Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (10)

Kompas.com - 19/03/2008, 07:47 WIB

                                                                                                                                                                     [Tayang:  Senin - Jumat]


Selamat Datang ke Rumah Pamiri

Muhammad Bodurbekov, penumpang satu mobil dari Khorog, membawa saya ke rumahnya di Ishkashim. Rumah Muhammad adalah rumah tradisional Pamiri, dalam bahasa setempat disebut Chid. Karakteristik utamanya adalah adanya lima pilar penyangga ruangan, masing-masing melambangkan Muhammad, Ali, Bibi Fatima, Hassan dan Hussain. Angka lima melambangkan jumlah rukun Islam. Bentuk rumah seperti ini sama dengan rumah-rumah orang Ismaili di Pakistan Utara dan Afghanistan. Rumah adat Pamir sebenarnya sudah ada jauh sebelum datangnya Islam. Simbol-simbol Islam menggantikan simbol-simbol agama kuno Zoroastrian (Zardusht), di mana kelima pilar melambangkan dewa-dewa Surush, Mehr, Anahita, Zamyod, dan Ozar. 

Karakter lain rumah tradisional Pamir adalah adanya lubang jendela di atap, tempat menyeruaknya sinar matahari menyinari seluruh penjuru ruangan. Jendela ini bersudut empat, melambangkan empat elemen dasar: api, udara, bumi, dan air.

Dibandingkan rumah-rumah orang Tajik Ismaili di Pakistan dan Afghanistan, memang rumah di Tajikistan ini jauh lebih modern. Lubang di tengah ruangan sudah tidak lagi digunakan untuk memasak, tetapi lebih sebagai dekorasi saja. Dindingnya dicat rapi, dihiasi dengan karpet-karpet indah, poster, dan foto keluarga. Lantainya dari kayu, dipelitur mengkilap. Di setiap ruangan selalu dipasang foto Aga Khan, pemimpin spiritual Ismaili yang didewakan sebagai penyelamat hidup di GBAO. Ada lampu listrik yang menerangi di kala malam. Di Afghanistan dan Pakistan sana, orang masih bergantung pada lampu petromaks.

Orang Tajik yang tinggal di Pegunungan Pamir di propinsi GBAO ini memang berbeda dengan orang-orang di Dushanbe dan sekitarnya. Bahasa penduduk sini berasal dari bahasa kuno Sogdian, berbeda dengan bahasa Tajik yang mirip bahasa Persia. Agamanya pun berbeda. Di sini hampir semua orang Pamiri adalah penganut Ismaili, sedangkan orang Tajik adalah Muslim Sunni.

Dulu orang Pamiri dianggap etnis tersendiri, tetapi kemudian ahli etnografi Soviet, dengan alasan politik, menjadikannya bagian dari etnik Tajik. Sekarang orang Pamiri dikenal sebagai Tajik Pamiri, dan masih memelihara kekhasan bahasa, agama, dan kultur mereka.

Ketika saya memasuki ruangan rumah Pamiri ini, Muhammad serta merta menyiapkan kurpacha, karpet duduk, tepat di antara pilar Ali dan Nabi Muhammad. Saya harus duduk di atas kurpacha ini sambil menyeruput teh yang dihidangkan. Bagi tuan rumah, ini adalah lambang penyambutan tamu. Bagi tamu, duduk di atas kurpacha melambangkan syukur dan terima kasih atas kebaikan tuan rumah.

Sebagai pekerja sosial, Muhammad punya banyak cerita. Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia berkisah tentang modernitas yang membuat orang-orang Ismaili Tajikistan lebih maju daripada saudara-saudara seiman di Afghaistan dan Pakistan. Adalah orang Rusia yang memajukan pendidikan di daerah terpencil ini. Pendidikan adalah kunci utama kemajuan. Bahkan Rabindranath Tagore, pujangga India yang termasyhur yang mengunjungi Rusia tahun 1930'an pun mengungkapkan kekagumannya. "Ketika menginjakkan kaki di bumi Rusia, hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah di bidang pendidikan, dalam tingkat mana pun, mulai dari petani hingga buruh, semuanya membuat kemajuan luar biasa dalam hitungan beberapa tahun teakhir ini. Mereka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kelas tertinggi dalam masyarakat (India) kami dalam kurun waktu seratus lima puluh tahun sekalipun. Orang Rusia bahkan tidak takut untuk memberikan pendidikan seutuhnya bahkan bagi bangsa Turkmen di pedalaman Asia."

Penduduk Tajikistan sangat berbangga dengan tingginya taraf pendidikan di sini. Walaupun negaranya miskin, semua orang di sini melek huruf. Semuanya memakai pakaian ala Barat yang terkadang dihiasi topi dan kerudung tradisional.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com