Kamis, 18 Desember 2014

News / Travel

Belajar Menyelam di Bunaken

Rabu, 11 Januari 2012 | 04:51 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com — Menyelam adalah kegiatan olahraga yang sangat menyenangkan. Kegiatan ini bukan saja baik bagi kesehatan, melainkan juga untuk menenangkan pikiran dan kepuasan batin. Meminjam kata-kata bijaksana seorang penyelam senior asal Florida, Arthur Hamilton, yang mengatakan, "Anda belum melihat dunia apabila Anda belum pernah menyelam di dasar laut."

Indonesia, negara tercinta ini, adalah tempat yang tepat untuk kegiatan menyelam. Hitung saja, di negara kepulauan yang terletak di antara dua benua dan samudra ini terdapat lebih dari 17.000 pulau dari ujung Sumatera sampai tanah Papua. Dikelilingi perbatasan antara laut Andaman, Singapura, Laut Cina Selatan, Malaysia, dan Filipina, serta samudra Pasifik Papua Niugini, Samudra Hindia dan Australia. Laut dan Samudra! Kebayang kan betapa tak terbatasnya air laut untuk diselami!

Lokasi menyelam eksotik di Indonesia begitu banyak dan beragam. Mulai dari Pulau Seribu, Ujung Kulon, Karimun Jawa, Kalimantan, Bali dan Sumbawa, Komodo, Wakatobi, Bangka, Banda dan Flores, Bintan, Makassar, Bunaken, sampai Raja Ampat di Irian Jaya.

Bunaken

Pulau Bunaken, yang berlokasi di Sulawesi Utara, dapat ditempuh pesawat udara langsung dari Jakarta selama 3 jam dan 10 menit. Selama kira-kira 15-40 menit dari pinggiran kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan kapal motor, melewati Gunung Manado Tua, Anda dapat melihat langsung Pulau Bunaken yang berada tepat di sebelah Pulau Siladen. Pulau Bunaken memiliki taman laut nasional yang terkenal di dunia dengan luas area lebih dari 75.000 hektar, yang dibagi oleh 3 persen daratan dan 97 persen lautan, termasuk di dalamnya Taman Laut Bunaken.

Salah satu majalah travel di Inggris dalam artikel yang berjudul "World Top 10 Best Dives Destination" menobatkan Taman Laut Bunaken sebagai salah satu destinasi selam terbaik di dunia. Penghargaan tersebut tidak berlebihan karena Taman Laut Bunaken yang diresmikan pada tahun 1991 ini dikelilingi oleh lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage, berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen yang jumlah keseluruhan memiliki 29 titik selam (dive spot) yang fantastis!

Apa yang membuat Bunaken spesial?

Pulau Bunaken adalah salah satu pulau yang memiliki biodiversitas kelautan atau keanekaragaman hayati terbanyak di dunia. Taman Laut Bunaken sendiri adalah taman laut yang dilindungi karena terdapat bermacam-macam tumbuhan dan binatang yang diproteksi untuk kepentingan perikanan dan kelautan, dan tentunya pariwisata.

Terdapat lima puluh delapan jenis terumbu karang dan 2.000 spesies ikan di Taman Laut Bunaken. Di antaranya ikan Kuda Gusumi (Hippocampus), Oci Putih (Seriola rivoliana), Lolosi Ekor Kuning (Lutjanus kasmira), kerapu (Epinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), Ila Gasi (Scolopsis bilineatus), jenis moluska seperti kima raksasa (Tridacna gigas), Kepala Kambing (Cassis cornuta), Nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan masih banyak lagi. Di samping itu, banyak binatang laut langka yang dapat ditemukan di Bunaken, seperti coelacanths, dugong, ikan paus, lumba-lumba, dan penyu.

Tidak ada masa off-seasons, alias kapan saja bisa menyelam di Bunaken. Walaupun menurut pengalaman saya pribadi, waktu terbaik untuk menyelam di Bunaken adalah pada bulan Mei dan Juni. Pada saat-saat seperti itu Anda akan disambut oleh air laut yang jernih dan hangat (temperatur udara 26 derajat celsius-31 derajat celsius). Air laut yang tenang hampir tanpa ombak dan arus, dengan jarak pandang 20 meter-35 meter, memungkinkan saya dapat melihat dengan jelas pesona terumbu karang dan ikan berwarna-warni dengan kedalaman hanya 5 meter! Kedalaman menyelam di Bunaken antara 5 meter dan 40 meter.

