Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Astindo: Penerapan Protokol Kesehatan Dongkrak Pariwisata Domestik

KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meluncurkan program penerapan protokol kesehatan CHSE.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengingatkan, penerapan protokol kesehatan harus benar-benar dilakukan pelaku industri pariwisata guna mendongkrak pariwisata domestik saat ini.

“Destinasi wisata harus persiapkan diri untuk meyakinkan pengunjung. Bagaimana caranya? Dengan protokol kesehatan CHSE benar-benar diterapkan, jangan cuma pas iklan saja tapi beneran,” katanya.

Hal tersebut disampaikan oleh Pauline dalam TravelCast, podcast Kompas.com kanal Travel bertajuk “Update Industri Pariwisata bersama Astindo”, Kamis (22/10/2020).

Untuk perhotelan, jika sudah mempersiapkan diri dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, maka para tamu tidak perlu membersihkan ulang kamar yang disinggahi.

Sementara untuk area kuliner pinggir jalan, Pauline mengucapkan bahwa mereka juga perlu ditata dan dibenahi guna membuat nyaman wisatawan yang akan berlibur selama pandemi Covid-19.

Sebagai contoh, Pauline mengungkapkan soal area kuliner pinggir jalan yang menyajikan makanan lokal dan menjadi daya tarik khas destinasi wisata tersebut.

“Selama ini kita lihat mereka (pedagang) tangan yang menyajikan makanan dan ambil uang sama, tidak cuci tangan dan tidak pakai sarung tangan,” ujar Pauline.

“Misal ambil nasi campur tidak pakai sendok, langsung pakai tangan ke piring. Ini harus diperbaiki supaya orang percaya diri cicipi kuliner lokal dengan kebersihan yang sudah terjaga,” lanjutnya.

Berlakukan sanksi tegas

Selain CHSE, Pauline menambahkan bahwa pelaku usaha pariwisata harus tegas kepada wisatawan yang melanggar protokol kesehatan.

Jika terlihat ada wisatawan yang tidak menggunakan masker atau berkerumun, petugas wajib langsung menegur.

“Regulasi harus ditetapkan, ditegaskan. Kalau ada yang salah ya tegur saja. Tidak hanya di destinasi wisata, tapi kegiatan sehari-hari,” ucap Pauline.

Pauline menyarankan, pemerintah beri dan implementasikan sanksi yang tegas untuk membuat kapok masyarakat yang tidak taat akan protokol kesehatan.

Adapun, sanksi ringan seperti push up atau restoran yang memberi denda kepada pelanggar protokol kesehatan pun dirasa cukup untuk membuat jera.

“Disiplin dimulai dari setiap kelompok masyarakat, tidak dari (kelompok) tertentu. Kalau masyarakat lokalnya tidak patuh, wisatawan juga takut datang,” kata Pauline.

Masyarakat perlu diedukasi lebih lanjut

Salah satu contoh masyarakat yang melanggar protokol kesehatan adalah saat Pauline berkunjung ke salah satu tempat wisata beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, selama menonton sebuah acara pertunjukan, staf tempat wisata sudah mengimbau pengunjung untuk mematuhi aturan jaga jarak dan menempati kursi yang tidak ada tanda silang.

“Tapi orang Indonesia sukanya berkerumun. Sudah ada tanda silang tetap didudukin,” tutur Pauline.

Selanjutnya saat acara selesai, wisatawan langsung berbondong-bondong menuju pintu keluar tanpa mendengarkan arahan petugas.

Padahal, lanjut Pauline, arus keluar sudah diatur oleh petugas berdasarkan warna kursi penonton.

“Disiplinnya tidak ada. Di tempat makan, stiker petak kaki sudah jelas tapi tetap saling menempel barisnya. Perlu edukasi ekstra bagi wisatawannya juga,” pungkas Pauline.

Simak TravelCast, podcast kanal Travel Kompas.com bertajuk “Update Industri Pariwisata bersama Astindo”.

https://travel.kompas.com/read/2020/10/24/210500627/astindo-penerapan-protokol-kesehatan-dongkrak-pariwisata-domestik

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke