Sabtu, 1 November 2014

Travel / Travel Tips

Jadi "Tour Leader", Cara Keliling Dunia Gratis

Selasa, 23 Juli 2013 | 18:13 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - “Baru dari Padang kemaren empat hari. Bukan main deh indahnya Sumatera Barat itu ya. Lusa mau ke Hongkong,” kata Idfi Pancani.

Tidak seperti orang pada umumnya, Idfi yang sudah lima tahun menjalani profesi sebagai tour leader, sangat mudah menyebutkan kota–kota besar dunia sebagai tempat persinggahan. “Bisa tuh, sarapan di Dubai, ngopi sore di Italia,” ujar pria lulusan sekolah pariwisata NHI Bandung, Jawa Barat itu.

Tour leader adalah orang yang bertangung jawab memimpin rombongan turis perihal rute selama perjalanan, mulai berangkat sampai kembali lagi ke negera asa. Sementara, tour guide hanya bertanggung jawab menjelaskan tempat–tempat yang dikunjungi.

Tak jarang, tour leader juga merangkap sebagai tour guide. “Tour leader yang baik bukan hanya ngurusin bus dan penginapan, tapi juga harus bisa membawa suasana rombongan menjadi menyenangkan," kata Idfi.

Tak jarang, menurut Idfi, tour leader justru menjadi teman perjalanan yang baik bagi anggota rombongan. “Karena kan mereka juga capek di perjalanan. Nggak semua terbiasa dengan suasana baru apalagi di luar negeri," imbuhnya.

DOKUMENTASI PRIBADI Idfi Pancani bersama rombongan tour yang dipimpinnya.


Ketika ditanya alasannya menjadi tour leader, Idfi menjawab, ”Karena gue suka banget traveling. Gue mau keliling dunia”.

Kalau profesi ini ditekuni dengan serius, setiap bulannya tour leader bisa menghasilkan Rp 30-50 juta per bulan.

Namun yang paling penting adalah kemampuan berbahasa. Kalau bisa lebih dari satu bahasa asing selain Bahasa Inggris. “Biar makin dicari dan dibutuhin orang," ujarnya.

Senada dengan Idfi, Ira Latief yang baru dua tahun belakangan jatuh cinta pada profesi ini, mengaku, selain karena suka traveling, profesi tour guide adalah bagian dari aktualisasi rasa nasionalisme.

“Saya bisa melihat sudut pandang orang–orang asing tentang Indonesia,” kata Ira.

Menurut penulis buku “Normal Is Boring” ini, dia senang dan bangga bisa membawa dan menunjukkan tempat–tempat yang indah di Indonesia, serta ragam kulinernya.

Di belahan benua lain, Osman Meydan, sudah tiga tahun berprofesi sebagai tour guide di negara tujuan utama para turis dunia, Turki. Osman acap kali membawa turis asal Indonesia.

Osman Meydan mengaku tidak pernah bermasalah dengan turis Indonesia. “Buat mereka (turis Indonesia, red) tersenyum dan bantu mereka foto-foto, mereka sudah senang," kata Osman.

Menurut Osman, tidak jarang bertemu dengan turis yang keras kepala dan sulit diatur. Pria lulusan Universitas Belikesir ini mengatakan, profesi tour guide juga menjanjikan untuk masa depan.

“Bahkan profesi ini bisa dijalani sampai usia yang tidak muda lagi, sampai usia 40-45 tahun, bahkan lebih tua," katanya.

Demi meningkatkan kemampuan sebagai tour guide, mulai awal tahun 2013, Osman Meydan memberanikan diri pindah dari Kota Gerome (Kapadokia) ke kota yang lebih besar, Istanbul. Bagi Osman yang terpenting adalah selalu menjaga komunikasi yang baik dengan para turis.

“Memberikan pengertian dan informasi yang baik dan sopan maka orang juga akan senang dengan kita," pesan Osman.


Penulis: Fira Abdurachman
Editor : Glori K. Wadrianto