Menyelam di Bunaken merupakan suatu perjalanan yang istimewa. Melihat pemandangan bawah laut memberikan pengalaman yang cukup banyak. Kita akan melihat dan merasakan bagaimana menyelam di lokasi landai yang kaya terumbu karang, jenis ikan seperti "ikan Nemo" (clown fish), school fish, dan rombongan ikan warna-warni yang lalu lalang.

Di kedalaman lebih dari 18 meter, Anda akan merasakan pengalaman menyelam di tebing laut (wall diving), seakan kita "terbang" di kedalaman jurang laut (drop-off) yang seolah-olah tanpa dasar. Sesekali bisa bertemu dengan penyu raksasa yang konon sudah berumur hampir 100 tahun, ikan pari (manta, sting, dan eagle rays), kakap, kerapu, barakuda, napoleon, angel fish, blow fish, blue ribbon eels, lobster, sampai hiu!

Untuk para under water photographer di pastikan tidak akan kecewa dengan peluang gambar yang sangat spektakuler dan menarik untuk diabadikan menjadi gambar-gambar foto yang menawan. Seorang teman yang berprofesi sebagai fotografer profesional, Hanny Kandou yang kebetulan juga dive-master mengabadikan kegiatan menyelam kami di kedalaman 20 meter di bawah laut dengan peralatan foto yang cukup rumit. Namun, hasil foto yang di dapatkan sangat dramatis. Menyenangkan juga berpotret ria di dalam laut, bisa melupakan rasa cemas dan takut.

Belajar menyelam

Saya masih ingat saat kali pertama menyelam. Waktu itu saya sedang berlibur di Bunaken bersama seorang sahabat saya, Agnes. Karena belum bisa menyelam, saya harus berpuas diri dengan snorkeling; olahraga rekreasi mengambang di atas permukaan air yang dilengkapi masker dan kaki katak ini sudah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Waktu itu jarak pandang di bawah laut lumayan jernih. Kira-kira 5 meter dari permukaan air, saya bisa melihat Agnes yang sedang menyelam bersama Hanny. Agnes dengan leluasa bermain bersama ikan Nemo hanya dilengkapi peralatan snorkeling seperti saya! Terlihat Agnes melakukan pernapasan dengan teknik buddy-breathing, yaitu meminjam regulator atau alat pernapasan dari Hanny. Enak sekali dia, tidak perlu repot-repot menjinjing tabung udara yang berat, dia menyelam tanpa beban.

Dari situlah, saya tertarik untuk mencoba menyelam. Kenekatan saya membuat saya menerima tantangan Hanny yang hanya membekali saya kursus kilat selama 15 menit. Saya diajari tiga hal penting; pertama, cara bernapas menggunakan regulator. Bernapas melalui mulut, dengan cara menggigit plastik regulator agar tidak lepas.

Kedua, ada dua tombol yang tersambung di BC (buoyancy control, semacam rompi yang berisi udara) yang perlu diperhatikan. Inflating button dan deflating button. Inflating button untuk mengisi udara ke dalam BC agar tubuh menjadi ringan sehingga tubuh akan mengambang naik ke permukaan air, sedangkan deflating button digunakan untuk mengempiskan udara yang ada di BC sehingga tubuh menjadi berat dan perlahan tubuh akan "tenggelam" masuk ke dalam air.

Hal terakhir yang diajarkan adalah bahasa isyarat. Dikarenakan di dalam air kita tidak bisa berbicara, maka satu-satunya cara berkomunikasi adalah dengan bahasa isyarat, yaitu isyarat ibu jari dan telunjuk membentuk huruf "O" berarti "kita dalam keadaaan oke, baik; kemudian isyarat dengan menggunakan tangan yang digerakkan horizontal ke kiri dan ke kanan, yang artinya adalah "kita dalam keadaan tidak baik; gugup, panik, pusing, dan lain-lain"; serta isyarat yang ketiga yaitu "RCTI oke" yang digerakkan naik-turun, yang artinya "saya mau naik!"

Makanya saya selalu tersenyum saat melihat iklan televisi swasta tersebut dengan mengacungkan jempol di dalam air yang menyatakan "RCTI oke", yang artinya dalam bahasa isyarat penyelam adalah "RCTI mau naik!"

