Guti Nale, Tradisi Tangkap Cacing Laut di Mingar Lembata

Kompas.com - 11/03/2019, 21:06 WIB
Festival bertajuk Duli Gere, Lewo Ra e Malu di Lewobata, Nusa Tenggara Timur menampilkan beragam acara seperti karnaval Nale, Tarian Kolosal, Kuliner Nale dan Guti Nale itu sendiri. KOMPAS.com / NANSIANUS TARISFestival bertajuk Duli Gere, Lewo Ra e Malu di Lewobata, Nusa Tenggara Timur menampilkan beragam acara seperti karnaval Nale, Tarian Kolosal, Kuliner Nale dan Guti Nale itu sendiri.

Jarak tempuh dari Kota Lewoleba sekitar dua jam. Sebenarnya tidak begitu lama. Hanya kondisi jalan yang amat buruk membuat jarak tempuhnya agak lama.

Keluar dari kota Lembata, kondisi jalan menuju kampung Mingar pun agak berbeda. Jalan dipenuhi lubang dan lumpur. Jalannya becek dan licin. Maklum, paginya di daerah itu ada hujan. Mobil yang kami tumpangi harus berenang di lumpur dan melewati kali besar tanpa jembatan.

Namun, kondisi itu terobati pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan. Deretan bukit, laut yang indah, dan pulau-pulau di seberang bikin mata enggan berkedip.

Pukul 17.00, kami tiba di kampung Mingar, desa Pasir Putuh, kecamatan Nagwutung, kabupaten Lembata. Orang Mingar pun menyambut kami dengan senyum ramah.

Suasana begitu akrab. Tukar kasih dan saling pengertian. Kasat kelihatan gestur tubuh dan rona wajah memancarkan aura gembira. melebur dalam keakraban yang hangat.

Lelahnya perjalanan kami juga terbayar pesona pasir putih Mingar yang terhampar panjang berhadapan dengan Laut Sawu. Hari semakin sore, kami pun beranjak dari Pantai Mingar menuju penginapan yang sudah disiapkan panitia festival Guti Nale.

Keesokan harinya, kami mengikuti rangkaian ritual dalam tradisi Guti Nale ini pada 25-26 Februari 2019 lalu.  Sekitar pukul 09.00 (25/2). Rangkaian acara Guti Nale dimulai dengan memberikan sesajian di Koker Waitobi, Duli Ulu dan kubur Belawa.

Dimulai dengan bine (pihak perempuan) dari suku ketupapa bergegas ke rumah saudara laki-lakinya dari suku ketupapa sambil membawa bahan-bahan seperti ayam betina hitam, beras hitam (ketane), tuak, konok dan bleka.

Di tempat yang berbeda pihak bine Suku Atakabelen mengantar bahan-bahan yang sama kepada rumah ketua Suku Atakabelen. Beberapa saat kemudian, rombongan suku atakabelen berjalan menuju rumah ketua Suku Ketupapa, untuk sama-sama bergerak menuju Koker Waitobi yang letaknya di kampung lama.

Di Koker Waitobi, dua suku yakni Atakabelen dan Ketupapa melakukan ritual memberi makan leluhur (Srona dan Srani). Bahannya adalah beras hitam yang disangan sampai halus (ketane) yang dikerjakan pihak bine dari Suku Ketupapa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X