai masih banyak kelemahan dalam membuat acara atau event sekelas internasional. Akibatnya Indonesia belum bisa bersaing dengan negara lain, bahkan Malaysia yang sudah memiliki kalender top 50 tourism event.

Hal tersebut dikemukaan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III yang diadakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) 26-27 September 2017.

(BACA: Pesta Kesenian Bali Ramaikan Medsos dan Selalu Dicari Wisatawan)

Ia menginstruksikan seluruh dinas pariwisata daerah untuk berbenah dan menghasilkan Calendar of Events 2018 Indonesia dari cara tersebut.

"Kekurangan kita yang paling mendasar ialah tidak punya Calendar of Events (CoE) yang pasti untuk dijual. Makanya rakornas kita kali ini harus menghasilkan top 100 events untuk Calendar of Events 2018," ujar Arief Yahya dalam konferensi pers, Selasa (26/9/2017).

Patung kayu Sigale-gale menari tor-tor dalam Pembukaan Festival Danau Toba 2016 di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (9/9/2016) sore.KOMPAS.com/NURSITA SARI Patung kayu Sigale-gale menari tor-tor dalam Pembukaan Festival Danau Toba 2016 di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (9/9/2016) sore.
1. Menurutnya dari kekurangan tersebut dapat dilihat berbagai kelemahan lainnya. Kelemahannya mulai dari tidak konsistennya waktu penyelenggaraan acara, dari tahun ke tahun. Sehingga tidak ada tanggal pasti, dan wisatawan tidak bisa merencanakan jauh-jauh hari.

(BACA: Keunikan Tradisi Menangkap ?Nyale? dan Pasola di Sumba Barat)

"Saya sudah cukup bersabar tahun 2015 gak ada calendar of events, lalu 2016 ada kalender tapi tanggalnya belum, 2017 ada kalender dan ada beberapa tanggal pasti, ada juga yang belum. Nah 2018 tidak ada toleransi, kalau mau masuk kalender harus ada tanggal yang jelas dan konsisten," tegasnya di depan rekan wartawan.

(BACA: 4 Alasan untuk Datang ke Festival Kota Lama Semarang 2017)

2. Kelemahan kedua ialah belum berstandar internasional. Ia menilai walaupun mengangkat kearifan lokal mulai dari busana, tarian dan yang lainnya, harus bisa disejajarkan dengan standar dunia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X