Dengan berbekal ketiga pengetahuan singkat tersebut, saya memberanikan diri untuk langsung menyelam! Pengalaman yang tak terlupakan pada saat saya melihat terumbu karang dan ratusan ikan di kedalaman empat meter membuat saya hampir lupa bernapas! Kalau ingat pengalaman itu, saya merasa sangat bodoh karena setahun kemudian saya mengambil kursus menyelam dan instruktur selam saya membuka kelas mengajarnya dengan satu pertanyaan, yaitu "Apa konsekuensi menyelam?" dengan jawaban telak yaitu, "Mati!" Seharusnya saya tidak melakukan penyelaman dengan hanya berbekal kursus kilat waktu itu! Wuih!

Olahraga scuba diving atau set contained underwater breathing apparatus memang olahraga yang cukup berbahaya. Namun, apabila kita mengetahui cara menyelam yang baik dan benar, maka kegiatan ini sangatlah seru. Lembaga resmi di Indonesia ada Pusat Olah Raga Menyelam Seluruh Indonesia (Possi), Confederation Mondiale des Activities Subaquatiques (CMAS) asal Italia, Professional Association Diving Instructors (PADI), Scuba Diving International, dan beberapa lembaga selam lainnya.

Saya mengambil kursus menyelam selama lima hari (dua hari teori dan tiga hari praktik) untuk mendapatkan sertifikat open water dive dari National Association of Underwater Instructors (NAUI). Saya diajari pengetahuan dasar dan teknik menyelam. Saya juga belajar mengenai peralatan selam, pengetahuan menyelam, upaya penyelamatan diri dan bagaimana melakukan praktik selam yang aman dan nyaman, juga tak kalah pentingnya adalah belajar bagaimana menjadi penyelam yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Di Taman Laut Bunaken, masih saja terlihat beberapa sampah di atas permukaan air. Sudah hal biasa saat menyelam saya sering mengambil sampah plastik ataupun kaleng minuman yang nyangkut di karang dan membawanya ke atas kapal. Kegiatan yang dilarang oleh pemerintah setempat dan Nature Conservation di Bunaken adalah memancing, menebang pohon, dan merusak ekosistem kelautan dengan denda sampai Rp 2 juta dan maksimum 10 tahun penjara. Semoga saja hal ini bisa menjadi peraturan resmi yang ditaati oleh penduduk setempat, terlebih bagi para pengunjung.

Dalam dua hari teori, saya diajarkan mengenai jadwal penyelaman, yaitu kedalaman dan waktu selam, seperti contoh di kedalaman 21 meter dengan waktu selam selama 40 menit, decompression stop, atau saat kita harus berhenti beberapa waktu saat kita selesai menyelam dan naik ke permukaan air, serta teknik-teknik serius menyelam lainnya. Kursus menyelam teori diakhiri dengan ujian yang harus dipenuhi sebelum melanjutkan ke praktik.

Dalam tiga hari praktik yang diadakan di kolam renang, saya dilatih bagaimana cara bernapas di dalam air menggunakan regulator dan juga memasang alat menyelam sendiri dengan benar. Enaknya di Indonesia, penyelam dimanjakan dengan dive-master yang siap membantu memasangkan peralatan selam untuk kita sehingga penyelam tinggal turun dan menyelam.

Pada hari kedua, di dasar danau, saya diajarkan teknik pembersihan masker, buddy-breathing seperti yang dilakukan Agnes dengan dive buddy-nya, dan memasang kembali alat selam yang sengaja dilepaskan di kedalaman delapan meter. Agak takut juga sebenarnya, tetapi untungnya saya berhasil melakukan praktik tersebut dengan baik. Hari ketiga adalah praktik menyelam di laut lepas, termasuk cara melompat dari kapal, cara mengatasi panik, dan bagaimana cara menyelam dengan aliran arus dan teknik penyelamatan diri di dalam air. Seru kan?

Hal yang penting lain yang perlu diperhatikan adalah kita harus dalam kondisi sehat seperti bebas asma, jantung, epilepsi, dan diabetes, serta juga bermental sehat, dan buang jauh-jauh rasa panik dan pikiran yang macam-macam. Tidak bisa berenang? Jangan khawatir. Kalau Anda berpikir Anda tidak bisa menyelam karena tidak dapat berenang, Anda keliru. Justru kalau Anda bisa "tenggelam", maka Anda dapat menyelam! Biarkan batas air laut perlahan naik melalui masker Anda dan perlahan tubuh tenggelam dari permukaan laut, dan tetap bernapas normal! Selanjutnya, pengalaman indah seumur hidup menanti Anda!

Menyelam dapat memberikan perasaan paling luar biasa yang pernah saya rasakan dan yang akan saya kenang selamanya. Siap mencoba? Ayo terjun ke laut dan melihat keindahan dunia alam bawah laut! (Nova Dien)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: